
Dalam sejarah musik hardcore, luapan-luapan amarah yang disampaikan melalui lirik-lirik resisten yang dipadukan dengan scream tidak hanya sekadar suara-suara bising belaka. Kombinasi liri, distorsi gitar, tempo agresif, dan teriakan vokal menjadi medium ekspresi bagi keresahan sosial masyarakat kelas menengah yang tidak mendapatkan tempat di ruang-ruang formal. Musik sering kali menjadi media alternatif ketika kritik dianggap terlalu kaku untuk didengar dalam forum formal. Berbicara mengenai konteks tersebut, band metal asal Indonesia, Down For Life menciptakan salah satu karya masterpiece mereka, yakni lagu “Pasukan Babi Neraka” yang dapat dijadikan sebagai metafora politik.
“Pasukan Babi Neraka” memang terdengar provokatif, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. “Pasukan Babi Neraka” diibaratkan sebagai label yang diberikan kepada mereka yang dianggap liar, radikal, atau berbahaya. Dalam banyak situasi sosial-politik, stigma semacam ini kerap dikaitkan pada kelompok yang berani mempertanyakan narasi-narasi yang diproduksi oleh hegemoni kekuasaan. Sayangnya, ketika pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul, respons yang diterima sering kali defensif. Kritik dianggap tidak memahami kompleksitas geopolitik. Tuntutan transparansi dipersepsikan sebagai ketidakpercayaan. Padahal, dalam negara demokratis, pertanyaan adalah bagian dari partisipasi, bukan ancaman terhadap stabilitas. Menguji kebijakan bukan berarti menentang pemerintahan. Justru itu tanda bahwa rakyat yang mengkritik ingin negara bekerja lebih baik.
Salah satu lirik dalam lagu ini berbunyi: “Kami membawa api.” Api dalam konteks ini dapat dibaca sebagai simbol kesadaran. Api, bisa menjadi metafora mewakili kemarahan, api juga disimbolkan sebagai daya hidup yang menolak apatisme. Dalam tradisi kritik sosial, api sering dimaknai sebagai sesuatu yang menerangi ruang gelap. Ruang yang sebelumnya tertutup oleh narasi-narasi kekuasaan yang tampak rapi, tetapi sering kali menyembunyikan ketimpangan. Melalui metafora ini, lagu “Pasukan Babi Neraka” menegaskan bahwa kemarahan publik tidak selalu destruktif. Kemarahan publik justru bisa menjadi energi yang mendorong lahirnya kesadaran kolektif di tengah masyarakat yang tertindas.
Lirik lain yang berbunyi “Kami takkan mati” menghadirkan makna yang tak kalah penting. Pernyataan ini terdengar seperti sumpah kolektif bahwa suara kritik tidak pernah benar-benar dapat dibungkam. Dalam kehidupan politik modern, kritik sering kali dianggap sebagai gangguan terhadap stabilitas kekuasaan. Dalam kondisi terkini di Indonesia, mereka yang mempertanyakan prioritas negara dituduh tidak memahami kompleksitas geopolitik. Bahkan, dicap tidak nasionalis. Namun kenyataannya, suara-suara yang dianggap berisik selalu menemukan cara untuk bertahan melalui perpindahan medium dari ketidakberterimaan dalam forum formal ke karya-karya seni.
Di titik inilah musik menjadi ruang yang penting. Ketika meja perundingan terlalu eksklusif dan mikrofon hanya diberikan kepada segelintir elite, musik menawarkan alternatif panggung untuk berekspresi. Musik tidak membutuhkan legitimasi institusional untuk menyampaikan kritik. Musik berbicara melalui emosi, metafora, dan energi kolektif yang lebih jujur dibanding pidato-pidato resmi.
Satu di antara pemikir Mazhab Frankfurt, Theodor Adorno, pernah menjelaskan bahwa dalam masyarakat modern industri budaya berfungsi untuk menenangkan masyarakat agar tidak mempertanyakan struktur kekuasaan. Produk budaya massal kerap dibuat seragam dan mudah dikonsumsi sehingga publik menjadi penikmat pasif yang tidak terdorong untuk berpikir kritis (Adorno & Horkheimer, 2002). Namun, di luar industri budaya pop culture yang terstandarisasi itu, muncul subkultur yang bergerak ke arah sebaliknya. Musik metal, punk, atau hardcore menjadi ruang di mana emosi sosial yang tertekan menemukan cara untuk melampiaskan.
Dalam konteks itu, band Down For Life dalam lagunya, “Pasukan Babi Neraka” sebagai bentuk ekspresi yang menolak untuk tunduk pada narasi kekuasaan yang terlalu steril. Distorsi gitar dan lirik yang agresif justru membuka ruang bagi pengalaman sosial yang sering diabaikan.
Antonio Gramsci juga menawarkan cara lain untuk memahami fenomena ini melalui konsep hegemoni. Kekuasaan tidak hanya dipertahankan melalui kekuatan politik atau ekonomi, tetapi juga melalui dominasi budaya dan cara berpikir yang dianggap wajar oleh masyarakat (Gramsci, 1971). Ketika suatu narasi politik diterima tanpa banyak dipertanyakan, belum tentu keberterimaan tersebut dinilai sepenuhnya benar. Justru hal tersebut telah menjadi bagian dari kesadaran kolektif yang dikonstruksi oleh kekuasaan.
Dalam situasi seperti itu, bentuk-bentuk kritik melalui musik dapat menjadi cara untuk melawan hegemoni kekuasaan. Lagu -lagu metal yang berbicara tentang kemarahan kolektif dijadikan sebagai media untuk menyalurkan emosi dan membuka kemungkinan bagi publik untuk melihat realitas dari sudut pandang yang berbeda.
Dalam lirik “Bakarlah surga” dapat dibaca sebagai metafora yang menggugat moralitas simbolik yang sering dipakai untuk membenarkan kekuasaan. Dalam praktik politik kekuasaan, bahasa-bahasa moral kerap digunakan untuk membungkus kebijakan agar tampak luhur. Perdamaian, stabilitas, atau keamanan sering diulang sebagai mantra legitimasi. Namun, di balik retorika tersebut, pertanyaan tentang siapa yang benar-benar merasakan manfaatnya sering kali tidak pernah dijawab secara jujur.
Oleh karena itu, kemarahan-kemarahan dalam musik hardcore tidak selalu berarti kehancuran. Hal tersebut bisa menjadi bentuk kritik moral terhadap kemunafikan politik. Musik dapat menjadi pengingat bahwa bahasa kekuasaan yang terdengar suci tidak selalu sejalan dengan pengalaman konkret di dalam masyarakat.
Pada akhirnya, “Pasukan Babi Neraka” tidak sekadar menghadirkan estetika metal yang keras dan agresif. “Pasukan Babi Neraka” juga menawarkan refleksi tentang bagaimana suara-suara yang dianggap terlalu berisik justru membawa pertanyaan yang paling penting: pertanyaan tentang prioritas, tentang keadilan, dan tentang siapa yang benar-benar diwakili oleh narasi besar yang diproduksi hegemoni kekuasaan.
Barangkali, dalam teater moralitas kekuasaan, mereka yang dicap sebagai “Pasukan Babi Neraka” hanyalah sekelompok orang yang menolak diam. Mereka memilih tetap membawa api untuk menerangi ruang-ruang gelap yang terlalu lama dibiarkan tak terlihat.
Daftar Pustaka
Adorno, Theodor W., & Horkheimer, Max. (2002). Dialectic of Enlightenment: Philosophical Fragments. Stanford: Stanford University Press.
Gramsci, Antonio. (1971). Selections from the Prison Notebooks. New York: International Publishers.
Penulis: Syifa Ulhusna Syahputri, mahasiswi Magister Sastra Universitas Gadjah Mada. Fokus pada kajian seputar kesusastraan Indonesia mengenai isu-isu gender, kelas, ekologi, dan politik. Instagram: syifaulhusnass.
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan