
Di tengah lanskap tandus dan ketertinggalan yang selama ini lekat dengan Kabupaten Gunungkidul, sekelompok anak punk dari Padukuhan Kalangan justru memilih hidup dan menghidupi dari stigma tersebut. Mereka memilih jalan mereka sendiri dengan cara menanam. Menanam untuk hidup dan menanam untuk berbagi dengan warga sekitar dari hasil panen sendiri. Dari menanam mereka bisa berdaya dan memberdayakan di tengah situasi negara yang tidak stabil.
Dalam sebuah berita, komunitas anak punk di Gunungkidul yang akrab disapa SiBagz ini mengelola pertanian organik sekaligus mengajak anak-anak muda untuk kembali melihat pertanian sebagai ruang bagi sumber kehidupan. Di tengah arus urbanisasi yang terus menghisap ekosistem desa, bertani dan menanam dinilai sebagai langkah yang terbelakang. Namun, dari label terbelakang itulah letak resistensi yang mereka lakukan.
Dalam konteks itu, menjadi petani di Indonesia kerap dilabeli sebagai kegagalan modernitas: kampungan, tertinggal, dan tidak progresif. Anak-anak muda didorong untuk keluar dari desa lalu masuk ke logika urban industrial. Namun, komunitas punk di Gunungkidul ini justru melakukan sebaliknya: mereka memilih tinggal dan bertahan di desa.
Selama ini, subkultur punk sering dipahami melalui ekspresi visual, seperti tatto, tindik, style rambut mohawk, musik keras, dan sikap anti kemapanan. Padahal secara teoritis, punk adalah praktik resistensi terhadap hegemoni. Subkultur punk berdiri di atas satu prinsip sederhana: menolak untuk tunduk pada sistem. Dalam kerangka Antonio Gramsci, dominasi kuasa bekerja melalui hegemoni dan kesepakatan sosial tentang apa yang dianggap mapan dan tidak mapan. Mirisnya, sudah sejak lama arti kemapanan diartikan dengan cara meninggalkan desa: pergi ke kota lalu seseorang akan menjadi sukses dengan mengadu nasib di perkotaan. Sukses diartikan dengan tidak lagi menetap di desa dengan mengandalkan pertanian.
Maka yang dilakukan SiBagz, anak-anak punk Gunungkidul yang memilih berdaya sebagai petani adalah cara mereka mendobrak konstruksi hegemoni yang selama ini dibangun untuk kepentingan dan keuntungan dominasi kuasa semata. Kerja-kerja pertanian yang mereka lakukan ini dapat ditafsirkan melalui kacamata James C. Scott sebagai everyday forms of resistance atau perlawanan yang tidak gaduh, tetapi terus berlangsung. Menanam menjadi tindakan politis karena mereka keluar dari logika kerja upahan. Mereka membangun ekonomi kolektif dan mendistribusikan hasil untuk kesejahteraan sekitar, bukan menimbunnya untuk keuntungan pribadi, seperti prinsip-prinsip kapitalis selama ini.
Hasil panen yang mereka dapatkan digunakan untuk membantu warga. Bahkan, disebut dapat membantu untuk membangun rumah. Dari hal tersebut, mereka sedang mempraktikkan apa yang disebut sebagai moral economy: ekonomi yang berpihak pada keberlangsungan hidup bersama yang tidak terpaku pada akumulasi kapital. Di sini, tanah atau lahan pertanian berfungsi sebagai sumber pangan dan alat untuk merebut kembali kendali dan daulat atas diri mereka sendiri.
Sejak dulu, Gunungkidul dilabeli sebagai kabupaten dengan stigma wilayah kering dan tertinggal. Sebuah tempat yang harus ditinggalkan jika ingin meraih kemapanan. Namun, SiBagz telah berhasil membalik narasi itu. Mereka melihat wilayah yang terstigma kering dan tertinggal justru sebagai kemungkinan. Mereka mengolah lahan, membangun jaringan, dan menciptakan sistem hidup yang tidak tunduk pada hegemoni kuasa. Di tangan mereka, Gunungkidul berubah dari stigma kemelaratan menjadi strategi aktif untuk bertahan hidup.
Resonansi dari praktik ini juga terasa dalam karya-karya Farid Stevy, seorang seniman asal Gunungkidul, vokalis dari band lokal FSTVLST. Dalam lagu berjudul “Hujan Mata Pisau” ada satu lirik yang terasa seperti gema dari apa yang dilakukan komunitas punk Gunungkidul, SiBagz, yakni “keberanian yang menyelamatkan”. Keberanian untuk tidak mengikuti arus utama. Keberanian untuk tetap hidup dengan cara mereka sendiri. Jika Farid Stevy menerjemahkan perlawanan dalam lagu-lagunya, komunitas punk ini menerjemahkannya dalam kerja-kerja kolektif yang berbasis lokal. Keduanya saling bertemu dari titik awal yang sama sebagai pemuda dari Gunungkidul menuju keberanian untuk terus berdaya.
Apa yang dilakukan Farid Stevy sebagai seniman dan komunitas punk Gunungkidul sebagai pionir kembalinya semangat untuk bertani berhasil merebut kembali makna hidup itu sendiri. Di tengah sistem yang memaksa para anak muda untuk pergi meninggalkan tanah mereka sendiri, mereka memilih untuk tinggal. Di tengah logika kapitalisme, mereka memilih untuk berbagi rasa. Di tengah stigma kemelaratan terhadap petani, mereka memilih sejahtera dengan menjadi petani.
Dari metafora lagu “Hujan Mata Pisau” barangkali memang dibutuhkan keberanian yang akan menyelamatkan untuk berani bertahan dengan cara yang berbeda. Dari tanah yang selama ini dilabeli kering dan gersang, dari kehidupan yang ditempa oleh keterbatasan, justru lahir keberanian yang tidak banyak dimiliki: keberanian untuk bertahan tanpa tunduk pada budaya populer. Dari Gunungkidul, kita belajar bahwa kerasnya alam tidak melahirkan kepasrahan, tetapi daya untuk terus berani berupaya. Anak-anak mudanya tidak sekadar hidup, mereka berdaya, berdiri di atas kaki sendiri, dan membuktikan bahwa hidup tidak harus bergantung pada belas kasih sistem kapitalis. Dari tanah inilah tumbuh generasi yang memilih jalannya sendiri dengan cara menanam, berbagi, dan berdaya tanpa harus mengemis pada tangan-tangan kapitalis.
Penulis: Syifa Ulhusna Syahputri, mahasiswi Magister Sastra Universitas Gadjah Mada. Fokus pada kajian seputar kesusastraan Indonesia mengenai isu-isu gender, kelas, ekologi, dan politik. Instagram: syifaulhusnass.
Daftar Pustaka
Kompas.com. (2026). Kisah petani punk Gunungkidul: bertani organik agar petani generasi muda tidak hilang. https://yogyakarta.kompas.com/read/2026/04/14/160458378/kisah-petani-punk-gunungkidul-bertani-organik-agar-petani-generasi-muda
Scott, J. C. (1985). Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance. Yale University Press. http://www.jstor.org/stable/j.ctt1nq836
Thompson, E. P. (1971). The Moral Economy of the English Crowd in the Eighteenth Century. Past & Present. Volume 50, Issue 1, February 1971, Pages 76–136, https://doi.org/10.1093/past/50.1.76
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan