Anime-Manga, Membaca, & Negara: Pleidoi Singkat Seorang Wibu

Sumber: Unsplash

1

Sore itu Tono menamatkan My Hero Academia anggitan Kohei Horikoshi dan mau mandi. Tapi, salah seorang adik kelas di pesantren tempat Tono belajar tiba-tiba mendatanginya. Ia berusia pertengahan kelas satu sekolah menengah pertama, bernama Sarimin, dan jelas sedang murung. Di atas kepalanya, persoalan tampak seperti mendung menggantung.

Pak Paidi ngelarang baca Attack on Titan, Kang. Begitu ucap Sarimin. Nggak ada gunanya katanya, nggak mendidik.

Tono tersenyum membayangkan bahwa anggapan buku pelajaranlah satu-satunya bacaan yang mendidik masih menjangkiti sebagian guru di tanah airnya. Tono lalu bertanya anime-manga apa yang sudah Sarimin tonton dan baca. Jawabannya membuat Tono mengangkat alis: Tokyo Ghoul, Death Note, Attack on Titan, One Piece, Jujutsu Kaisen, dan Naruto.

Tono sedikit kaget dan tanpa sadar bertanya: Udah kamu tamatin semua itu? 

Sarimin mengangguk dan Tono sejenak kehilangan kata. Sebagai santri lawas, Tono tahu betul seperti apa sulitnya membaca manga—apalagi menonton animenya. Kultur di pesantren tidak mendukung kegiatan itu.

Emang bener, Kang, baca Attack on Titan nggak ada gunanya?

Tono menghela napas, tak tertarik menjawab. Sebab, bagi Tono jawabannya sejelas hasil penjumlahan 2 + 2. Bahwasanya, membaca apa pun, termasuk komik, adalah baik, adalah berguna, adalah mendidik. Tono selalu yakin: membaca komik dapat mengantarkan seseorang kepada bacaan-bacaan lainnya. Setidaknya, harapan untuk itu ada. Itu yang terjadi pada Tono. Itu yang terjadi pada beberapa kawan Tono. Dan itu yang memberinya kesadaran untuk tidak sudi memilih satu-satunya paslon bernomor urut genap tahun lalu.

Sumber: Pinterest

2

Tono sepenuh hati meyakini faedah membaca. Demi surga, itu lebih baik dilakukan seorang santri sekaligus siswa SMP agar tak meneladani wakil presiden yang tanpa malu mengaku tak suka membaca, tapi tak segan maju mengemban tanggung jawab menyejahterakan rakyat di suatu negara. Meski begitu, Tono tak mengatakan itu. Tono ingin Sarimin mengalami sendiri pengalaman membaca. Itu sebabnya, Tono kembali bertanya: 

Tokoh favoritmu siapa, Min?

Eren.

Lainnya?

Nggak ada. 

Levi?

Sarimin menggeleng.

Tono diam saja, tak khawatir Sarimin terjangkiti Main Character Syndrome, meski itu sangat mungkin. Dari riwayat bacaannya, jelas sekali Sarimin telah bertemu dengan banyak tokoh-tokoh utama yang bisa membuatnya tanpa sadar merasa dirinya adalah sosok semacam Ken atau Naruto. Keduanya protagonis, mencita-citakan kedamaian, dan memperjuangkan apa yang diimpikan. 

Memang itu terdengar cukup bagus, tapi Tono tak tertarik. Alih-alih, Tono justru ingin lebih tahu apakah Sarimin memahami alam pikir mereka-mereka yang kerap disebut sebagai penjahat, villain, antagonis, atau semisalnya. 

Tono pun berkata: Tapi Eren kan jahat. Masa kamu jagoin dia?

Tapi dia kan jahat karena terpaksa, Kang. Dunia yang bikin dia jadi gitu.

Mendengarnya, membuat Tono terhenyak. Jawaban itu tentu tidak salah. Bagaimanapun, lakon Attack on Titan tersebut menjadi musuh seluruh dunia karena ingin orang-orang yang disayanginya hidup bahagia. Persoalannya, di satu sisi, impian tersebut seakan-akan tak diizinkan oleh dunia untuk terealisasi. Egoisme, keserakahan, ketidakpedulian, dan bobroknya pelaku sistem pemerintahan menghalangi cita-cita Eren yang sebetulnya sangat sederhana itu. 

Terus kalau di Jujutsu Kaisen, kamu suka siapa?

Geto, jawab Sarimin tanpa ragu.

Geto? Geto Suguru? 

Sarimin mengangguk dan Tono lagi-lagi mengangkat alisnya.

Kenapa? Tono bertanya, setengah tak percaya.

Dia nggak munafik kayak para petinggi jujutsu, Kang.

Tono menghela napas dan sedikit tersenyum. Lagi-lagi, adik kelas di pondoknya itu menyinggung ketidaksenangannya pada pejabat. Sarimin belum genap tiga belas tahun. Barangkali, dia pun belum balig meski bisa saja mengaku-ngaku sudah. Walakin, jawaban-jawabannya seperti menunjukkan bahwa ia dapat merasakan jijiknya intrik kepentingan di mana banyak hal dikendalikan oleh segelintir orang yang memiliki kendali dan kuasa besar di bawah naungan institusi, seperti Kyoto Sister School dan Tokyo Metropolitan Magic Technical College.

Hakulyakin, Tono tahu pasti Sarimin belum pernah belajar tentang politik, apalagi tentang relasi kekuasaan dan kontrol sosial. Tapi, nalar anak-anaknya seperti telah menangkap apa yang pantas dikritik: kekuasaan yang kerap tak memandang masyarakat sebagai kumpulan individu unik, melainkan sebatas pion yang dapat diperlakukan seturut kepentingan yang menguntungkan pemangku jabatan.

Pula, tanpa belajar teori konflik sosial Karl Marx, Sarimin juga seperti dapat menangkap logika di balik pemberontakan Geto Suguru. Sebab, alih-alih begitu saja menilainya sebagai suatu gerakan ekstremis yang patut dikutuk sampai tujuh turunan, Sarimin justru bersimpati pada apa yang dilakukan mantan rekan Gojo Satoru itu. Meski memang tak bisa menjelaskan, tapi Sarimin seperti paham bahwa perlawanan Geto itu merupakan konsekuensi dari suatu tatanan sosial yang dipengaruhi kepentingan segelintir kelompok dengan mengorbankan orang-orang kecil.

3

Memikirkannya, Tono jadi merasa bahwa dalam diri adik kelasnya itu mengalir darah pemberontak. Tono senang dan diam-diam ingin ikut memupuknya. 

Kamu pernah baca novel, Min?

Sarimin menggeleng.

Kenapa?

Nggak tahu novel apa yang bagus, Kang.

Novel-novel Tere Liye itu banyak yang suka. Nggak pengen baca?

Pernah baca dikit, pinjem temen, tapi nggak suka.

George Orwell itu bagus, Min. Aku punya bukunya kalau mau baca.

Sarimin menoleh dan Tono melihatnya sebagai kesempatan. Dijelaskannyalah bahwa George Orwell adalah penulis Inggris yang terutama terkenal karena dua mahakaryanya, Animal Farm dan 1984

Kalau Animal Farm tipis, Min. Bisa dibaca sekali duduk. Ceritanya kayak fabel modern gitulah. Lucu, tapi sebenernya nyampein kritik sosial-politik. Kalo 1984 tebel. 500-an halaman. Sama-sama nyeritain kritik sosial-politik, tapi nggak ada lucu-lucunya. Vibes suasananya serba gelap, seragam, dan monoton kayak Equilibrium, film agak lawas tahun 2002 kalau kamu pernah nonton.

Sarimin masih menyimak dan itu membuat Tono kian bersemangat berceramah tentang buku-buku yang pantas Sarimin baca sebelum mati. Tono menceritakan Tetralogi Buru yang ditulis Pramoedya di dalam penjara, tentang Sang Pemula, tentang Arok Dedes dan Arus Balik. Tono menceritakan tentang cerita sangat pendek Italo Calvino, “The Black Sheep”. Tono menceritakan tentang lima jilid Penangsang-nya NasSirun Purwokartun. Tono menceritakan tentang Pulang dan Laut Bercerita-nya Leila Chudori.

Tak berhenti mengkhotbahkan kisah-kisah tentang politik dan kekuasaan, Tono lanjut menceritakan tentang buku-buku yang menggali rumitnya sisi psikologis manusia. Tono menceritakan tentang Dostoevsky dengan Crime and Punishment, The White Nights, dan The Brothers Karamazov-nya. Tono menceritakan tentang Franz Kafka dengan The Metamorfosis, The Trial, dan Letter from Underground-nya. Tono juga menceritakan tentang Osamu Dazai dengan No Longer Human-nya.

Tak puas dengan itu, Tono ingin Sarimin tahu tentang perang. Tono pun menceritakan Night-nya Elie Wiesel, Jalan Tak Ada Ujung-nya Mochtar Lubis, Keluarga Gerilya dan Revolusi + Subuh-nya Pramoedya, serta War and Peace-nya Leo Tolstoy. Agar lebih paripurna, Tono mengakhirinya dengan menjelaskan:

Dan kamu, Min, harus pandai menertawakan kemiskinan. Dan tak ada yang mengalahkan John Steinbeck dalam membalut tragedi itu dengan komedi. Kamu musti baca Of The Mice and Men, juga Tortilla Flat. Getir. Tragis. Tapi bikin ngakak. Kalau kamu tertarik, kapan-kapan tak pinjemin. Meski begitu, Sri Sumarah dan Bawuk karya Pak Kayamlah yang tepat kamu baca kalau pengen tahu kekuatan pasrah yang tidak menyerah dalam menghadapi brengseknya kehidupan.

Tono masih hendak menceritakan buku-buku lain. Bartleby the Scrivener Herman Melville, Rumah Kertas Maria Dominguez, Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang Luis Sepulveda, dan seterusnya. Tapi, melihat tanda tanya di mata Sarimin, Tono menginsyafi betapa telah berlebihannya ia. Alih-alih mendengarkan cerita Sarimin tentang persoalan yang sedang dihadapinya, Tono justru membombardir adik kelasnya itu dengan daftar buku yang haram tak dibaca sebelum kiamat tiba.

4

Menyadari kekhilafan itu, Tono menarik napas dan terdiam, memandangi Sarimin yang melihat ke arahnya dengan tatapan bocah yang usianya belum genap 13 tahun. Sungguh, Tono merasa apa yang baru saja dilakukannya tidaklah pada tempatnya. Tono terbawa euforia. Tono terseret pikirannya sendiri dan dengan serampangan menduga Sarimin memiliki bakat menjadi seorang revolusioner.

Tono tersenyum kecil dan berusaha mengalihkan pembicaraan: Kalau di Naruto, tokoh mana yang kamu senengin?

Lagi-lagi, tanpa berpikir dua kali, Sarimin berkata: Madara.

Madara? Madara Uchiha?

Sarimin mengangguk-angguk. Tono menghela napas, tapi tak lagi ingin terlalu jauh membayangkannya sebagai pertanda bahwa kelak adik kelasnya di pondok itu akan menjadi seorang yang lantang-garang di hadapan rezim. Tono berusaha mawas diri dan tak mau mendahului rahasia takdir. Meski saat ini negerinya memang sedang gelap gempita, tapi Tono menahan diri untuk tidak menerka masa depan adik kelasnya.

Tapi toh Tono tak mampu menahan godaan untuk tidak menggelitik kepala Sarimin. Sebab, negara memberinya terlalu banyak alasan untuk melakukan itu: Nepotisme terang-terangan, pelintiran undang-undang berbasis kepentingan, politik balas budi, hukum yang tumpul ke atas tajam ke bawah, represi kebebasan berekspresi pelukis, pegiat teater, dan musisi, kebijakan-kebijakan ngawur yang menyulitkan rakyat, komentar dan tingkah-polah pejabat yang memuakkan, dan blablabla sejenisnya.

Tidak aneh jika tak sedikit yang menginginkan revolusi. Dan barangkali, diam-diam banyak yang tak keberatan dengan munculnya sosok semacam Eren dengan rumbling-nya untuk meruntuhkan sistem buruk yang kadung mengakar. Jika itu terlalu ekstrem, Light Yagami bolehlah menuliskan nama-nama koruptor ke death note yang ia bawa.

Sumber: Pinterest

Tono pun meraih gawainya. Tono menyalakannya. Tono membuka YouTube di sana. Tono asal-asalan mengetik Pain shinra tensei. Tono dan Sarimin lalu menyimak bersama monolog legendaris pemimpin Akatsuki ketika menginvasi Konoha yang korup pejabatnya itu:

Aijou ga aru kara koso [Setiap perasaan cinta]

Gisei ga umare [melahirkan pengorbanan]

Nikushimi ga umare [yang akan melahirkan kebencian]

Itami wo shiru koto mo dekiru [hingga kau dapat memahami rasa sakit]

Itami wo kanjiru [merasakan rasa sakit]

Itami wo kangaeru [memikirkan rasa sakit]

Itami wo uketore [menerima rasa sakit]

Itami wo shire [serta mengetahui rasa sakit.]

Itami wo shiranu mono ni [Orang yang tidak memahami rasa sakit]

Hontou no heiwa wakaran [tidak akan mengerti kedamaian yang sebenarnya.]

… 

Koko yori [Dan sekarang]

Sekai ni itami wo [dunia harus merasakan rasa sakit.]

Shinra tensei.

Apakah Sarimin memahami ngerinya negeri saat ini, apakah Sarimin memahami relevansinya dengan arti monolog itu, Tono tak tahu. Yang pasti, Tono merasa Sarimin perlu mendengarnya, perlu membaca artinya, meski entah nanti untuk apa dan akan bagaimana. 

Mlangi, 21-23 Februari 2025

 

Biodata Penulis:

Syafiq Addarisiy, Bidang Kurikulum Program Kitab Kuning Komplek Madrasah di PP. Assalafiyyah, Mlangi, dan alumnus Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Senang mendengarkan musik, menonton film, menulis, dan membaca. Aktif di Komunitas Susastra dan Sindikat Muda, Liar, Ngantukan. Beberapa tulisannya tersiar di Koran Tempo, Kompas.id, Jurnal Kalam Sastra, Suara Merdeka, Bacapetra.co, Basabasi.co, Minggu Pagi, Koran Radar Selatan, Majalah Sastra Kandaga, dan lain-lain. Dapat dihubungi melalui surel: addarisiy13@gmail.com dan Instagram: @syafiqaddarisiy.

Check Also

Apa Sih Hubungan Kemiskinan dan Kesehatan Mental?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *