
Entah bagaimana sejarahnya Bunda Literasi ini kemudian perlahan mulai eksis, khususnya di kalangan pemerintahan dan pejabat OPD, dan bagaimana cara menentukan dan menilai apakah seseorang itu berhak menyandang gelar bunda literasi atau tidak itu belum jelas, atau bahkan tidak jelas sama sekali. Apakah ini hanya ingin terlihat wow saja, fenomena di mana seseorang yang sebelumnya tak pernah sekalipun bersentuhan dengan dunia literasi, atau minimal senang membaca buku, tiba-tiba didapuk menjadi Bunda Literasi. Eh ternyata dan ternyata, bunda literasi ini otomatis akan disematkan kepada mereka yang menjadi istri bupati, atau istri pejabat yang berkepentingan dengan program literasi itu sendiri.
Di titik ini seharusnya kita bisa melihat, bahwa hal ini begitu politis, memang apa dan bagaimana cara menilai atau ukuran seseorang itu bisa dianggap sebagai bunda literasi, atau ibu dari literasi. Ini tentu saja membutuhkan penilaian dan tahapan yang panjang sebelum menentukan seseorang itu layak atau tidak menyandang gelar terpuji tersebut.
Bukan hanya soalan prestise, keangkuhan, dan semacam ketinggian hati ketika dikenal serta menyandang gelar sebagai bunda literasi. Tapi bunda literasi ini juga harus benar-benar memberikan teladan kepada anak-anaknya, untuk mencintai buku dan ilmu pengetahuan. Tapi di lapangan ternyata tidak, orang yang seumur hidupnya tidak pernah membaca buku sekalipun, asalkan ia istri bupati atau istri pejabat, akan diberikan gelar kehormatan sebagai Bunda Literasi. Tentu saja ini sangat politis, dan problematik, mulai dari istilahnya, penilaiannya, dan kinerja dari Bunda Literasi itu sendiri yang hanya mempromosikan acara literasi di kotanya, tanpa pernah benar-benar mendalami dan menyelami apa itu arti literasi sesungguhnya.
Beramai-ramai orang jadi gandrung akan dunia literasi, tanpa tahu apa makna sebenarnya dari literasi itu sendiri. Melek literasi bukan hanya persoalan bisa baca dan tulis semata, namun lebih jauh dari itu, orang yang sudah melek literasi artinya juga sudah harus melek dengan ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan kengawuran-kengawuran yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Orang yang melek literasi itu harus kritis dalam melihat sebuah fenomena, tidak menelan mentah-mentah sebagai sebuah kebenaran. Tapi selalu skeptis dan kritis dalam memandang dan melihat sesuatu. Salah satunya adalah melihat fenomena Bunda Literasi ini.
Jadi jangan mau dibohongi oleh istilah atau gelar yang demikian prestisius dan tinggi, tapi kinerja dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat nol. Bunda Literasi harus benar-benar menunjukkan perhatian dan suri tauladannya kepada anak-anaknya, kepada masyarakatnya. Tanggung jawab dan tugas dari Bunda Literasi itu tidak hanya berhenti pada promosi di medsos terkait pentingnya literasi, atau pentingnya acara literasi, tapi juga mau menemani dan membimbing anak dari nol, membimbing masyarakatnya yang tidak tahu menjadi tahu. Ini tanggung jawab yang besar, jika mengacu pada pengertian dan konsep Bunda Literasi yang ideal, yakni konsepnya berakar kuat pada peran ibu dalam menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini di lingkungan keluarga. Bahwa gerakan ini berawal dari kesadaran akan pentingnya literasi yang harus dimulai dari rumah dan memerlukan tokoh panutan untuk mewujudkannya. Jadi Bunda Literasi yang sesungguhnya ya ibu-ibu yang di rumah itu, yang mengajarkan dan mendidik anaknya agar mencintai buku dan ilmu pengetahuan.
Jadi Bunda Literasi bukan hanya gelar yang disematkan secara ngawur, janjian atau sesukanya, seenaknya, dan sekenanya. Tapi harus ada tanggung jawab moral dan sosial yang mengikutinya. Dan bagaimana semua tanggung jawab yang mulia ini akan berjalan ketika kita hanya melihat Bunda Literasi di kota-kota dan daerah-daerah hanya menjalankan peran Bunda Literasi sebagai tempelan semata, hanya karena suaminya bupati, atau pejabat, Si istri langsung otomatis mendapat gelar dan julukan Bunda Literasi, ngawur betul. Maka tidak ada urgensinya sama sekali terhadap perkembangan literasi di suatu daerah. Bunda Literasi yang hanya menjadi tempelan semata, ketika tinggal di sebuah daerah yang bobrok maka tetap akan bobrok juga, begitu pula sebaliknya, di sebuah daerah yang kesadaran literasinya sudah tinggi, bahkan gelar Bunda Literasi ini tidak diperlukan sama sekali, ia hanya tinggal sebagai pethetan , hiasan semata.
Maka untuk memilih, mengangkat, dan mendapuk seseorang itu menjadi Bunda Literasi, harus melewati tahapan penilaian dan ujian tertentu terlebih dahulu. Tidak ujug-ujug langsung dipilih tanpa melihat urgensi dan usaha apa yang telah dilakukannya untuk kemajuan masyarakat.
Bunda Literasi tanpa pernah memiliki tanggung jawab sosial dan kewajiban untuk mencerdaskan anak bangsa. Ia hanya tinggal sebagai gelar kosong, alat pemenuhan nafsu ingin diakui sebagai sosok yang penting, tanpa pernah benar-benar memberikan kontribusi yang nyata kepada masyarakat, ia hanya tinggal sebagai alat kekuasaan, alat pemenuhan ego, keangkuhan, dan keakuan diri yang tak sudah. Tak lebih.
Banyumas, 2025
Penulis: Juli Prasetya adalah seorang penulis muda Banyumas. Ia menulis puisi, esai, dan cerpen. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung. Kini ia bermukim di Desa Purbadana, Kembaran, Banyumas.
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan