
Empat tahun sibuk analisis data, Lulus malah analisis cara bertahan di dunia nyata. Empat tahun kuliah tentang perubahan perilaku, Lulus malah berubah arah dan cari celah baru.
Dalam banyak brosur penerimaan mahasiswa baru, jurusan Kesehatan Masyarakat (Kesmas) digambarkan bak sebuah pekerjaan mulia karena akan berkontribusi pada bangsa, jadi pahlawan kesehatan, bahkan punya prospek kerja global. “Kerja di WHO!”, “Jadi ahli epidemiologi!”, “Mengawal kesehatan Indonesia!” begitulah jargon yang sering muncul.
Bagi sebagian besar anak SMA yang bingung mau ambil jurusan apa, kata-kata itu terdengar menenangkan. Setidaknya, ada arah hidup yang jelas bahwa nanti ketika kuliah di Kesmas berarti masa depan aman.
Tapi bagi Bayu* (24), lulusan dari sebuah Fakultas Kesehatan Masyarakat di Jakarta, semua janji manis itu kini terasa seperti janji pejabat waktu kampanye manis di panggung, hambar di kenyataan
Sudah setahun lebih ia lulus, tapi pekerjaannya belum juga jelas. “Susah banget cari kerja. Kalaupun ada lowongan, kebanyakan mintanya tenaga medis kayak perawat atau bidan. Padahal, aku pikir Kesmas juga penting,” keluhnya
Perjalanan Kuliah Sampai Lulus Yang Penuh Semangat
Bayu mengaku dulu semangat banget masuk Kesmas. Apalagi keluarganya bangga “Akhirnya ada dokter di keluarga!” padahal, jelas-jelas Kesmas beda jalur dengan kedokteran.
Empat tahun kuliah bayu jalani tanpa banyak drama. Praktikum jalan, Praktek Belajar Lapangan oke, KKN lancar, skripsi tuntas. Bahkan, IPK-nya cukup mentereng yakni menyentuh 3,5.
“Dulu aku mikir, kalau nilainya bagus dan aktif organisasi, peluang kerja pasti terbuka lebar,” ujarnya. Ekspektasinya sederhana: bisa kerja di instansi pemerintah, NGO internasional, atau minimal di puskesmas sebagai tenaga Kesmas.
Tapi justru semua cerita manis itu mulai kelihatan pahitnya begitu Bayu masuk tingkat akhir. Mahasiswa tingkat akhir pelan-pelan sadar bahwa nilai dan gelar bukan tiket emas menuju dunia kerja. Praktikum yang ribet dan sering terasa sekadar formalitas, dilema antara menyelesaikan skripsi dulu atau ikut pengalaman lapangan, sampai pertanyaan abadi “Habis ini mau kemana?” jadi makanan sehari-hari.
Ketika akhirnya wisuda, ternyata dunia kerja nggak seindah brosur kampus. Banyak alumni yang mengaku harus mencari alternatif.
Alumni yang Idealnya Hero, Nyatanya Zero
Pada Akhirnya banyak yang menempuh jalur zig-zag. Ada alumni yang kerja di puskesmas, tapi sebagian besar waktunya justru habis untuk mengurus administrasi, bukan turun ke lapangan.
Ada pula yang banting setir ke dunia asuransi, bank, bahkan jadi content creator karena merasa peluang di bidang kesehatan masyarakat terlalu sempit.
Seorang senior bercerita, “Kerja di puskesmas itu nggak seindah bayangan. Idealnya kan kita turun ke masyarakat, bikin program kesehatan, edukasi, gitu. Tapi kenyataannya lebih sering ngurus laporan, tanda tangan, dokumen. Lapangan? Kadang cuma sekali dua kali dalam sebulan.”
Ada juga kisah alumni lain yang “nyasar” ke dunia perbankan. Awalnya coba daftar jadi tenaga kesehatan, tapi karena nggak ada lowongan, akhirnya nekat ambil tawaran kerja jadi Teller di bank. “Ya daripada nganggur,” katanya, setengah bercanda, setengah getir.
Kontrasnya, ada segelintir yang berhasil menembus NGO internasional atau instansi pemerintah. Tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Itupun biasanya karena punya networking kuat, bukan sekadar karena nilai bagus atau CV penuh organisasi.
Realitasnya, banyak instansi kesehatan masih bingung sendiri dengan definisi tenaga Kesmas. Kadang dianggap ahli epidemiologi, kadang disuruh jadi tukang input data, kadang malah cuma dipandang “kayak perawat tapi bukan perawat, kayak dokter tapi bukan dokter”.
Hal ini yang bikin banyak mahasiswa Kesmas merasa seperti hidup di antara dua dunia cita-cita mulia untuk “menyelamatkan bangsa”, tapi di sisi lain harus realistis menghadapi pasar kerja yang penuh tanda tanya.
Kurikulum vs Kebutuhan Industri
Di kampus bayu, kuliah sering kali isinya slide PowerPoint berlembar-lembar yang isinya teks semua, terus ditutup dengan tugas bikin manuskrip atau review jurnal. Intinya teori, teori, teori.
Sementara itu, dunia kerja nggak pernah nanya “Anda paham teori promosi kesehatan model Precede-Proceed nggak? ”Yang ditanya justru lebih teknis “Bisa bikin laporan 1 jam lagi nggak? Bisa handle survei lapangan mendadak nggak? Bisa ngomong di depan warga yang lagi ngamuk gara-gara isu vaksin nggak?”
Kesenjangan ini bikin banyak alumni kaget. Di kampus, yang dilatih adalah kemampuan menulis panjang dan penuh sitasi. Begitu kerja, yang dipakai justru kemampuan ngomong singkat, jelas, dan bikin orang percaya
Kalau diibaratkan, kuliah Kesmas itu kayak kursus teori berenang selama empat tahun. Lulus, langsung dilempar ke laut. Ya bisa, tapi ngap-ngapan dulu, baru kemudian belajar gaya dada ala kadarnya.
Dan ironisnya, gap ini bukan rahasia lagi. Senior-senior yang sudah kerja sering nyeletuk: “Ilmu kampus cuma kepake 30 persen. Sisanya belajar di tempat kerja.” Ada yang pasrah, ada juga yang nyeplos lebih pedas: “Kalau kampusnya terus begini, jangan salahin mahasiswa kalau lebih banyak hafal teori ketimbang bisa kerja.”
Jangan lupakan soal birokrasi. Buat bisa masuk instansi kesehatan secara jalur formal, alumni kesmas harus melewati ujian CPNS atau PPPK yang kuotanya sering kali lebih kecil daripada jumlah pendaftar.
Ironisnya, lulusan Kesmas yang katanya dibutuhkan negara untuk mengurusi kesehatan masyarakat, justru sering “tersingkir” hanya karena formasi yang terbatas.
“Kadang aku mikir, kalau negara serius butuh tenaga Kesmas, kenapa lowongan resminya lebih langka daripada kursi bus TransJakarta jam pulang kerja?” kata Bayu, dengan nada lemas.
Harapan Tinggi, Tapi Jalan Terjal Menanti
Bagi Bayu, Mimpi kerja di WHO atau UNICEF yang dulu jadi bahan obrolan sambil ngopi di kantin, kini berganti jadi realita sederhana bisa survive bulanan saja sudah syukur.
Dari titik ini, mungkin banyak orang akan bilang “Loh, berarti kuliahnya sia-sia dong?” Tapi justru di situlah letak ironi yang jadi tamparan keras. Kuliah kesehatan masyarakat ternyata bukan jaminan bisa langsung jadi pahlawan kesehatan, tapi lebih mirip sekolah kehidupan yang ngajarin bagaimana menghadapi dunia kerja yang jauh dari scenario di slide PowerPoint waktu kuliah.
Di balik cerita Bayu, ada masalah struktural yang lebih besar rekrutmen tenaga kerja di Indonesia masih sangat menitikberatkan pada reputasi kampus dan akreditasi.
Bagi lulusan FKM yang bukan dari kampus besar, jalannya semakin terjal. Akreditasi “unggul” pun sering kali tak berarti apa-apa kalau dunia kerja tak paham peran Kesmas.
Artinya, persoalan ini bukan hanya soal Bayu atau satu kampus tertentu, melainkan problem sistemik lulusan Kesmas belum punya positioning kuat di pasar tenaga kerja.
Kisah Bayu adalah cermin banyak lulusan Kesmas lain. Jurusan yang katanya “jalan mulia menyelamatkan bangsa,” tapi di dunia kerja, sering berubah jadi jalan sunyi penuh tanda tanya.
Dan meski jalannya sunyi, bukan berarti jalannya mati. Sebab di antara lika-liku itu, selalu ada satu hal yang tetap hidup rasa percaya bahwa kerja di bidang kesehatan masyarakat, sekecil apa pun bentuknya, selalu punya arti lebih besar dari sekadar cari gaji.
Penulis: Adipatra Kenaro Wicaksana, lulusan Kesehatan Masyarakat dengan Peminatan Kesehatan Lingkungan. Sesekali menjaga lingkungan tetap sehat, sambil mencoba untuk tetap ingat kapan terakhir kali nyiram tanaman di rumah
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan