
Dulu aku percaya bahwa menjadi mahasiswa tingkat akhir itu cuma soal revisi dan bimbingan. Ternyata lebih banyak soal mengatur rasa malu ketika ditanya, “Skripsi sudah sampai mana?” Padahal skripsiku sendiri masih seperti hubungan yang baru mulai dekat digantung tanpa kepastian.
Selasa pagi. Matahari sudah naik, tapi semangatku masih merangkak. Dari ruang bimbingan itu, aku kembali dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa dosen pembimbing lebih hafal wajahku sebagai penghilang profesional daripada sebagai mahasiswa yang rajin bimbingan.
Meja kayu di depan beliau tampak ramah, tapi entah kenapa kursi yang kududuki terasa seperti kursi pesakitan. Mungkin karena aku datang dengan dosa terberat mahasiswa tingkat akhir belum menyentuh revisi sama sekali, padahal dua minggu lalu aku sudah mengangguk seperti ulat bulu yang manut ketika diberi arahan.
Ada hal-hal dalam hidup yang memang berat. Tapi menatap file skripsi bernama “FIX BETUL INI (JANJI).docx” yang isinya bahkan belum separuh, itu jauh lebih berat. Tidak ada yang mempersiapkan kita untuk fase ketika buka laptop saja rasanya lebih menguras energi daripada evaluasi UKT.
Kadang aku juga berpikir, mungkin dosen pembimbing itu sebenarnya punya kemampuan cenayang. Beliau bisa menatap wajahku selama tiga detik dan langsung tahu “Anak ini belum revisi.” Tatapannya lembut, tapi punya kekuatan menembus ketegangan jiwa.
Setiap kali aku duduk di depannya, beliau hanya butuh satu tarikan napas sebelum berkata, “Coba dibuka Bab 2-nya.” Dan di momen itu, jantungku langsung menjalani lari maraton. Membuka laptop rasanya seperti membuka hasil ujian yang sudah pasti merah.
Apalagi ketika file itu terbuka dan aku sendiri baru sadar mengapa catatan revisi yang kuberi warna kuning masih kuning semua. Tidak ada yang berubah sejak pertemuan terakhir. Namun anehnya, meski penuh dosa, mahasiswa tingkat akhir seperti aku tetap datang ke ruang bimbingan dengan wajah optimis palsu.
Berharap dosen pembimbing berkata, “Sudah bagus, tinggal sedikit lagi.” Tentu itu tidak pernah terjadi. Yang ada justru kalimat yang sudah kuhafal “Ini perlu diperdalam.” “Ini kurang relevan.” “Ini tolong dicari literatur yang lebih kuat.”
Dan aku hanya mengangguk lagi seperti ulat bulu yang tidak pernah kapok meski dalam hati bertanya, “Kenapa semua hal harus ‘diperdalam’, sementara tidurku saja belum ‘diperdalam’ sejak semester ini
Dosa Pertama, Menghilang dari Radar Pembimbing
Tak ada mahasiswa tingkat akhir yang benar-benar sengaja menghilang. Kami hanya… memberi jeda pada diri sendiri.
Jeda dari tugas kampus, dari tuntutan, dari rasa cemas, dari revisi yang muncul seperti hantu ketika malam sudah tenang, dan dari notifikasi WhatsApp yang bunyinya membuat jantung berdebar tak karuan.
Waktu itu aku ingat betul. Dosen pembimbing mengirim pesan singkat
“Bagaimana progres revisi?” .Aku membaca pesan itu. Ondeh, centang dua biru pula. Lalu, seperti refleks alami yang tak terlatih, aku… menonaktifkan data.
Empat hari. Bukan karena aku jahat. Bukan karena aku malas.
Rasanya seperti dosa besar setiap kali membuka WhatsApp dan melihat pesan itu tetap ada di paling atas, menatapku seperti neraka akademik yang sedang membuka pintunya. Dan aku tetap tidak membalas.
Mahasiswa tingkat akhir, pada dasarnya, adalah makhluk penuh rencana. Rencana membalas chat jam dua. Rencana membuka dokumen skripsi setelah makan. Rencana revisi malam ini. Tapi sering kali yang terjadi adalah: tertidur setelah makan, lalu merasa bersalah, lalu menunda lagi. Dan begitulah siklus dosa pertama itu dimulai.
Dosa Kedua, Terlalu Rajin Organisasi Daripada Skripsi
Ada satu dosa yang sering diakui mahasiswa tingkat akhir dalam hati kecil mereka dosa menjadi aktivis kampus garis keras sementara skripsi hanya diperlakukan seperti tab dokumen yang selalu diminimize.
Dosa ini aneh, karena semua orang tahu itu sesuatu yang harus dibereskan, tapi tetap saja ditinggalkan dengan penuh kesadaran, seolah rapat malam itu ibadah wajib sementara ngerjain BAB 3 itu cuma amalan tambahan yang bisa dikerjakan kalau sempat.
Dari organisasi, kita hidup seperti manusia super. Nama kita muncul di setiap grup WhatsApp, di setiap pamflet acara, bahkan kadang dicantumkan sebagai penanggung jawab meski sebenarnya kita cuma numpang lewat rapat.
Malam jam sembilan rapat, jam sebelas evaluasi, jam satu diskusi santai yang tidak santai, dan jam dua kita tidur sambil tetap memikirkan konsep acara berikutnya. Aneh sekali, energi yang tidak kita miliki untuk membuka referensi jurnal tiba-tiba muncul ketika ada yang berkata, “Teman-teman, kita butuh konsep kegiatan baru.”
Organisasi itu dunia yang penuh validasi. Kita dipuji senior karena sigap, dihormati junior karena terlihat berpengalaman, dan dianggap “bermanfaat bagi kampus” oleh sesama teman panitia. Dari sana kita dianggap punya masa depan cerah. Sementara skripsi, entah kenapa, selalu berhasil membuat kita merasa kecil dan tidak kompeten. Rasanya semua teori tiba-tiba tampak rumit, semua rumus menjadi asing, dan semua revisi terasa seperti serangan personal.
Ironisnya, kegiatan organisasi bisa kita persiapkan penuh semangat, sementara lima halaman skripsi membutuhkan konsentrasi yang bahkan sanggup menguras jiwa. Kita bisa bicara di depan ratusan orang tanpa gugup, tapi mengetik “izin bimbingan, Pak” butuh keberanian setara gladi resik wisuda. Sungguh komedi tragis kehidupan akademik.
Bahkan ada fase saat semakin dekat jadwal bimbingan, semakin banyak undangan rapat yang tiba-tiba muncul. Padahal sama sekali tidak tiba-tiba—kitalah yang menyanggupi semua. Kita merasa bahwa semakin sibuk, semakin valid alasan menunda.
Kita berharap ada kalimat ajaib seperti “Saya sibuk organisasi, Bu” bisa mendapatkan toleransi tambahan. Padahal yang terjadi, dosen hanya mengetik, “Baik, ditunggu minggu depan,” yang sebetulnya berarti “Itu tanggung jawabmu, bukan urusanku.”
Organisasi menjadi tempat pelarian paling nyaman. Saat skripsi mentok, kita desain pamflet kegiatan. Saat referensi hilang, kita buat konsep lomba. Saat revisi memerah, kita sibukkan diri mempersiapkan acara nasional. Semua dilakukan demi menghindari kenyataan bahwa skripsi sebenarnya sudah berteriak minta diperhatikan.
Dosa Ketiga, Menyalahkan Sistem Kampus
Tidak ada mahasiswa tingkat akhir yang benar-benar mau mengakui bahwa dirinya salah. Rasanya seperti sudah menjadi budaya turun-temurun bahwa segala yang terjadi pada masa-masa kritis menuju kelulusan harus selalu disangkut pautkan pada faktor eksternal yang tidak bisa dikendalikan.
Seakan-akan kampus adalah sebuah entitas mistis yang setiap hari bangun dari tidur dengan misi khusus menggagalkan rencana revisi mahasiswa semester tua. Setiap ada kesulitan kecil, respons refleksnya selalu seragam menyalahkan sistem kampus.
Entah mungkin Server lemot karena bagian IT sedang tidak niat bekerja. Birokrasi nya yang berbelit, jadi tidak bisa dilawan. Printer rusak, Dosen tidak ada di ruangan. Bahkan satpam yang mengumumkan bahwa ruangan ditutup lebih cepat pun bisa menjadi antagonis dalam narasi mahasiswa tingkat akhir, seolah mereka punya agenda rahasia untuk menambah kadar kesengsaraan akademik.
Padahal kalau dipikir-pikir dalam-dalam, sering kali yang salah memang diriku sendiri. Tapi tentu saja, otak mahasiswa tingkat akhir sangat lihai dalam memoles narasi. Aku ingat betul satu kejadian ketika aku datang ke kampus dengan niat yang benar-benar lurus sepagi itu wajahku bahkan masih seperti halaman skripsi polos, kosong, dan penuh harapan. Aku melangkah mantap menuju ruangan pembimbing.
Hari ini harusnya menjadi hari kemenangan kecil. Hari ketika aku, dengan penuh tekad, menyerahkan revisi Bab 2 yang sudah berkali-kali dikembalikan beliau. Tapi begitu tiba di kampus, semua harapan itu runtuh begitu saja. Kampus mati lampu. Bukan hanya mati lampu, AC juga mati, komputer mati, bahkan wi-fi kampus seperti ikut berkabung.
Namun, yang lucu adalah kemampuan kita untuk memanipulasi keadaan menjadi alasan yang lebih dramatis daripada seharusnya. Mahasiswa tingkat akhir seperti punya bakat alam dalam menafsirkan segala situasi sebagai “penghambat skripsi”.
Hujan deras misalnya. Dalam logika normal, hujan ya hujan saja. Tapi dalam logika mahasiswa tingkat akhir, hujan deras otomatis berarti revisi batal dikerjakan.
Jalan becek, kampus gelap, atau bahkan wangi tanah basah pun bisa dijadikan alasan untuk tidak produktif. “Kampus becek, Bu, jadi saya telat bimbingan,” kataku satu hari dengan muka paling meyakinkan yang kubisa. Padahal sejujurnya aku telat bukan karena hujan, bukan karena becek, tapi karena aku bangun kesiangan
Itulah seni terbesar mahasiswa tingkat akhir: seni ngeles tanpa malu. Seni menyulap hal remeh menjadi tragedi. Tapi entah bagaimana, menyalahkan sistem itu terasa jauh lebih menenangkan daripada mengakui ketidakdisiplinan diri sendiri.
Pengakuan Dosa yang Justru Membuat Kita Tumbuh
Pada akhirnya, kita semua tahu bahwa skripsi tidak pernah benar-benar menjadi musuh. Yang sering jadi lawan justru diri kita sendiri dengan segala alasan, pelarian, dan drama yang kita ciptakan untuk menghindari rasa takut.
Namun pelan-pelan, dari setiap revisi yang dibalas singkat, setiap malam yang ingin menyerah, dan setiap dosa kecil sebagai mahasiswa tingkat akhir, kita belajar bahwa proses dewasa tidak selalu hadir lewat hal besar.
Kadang itu datang dari keberanian membuka dokumen yang terus kita tunda, atau dari keputusan sederhana untuk tidak lagi kabur dari apa yang harus diselesaikan.
Karena akhirnya, bukan soal seberapa cepat kita lulus, tapi seberapa jujur kita menghadapi diri sendiri. Dan di balik segala ngeles, panik, pura-pura sibuk, serta drama khas akhir semester, kita tetap bertumbuh pelan, tapi pasti.
“Seperti skripsi yang revisinya tidak pernah berhenti, kita pun terus belajar memperbaiki diri. Dan mungkin memang begitu caranya menjadi manusia.”
Penulis: Adipatra Kenaro Wicaksana, lulusan Kesehatan Masyarakat dengan Peminatan Kesehatan Lingkungan. Sesekali menjaga lingkungan tetap sehat, sambil mencoba untuk tetap ingat kapan terakhir kali nyiram tanaman di rumah.
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan