Mengapa Literasi Keuangan Seharusnya Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah dan Kampus

Di ruang kelas perguruan tinggi, saya sering bertemu mahasiswa yang cerdas dan kritis, tetapi bingung ketika ditanya berapa besar pengeluaran mereka tiap bulan. Banyak dari mereka tidak pernah diajarkan dasar-dasar pengelolaan uang sejak sekolah. Akibatnya, mereka belajar keuangan melalui “jalan yang keras”. Biasanya setelah uang bulanan habis sebelum tanggal tua.

Padahal, keterampilan mengelola uang adalah bagian penting dari pendidikan yang tidak boleh diabaikan. Dunia pendidikan sering fokus pada matematika, sains, dan bahasa. Namun, jarang membahas keterampilan hidup seperti mengatur penghasilan, membuat anggaran, atau memahami risiko keuangan. Padahal, semua itu justru menentukan kemampuan seseorang menghadapi realitas hidup.

Masalah ini bukan hanya terjadi pada mahasiswa. Banyak pelajar SMA bahkan SMP sudah mengalami kebingungan ketika menerima uang saku. Mereka lebih mengenal istilah “check-out barang dari keranjang belanja online” daripada “menabung”. Ketidakseimbangan ini menunjukkan pentingnya pendidikan finansial sejak usia dini.

Mengajarkan literasi keuangan sebenarnya tidak perlu dimulai dari konsep sulit seperti investasi atau laporan keuangan. Untuk anak sekolah dasar, pencatatan pengeluaran sederhana saja sudah cukup. Melalui kegiatan ringan seperti menulis pemasukan dan pengeluaran harian, anak mulai mengenali pola belanja mereka. Dari sini, mereka belajar membuat keputusan kecil yang bertanggung jawab.

Saat memasuki jenjang SMP dan SMA, literasi keuangan dapat ditingkatkan dengan pengenalan anggaran bulanan. Guru dapat mengajak siswa membuat simulasi pengelolaan uang saku. Ini bukan soal angka semata, tetapi latihan mempertimbangkan prioritas. Siswa belajar memilih antara membeli barang trending atau menyisihkan uang untuk keperluan penting.

Jika sekolah menambahkan proyek atau tugas berbasis pengalaman nyata, hasilnya akan lebih berdampak. Misalnya, siswa diminta menyisihkan uang untuk tujuan tertentu selama satu bulan. Dengan cara ini, mereka mengalami langsung proses disiplin finansial. Pengalaman semacam ini melekat lebih kuat daripada sekadar teori.

Ketika masuk perguruan tinggi, mahasiswa seharusnya sudah mengenal konsep manajemen risiko dan dana darurat. Namun faktanya, banyak yang baru tahu tentang pentingnya dana darurat ketika mengalami masalah di kos. Saat smartphone rusak, mereka bingung mencari uang untuk memperbaiki. Pendidikan keuangan di SMA tidak hanya bermanfaat, tetapi juga membantu mereka menghindari stres saat mulai hidup mandiri.

Generasi saat ini sebenarnya sangat terbantu dengan perkembangan teknologi finansial. Ada banyak aplikasi pencatat keuangan yang mudah digunakan dan gratis. Mahasiswa bisa melakukan budgeting, memantau pengeluaran, bahkan membuat kategori belanja. Teknologi ini bisa menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan literasi keuangan.

Di tengah kemudahan teknologi, guru dan dosen berperan sebagai penghubung antara pengetahuan formal dan praktik sehari-hari. Ketika konsep ekonomi dijelaskan dengan contoh yang dekat dengan kehidupan siswa, pemahaman mereka meningkat drastis. Misalnya, membahas manajemen keuangan melalui kasus “jajan berlebih” atau “diskon besar-besaran yang menyesatkan”. Cara ini membuat topik keuangan terasa relevan.

Selain lembaga pendidikan, keluarga juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter finansial anak. Orang tua seringkali tidak menyadari bahwa cara mereka mengelola keuangan diamati dan ditiru. Jika anak terbiasa melihat orang tuanya mencatat keuangan atau berdiskusi tentang kebutuhan rumah tangga, mereka akan meniru pola ini. Pendidikan keuangan yang dimulai dari rumah memberi efek jangka panjang.

Di sisi lain, pendidikan keuangan membantu generasi muda membangun hubungan yang sehat dengan uang. Banyak mahasiswa yang merasa bersalah ketika membeli keinginan mereka, atau sebaliknya tidak mampu menahan belanja impulsif. Padahal, yang dibutuhkan bukan larangan keras, tetapi pemahaman yang seimbang. Uang bukan musuh, uang adalah alat yang harus diatur.

Dengan bekal literasi keuangan, mahasiswa lebih siap menghadapi dunia kerja. Mereka dapat merencanakan masa depan secara realistis, mulai dari menyusun target keuangan hingga memahami konsep gaji bersih. Pendidikan keuangan membuat mereka lebih percaya diri mengambil keputusan penting seperti memilih pekerjaan, membeli aset, atau merencanakan studi lanjut.

Karena itu, sudah saatnya sekolah dan kampus memasukkan literasi keuangan sebagai bagian dari kurikulum inti. Tidak perlu menunggu siswa “dewasa” untuk belajar mengatur uang. Kebiasaan yang dimulai sejak kecil akan menjadi fondasi kuat ketika mereka terjun ke dunia nyata. Semakin dini mereka belajar, semakin besar peluang mereka mencapai kemandirian finansial.

Generasi muda adalah penentu masa depan ekonomi bangsa. Dengan membekali mereka literasi keuangan sejak sekolah, kita tidak hanya mencetak pelajar cerdas, tetapi juga individu yang tangguh dan bijak. Pendidikan yang baik bukan hanya tentang prestasi akademik, tetapi juga kesiapan menghadapi kehidupan. Dan mengelola uang adalah salah satu bekal terpenting untuk itu.

 

Penulis: Vinsensius, S.Fil., M.M. adalah dosen filsafat dan manajemen keuangan di Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, dengan fokus pada behavioural finance dan literasi keuangan. Aktif menulis opini, esai, dan artikel edukasi untuk berbagai media daring.

 

Check Also

Di Akhir Zaman, Kenapa Seorang Mesti Menyaksi Pertunjukan yang Menyuguhkan Kekacauan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *