Yang Lebih Berkicau dari Poksai Hongkong

(Dok. Penulis)

Bisa bangun pagi itu berkah. Pertama karena berhasil tidur malam. Kedua karena lolos dari tindihan dan tidak dibawa kabur jin ke alamnya. Rayakanlah bangun pagi dengan puji-pujian, walau kini sudah jam sembilan. Mestinya begitu.

Tetapi yang Arip dapati malahan suara Evie Tamala mendendangkan lagu “Lukaku”: Kini carilah olehmu / Kasih pengganti diriku … Kencangnya! Baru mau bersyukur, duh, kok ya jadi ingat mantan. Arip memeriksa ke luar. Matahari sejuk membasuh, ah, enaknya. Di depan kontrakan Arip ada lapangan milik desa. Ada juga pendopo, toilet umum, ayunan, dan tentu saja sampah-sampah plastik. Nah, di sana, sekarang, sudah berkumpul banyak orang membawa burung-burung.

Sebentar. Ini hari Minggu, mengapa ada gantangan? Biasanya, lomba burung itu rutin diadakannya Selasa. Dan siang! Pernah Arip pastikan pada Mbah Wito Angkringan, beliau pun bilang Selasa siang. Cocok. Tapi baiklah, berarti ada beda hari ini. Barangkali resolusi awal tahun.

Yang jelas, pagi itu Arip terganggu. Wah, wah, bikin kegiatan boleh saja, tapi Arip pun boleh punya pagi yang tenteram. Orang tidak tahu, jam sepuluh pagi itu jadwal Arip membaca buku! Arip itu mahasiswa sastra. Membaca buku untuk mahasiswa sastra itu seperti makan, minum, dan pacaran. Itu kebutuhan pokok. Tolong dikecilkan suara dangdut itu. Tolong dibikin diam burung itu. Gusti, kicaunya, sahut-sahutan seperti azan Magrib.

Padahal Arip sudah ada janji sama Idrus, Kuntowijoyo, dan Hamsad Rangkuti. Terus Arip mau lanjut berkelana keliling Eropa lewat 30 Cerita dari Eropa bersama Anton Kurnia. Atau ke Amerika-Pasifik saja, ya? Begitulah. Pokoknya kalian, hai Kicau Mania, mana tahu itu. Kalian tidak ada urusan dengan itu. Pun Arip, dengan murai batu, cucak ijo, atau poksai hongkong kalian yang mahal itu! Kita punya hobi masing-masing. Baiknya jangan ganggu-mengganggu, begitu. Apa pernah orang yang suka buku mengusik orang yang suka burung?

Ya. Itu dia. Kalau belum pernah ada, maka Ariplah harusnya. Bagaimana caranya? Itu nanti. Segera Arip ambil tas kecil. Masukkan rokok, buku, hape, dan berangkatlah. Toh kalau gagal dapat cara, Arip berniat baca buku saja di pendopo. Lumayan, nasihat itu kan tidak cuma mulut. Bisa juga performatif.

Mula-mula Arip kelilingi dulu lapangan itu. Menggambar-gambar, gangguan seperti apa yang memungkinkan? Tidak, Arip bukannya mau mematikan pengeras suara lalu ngibrit kabur, atau melempar batu ke salah satu burung. Bukan karena takut dikeroyok massa, bukan. Cuma kurang elegan saja. Sebenarnya kalau menurut kata hati, sudah dari tadi Arip lakukan. Tetapi kan manusia tidak cuma hati, tahu akal juga! Apalagi yang suka membaca buku, harusnya otaknya lebih encer dari tahi burung.

Tiba-tiba musik dangdut dikecilkan. Seseorang meraih mikrofon, “Selamat pagi, Kicau Mania! Bagaimana kabar burung-burung Anda? Sudah siap tanding?” 

Arip pun berhenti dekat ayunan. Tak bisa ditolaknya kelucuan orang bertanya kabar burung itu. Arip sedikit mesum ternyata. Makanya jadi kepingin duduk menyimak. 

Sebenarnya duduk di ayunan itu pas. Adem, silir, menghadap gelanggang, kayak raja menonton pertunjukan. Tapi malunya! Arip sudah dewasa, masakan main ayunan. Lebih baik agak jauh tetapi kehormatan utuh. Akhirnya duduk di bawah pohon mangga ia, dekat pintu masuk yang dijaga mas-mas berkaos Karang Taruna Manisrejo. Mas-mas itu membagi karcis parkir seharga dua ribu pada yang datang.

“Langsung saja kita mulai, Kicau Mania! Session satu, kita mulai dulu dengan burung legenda. Terakhir kali ada pertandingan burung ini, seingat saya, itu dulu, di tahun dua ribuan. Dan sekarang ini ada lagi di sini! Di Sembego ini! Kita doakan semoga Sembego bisa terus melestarikan dunia perburungan kita. Sudah, langsung saja, kita persilakan untuk poksai hongkong! Monggo dinaikkan …”

Sambil merokok, ada juga Arip berpikir. Tidak, belum lupa ia pada dendamnya. Hanya tertahan ia pada ‘perburungan kita’ yang diucap pembawa acara. 

Kali ini bukan sebab mesum atau apa. Tiba-tiba saja ia terkenang akan perbincangan-perbincangannya dengan kawan-kawannya soal perbukuan di kotanya, ‘perbukuan kita’ sebutnya. Balai Pustaka mulai menerbitkan ulang karya-karya lawas dengan sampul baru. Ada juga Indonesia Tera, dan masih banyaklah. Arip suka itu. Menurutnya, buku-buku anyar belum bisa menandingi buku-buku lawas. Dasar Arip konservatif. Tapi orang dulu itu memang legenda betul. Dan poksai hongkong ini mungkin buku-buku lawas itu. 

“Selamat datang kepada Bapak Sutris. Wah, gawat ini! Pak Tris turun gunung lho ini. Wedus hadiah kemarin sudah disate, Pak?”

Siapalah Pak Tris, biar. Tapi bedanya buku lawas dengan poksai tadi adalah tatapan orang-orang. Begitu poksai naik gantang, semua orang, baik yang masih kecil apa yang kelakuannya sudah kayak anak kecil, yang bawa anak-istri apa yang bawa keluhan anak-istri, yang ngaso di mobil apa di pendopo … semuanya, semua mata semua hidung semua telinga, pada khusyuk menyimak si poksai itu. Muka-muka mereka menampilkan kekaguman yang mengundang kekaguman lain. Rasanya Arip bisa tahu semelegenda apa si burung lewat muka-muka mereka yang terkunci itu. 

Le, sini. Siapa namanya? Oke, Mas Kepin umur berapa? SMP? Sudah siap musuh Pak Tris? Wah, ya harus siap …”

Mas Kepin, dengarkan. Poksai tentu beda dengan nasib buku-buku lawas tadi. Marah Rusli, Achdiat, NH Dini, Iwan Simatupang, siapalah yang antusias? Dari sepuluh mahasiswa sastra, misalnya, berapa yang sudah dan suka baca mereka? Anak-anak muda sepantaran Arip lebih suka buku-buku baru yang, duh, terkesan buru-buru. Arip suka bilang begitu sebab ia pun beli dan baca buku-buku baru. Begitulah idealnya, baca semuanya, jangan cuma yang baru, hai mahasiswa! Itu pun kalau suka baca buku. Tidak satu-dua kali Arip ketemu mahasiswa sastra yang tidak suka makan buku. Itulah yang disesalkan Arip. Asing ia di generasinya, sedikit saja kawannya, kesepian ia di kota, tertolak ia di desa.

“Semoga jagoan Anda tampil dengan maksimal. Ingat, jangan ada yang berteriak. Dilarang memancing-mancing. Kita komunitas hewan terbang bukan komunitas hewan air. Biarkan jagoan Anda yang berlaga. Bukan Anda!”

Ah, komunitas ya, Rip. Dengan sendirinya Arip mengerucutkan pikirannya pada komunitas sastra. Di kotanya, komunitas sastra ada di mana-mana, tak ubahnya seperti komunitasnya pendekar-pendekaran! Yang suka tawuran itu. Yang sering meresahkan Arip itu! Pertanyaannya: Dari banyaknya komunitas pendeka, berapalah yang pendekar betulan? Yang Satrio Pilih Tanding, yang Memayu Hayuning Bawono? Kok ya sama, rasanya, dengan komunitas sastra.

“Satu, dua, tiga! Mulai!”

Merdunya poksai hongkong itu, masih kalah dengan kicau kacau dalam diri Arip. Resah ia. Gelisah ia. 

Bagaimana, keterlibatan pemerintah pada komunitas sastra terkesan setengah-setengah. Menurut keyakinan Arip, pemerintah membantu pendanaan komunitas sastra itu ya memang sudah seharusnya. Tetapi jangan terus dianggap proyek, begitu. Jangan dikira Arip atau yang muda-muda lain cuma orang tolol yang tidak tahu kalau proyek itu ya jual-beli belaka. Bukan Arip membenci duit. Arip cuma capek berurusan sama mafia. Tidak mau ia tukar nyawa, itu saja. Sudah begitu, ini menurut keyakinan Arip, jelek pula hasilnya! Buku-buku dengan sampul seadanya, apalagi isinya. Acara-acara diskusi cuma promosi. Dan masih banyak lagi ya, Rip?

“Para juri mulai menaruh bendera. Coba dipikir matang-matang, Pak Juri!”

Pun kalau komunitas kadung menerima dana proyek, tak apa terimalah, asal berniat pula mengimbangi dengan kegiatan lain yang tulus dan tepat sasaran. Binalah anak-anak muda untuk berkarya. Dan jangan lupakan pendampingan mentalnya. Kasih tahu nasib penulis di negeri ini. Kemiskinannya, kehormatannya, semuanya. Orang yang bisa menulis belum tentu siap jadi penulis. Seperti menjadi pendekar: tidak soal menghafal jurus saja. Ada beda antara menulis dan menjadi penulis.

Itu semua tidak ditemukan Arip di kotanya. Dan, salahkah bila Arip iri melihat Kicau Mania yang sederhana ini? Lihat sendiri. Namanya komunitas burung ya komunitas burung. Yang dinilai ya burung. Yang dibicarakan ya burung. Yang dijual-beli ya burung. Tak ada orang jual-beli agenda di situ. Tak ada pemerintah resek yang minta diundang untuk memberi sambutan sebelum dimulai gantangan. Tak ada Dewan Keburungan atau apa. Tak ada yang sok asyik membawa burung robot untuk dilombakan, misalnya. Tak ada yang membawa kucing lalu bilang, “Saya menganggap ini burung.” Kalaupun ada, paling ya cuma dapat ketawa, bukannya puji-pujian! Persetan dengan segala hal selain burung sejati. Pokoknya burung, habis perkara.

“Tiga juri sisi kiri, silakan eksekusi!”

Wah, tidak terasa ya, Rip. Sudah selesai saja session satu itu. Langsung dilanjut dengan penilaian, pengumuman juara, dan pelelangan burung. Ah banyak yang menyawer juga. Dan hadiah juaranya! Ada wedus sampai sepeda listrik. Lihat, ‘kebutuhan’ itu dibaca oleh penyelenggara. Kalau misal yang juara anak kecil, memangnya bijak dikasih uang tunai sebesar sekian rupiah? Terasa betul dipikir jauh!

Duh, menyenangkan Kicau Mania ini. Arip beranjak dari bawah pohon mangga. Dia mendekat ke kerumunan. Dalam hati masih ada dendam. Tapi masih ada juga sisa dua puluhan session lagi. Anis merah, murai batu, kenari, banyaklah.  

Dan buku Arip ketinggalan di bawah pohon. Arip tak tahu itu. Ia terus saja melangkah, menjauhi buku yang tertinggal itu. Dendamnya masih ada, terus bertambah, tapi juga terus berubah … Kini carilah olehmu / Kasih pengganti diriku …

Sembego, 2026

 

Penulis: Abdillah Danny, lahir di Mojokerto, tinggal di Yogyakarta. Puisi dan cerpennya dimuat di Kalam, Kedaulatan Rakyat, Sukusastra.com, dan lain-lain. Kini mengajar Bahasa Indonesia di Komplek AB, PP Al-Munawwir, Krapyak.

Check Also

Orang yang Tak Bisa Apapun Ala Prabowo gegara Orang Tak Kompeten di Lingkarannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *