Tegangan Identitas & Memori Tubuh

latar karya: It’s Okay to Scream

Saya datang ke pameran How Must I Live? pada hari kedua. Memasuki ruang pamer, hidung saya langsung disambut suatu hal yang tak asing & menyita penciuman. Ya, aroma hio. Sejumput biodata yang terpacak di dinding galeri, menerangkan bahwa sang seniman fotografi, Ryan Andrew, ialah seorang Tionghoa Indonesia.

Andrew membawa memori identitas ke-Tionghoa-annya itu dengan simbol yang sangat tebal & khas Tionghoa. Karya bertajuk Fortune Sliver menyajikan visual moncong babi yang terhidang di piring di atas foto-foto masa kecil/keluarga, ada pula instalasi miniatur babi yang ditempeli foto-foto dari masa lalunya. Sedangkan Lines to Come yang menggambarkan harapan warga Tionghoa terhadap konsep double happiness. The Blue Soliloquy menampilkan foto teratai di kolam, dalam budaya Tiongkok, teratai adalah simbol kemurnian, integritas, kesuburan, dan keberuntungan yang tumbuh di lumpur, tetapi tetap bersih dan indah, mencerminkan kebajikan spiritual.

Mewarisi sejarah sebagai seorang Tionghoa, tak pernah sederhana. Identitas Tionghoa Indonesia, atau hari ini beken disebut sebagai Chindo, seringkali ambivalen. Pada satu waktu bisa saja dianggap orang asing & pada waktu yang lain dirangkul sebagai saudara sendiri.

Latar karya: Unicorn Kiss

Ketakpastian ini sangat kompleks, bertitian pada sejarah masa lalu, intrik politik, budaya, hingga persoalan ekonomi. Hari-hari ini, menjadi Chindo atau memiliki seorang Chindo sebagai pasangan, semacam impian & menempati posisi citra yang baik. Namun, pada suatu masa, 1998 misalnya, itu berarti kutukan & petaka.

Dalam karya fotografi ini, Andrew memang tak menyeret persoalan api politik masa lalu. Ia hanya membawa persoalan domestik keluarga Tionghoa, yang baginya konservatif, dan ia coba keluar-lepas dari jeratnya. Hal tersebut tergambar dalam It’s Okay to Scream yang menyajikan adegan seseorang tersedak, sebagai simbol tak bisa berbicara/tertahan.

Tapi perlu diingat, soalan domestik tadi, tak semerta-merta hanya terjadi dalam lingkup kecil. Bisa pula, yang terjadi dalam lingkup kecil tersebut dipengaruhi oleh hal-hal di/dari luar yang lebih besar. Atau malah sebaliknya, yang terjadi dalam lingkup domestik tadi, sejatinya ialah cermin apa-apa yang terjadi di luar sana?

Fortune Sliver

Promised Me Pretty Sins

Porsi wacana identitas ke-Tionghoa-an memang hanya sempilan & tak sedominan narasi tentang tubuh. Meskipun begitu, antara identitas genetik & ketubuhan saling berkaitan. Tubuh yang diusung dalam karya Andrew ialah tubuh yang trauma, sekaligus tubuh yang menyuarakan apa-apa yang dialaminya. Tubuh yang pada banyak sisi menolak tunduk pada kuasa norma dominan, tubuh yang berwatak menabrak batas & bebas.

Pakar trauma Dr. Bessel van der Kolk menjelaskan dalam bukunya yang sangat populer The Body Keeps the Score bahwa trauma memengaruhi pikiran dan juga tubuh kita. Pikiran dan tubuh kita sama-sama menyimpan trauma atau stres kronis, yang kemudian mewujud jadi nyeri fisik, ketidaknyaman, dan perasaan galau. Hubungan trauma antara pikiran-tubuh terangkum sebagai memori somatik.

Dari segi bahasa, somatik bermakna berkaitan dengan tubuh. Memori somatik mengacu pada sensasi ketaknyamanan dan kegelisahan yang masih ada dan tersisa di tubuh setelah mengalami pengalaman yang menegangkan. Memori somatik menunjukkan jika pengalaman fisik tidak terpisah dari suasana emosional dan mental manusia, tetapi terhubung.

Memori somatik dieksternalisasi dengan bawah sadar dalam tubuh melalui gerakan dan postur tertentu, atau ketaknyamanan. Respons tiap indvidu biasanya berbeda. Cara demikian menunjukkan bahwa pikiran telah memproses peristiwa-peristiwa pada periode stres kronis atau trauma, tetapi tubuh sesungguhnya masih menyimpan stres tersebut.

Memori somatik berpijak pada gagasan bahwa beberapa memori disimpan, diambil kembali, dan ditanggap secara sadar lewat respons tubuh yang nampak. Sedangkan memori lainnya melewati proses yang sama di bawah sadar.

Dari wacana memori somatik inilah saya melihat, mencoba menafsir, dan memaknai karya-karya fotografi Andrew. Ia ialah seorang seniman visual dan fotografer yang berbasis di Jakarta. Karyanya mengeksplorasi identitas melalui keterlibatan intim dan reflektif diri dengan subjeknya.

Karya seniman kelahiran 1991 ini, mencoba bermain dengan tubuh & menawarkan wacana fluiditas gender juga keintiman. Terdapat upaya mengawinkan penyelidikan pribadi si seniman dengan narasi yang digerakkan oleh komunitas, khususnya dalam konteks LGBTQ+ di Indonesia. Hasilnya, Andrew menciptakan gambar yang berbeda dari norma umum.

The Blue Soliloquy

Dalam karyanya yang bertajuk Unicorn Kiss, Is This the Rapture?, Lingering Trace, Rooted In The Fire Within, Spiritfall, Vertical Wind, Luminous, Hawling at Dawn, memiliki upaya melemparkan tegangan wacana antara femininitas dan maskulinitas. Karya-karyanya menampilkan subjek laki-laki yang mewakili sisi maskulinitas, tetapi dengan riasan, postur, yang feminin. Dari karya-karyanya ini, Andrew hendak menunjukan identitas gender tak melulu selaras dengan visual luar yang tampak. Upaya “berbelok” tersebut bisa jadi justru berasal dari pemaksaan di masa lalu, yang tersimpan dalam memori sebagai trauma, dan baru berani dikeluarkan ketika sudah lepas dari institusi—mungkin keluarga, mungkin lingkungan sosial—yang memaksakan.

Pengalaman-pengalaman ketaknyamanan tubuh yang kemudian sangat gamblang mencuat dan hendak berbicara, tampak pada karyanya yang bertajuk Snake Bite, A Taste of Sting, Fractured Memory, Promised Me Pretty Sins. Dalam beberapa karya wacana ke-tubuh-an disajikan dalam visual yang metaforis dan puitis, seperti dalam karya Breathe to The Surface, Breath Cluster, Promised Me Pretty Sins, hingga Water Mantra. Bingkai foto yang dominan digunakan berwarna merah darah. Pemilihan warna demikin saya duga karena akar identitasnya, dalam budaya Tionghoa, warna tersebut bermakna keberuntungan/kebahagiaan. Bisa jadi pula, warna yang dipilih itu justru mewakili trauma?

Penulis: Jemi Batin Tikal, di akhir pekan; kadang tidur, kadang ke pameran. Buku esainya yang berjudul Membakar Buku, Membakar Manusia, akan terbit Maret 2026. Di ruang maya, ia bisa dijumpai di Instagram @jemibatintikal & bisa ditemui di dunia nyata di Kalimat Kopi Kotagede.

Check Also

Di Akhir Zaman, Kenapa Seorang Mesti Menyaksi Pertunjukan yang Menyuguhkan Kekacauan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *