
1.
Saat mendapat undangan untuk menyaksi pertunjukan, kau memutuskan untuk datang di hari kedua—dari pertunjukan yang berlangsung di tiga hari. Dan kau pun memutuskan menyaksi di sesi pagi: sebagai suatu variasi sebab lebih sering menyaksi pertunjukan di malam hari. Amat kau yakini bahwa pemilihan sesi pun, juga kurun, akan memberi pengalaman tersendiri dalam atmosfer penikmatan pertunjukan. Jadi, selepas sarapan dan mandi, kau berangkat ke Sakatoya Collective Space. Dan, seperti yang kau duga, dalam perjalanan ke sana, kau merasai sesuatu yang berbeda: merasai sesuatu yang lain: merasai terang dalam suatu pandang. Jalanan, bagimu, terasa lain; dan di satu gang, sebelum masuk tempat tujuan, kau berhenti memastikan: agar tak salah belok dikatakan. Sesampainya di sana, kau dapati lanskap yang lain pula; padahal sudah beberapa kali ke Sakatoya… Dan, sambil menunggu genap mulai pertunjukan, kau pun berbincang dengan beberapa kenalan dan kawan di sana. Sambil berbincang, atau menanti, kau menyisir lanskap pemandangan, sambil tetap menyimak, dan merasa kagum sendiri: Ada yang lain, ada sesuatu yang berubah dirasa hanya dengan satu perubahan variabel: siang dan malam. Dan, setelah perpanjangan 10 menit, sekalian penonton pun diimbau untuk mempersiapkan diri juga menaati peraturan yang sudah dibacakan—
Dengan perlahan, sekalian penonton menaiki tangga menuju ruang pertunjukan, menuju ruang black box. Dan saat memasuki ruang itu, kau begitu terpukau pada instalasi di sana, instalasi yang mana akan menjadi panggung dan semesta pertunjukan. Lintasan linimasamu, agaknya, sudahlah banyak memberi bocoran tentang instalasi itu; tetapi, menyaksi langsung dengan hanya melihat dari layar tentulah lain: dan kau mengamini hal yang demikian! Amatlah terpukau kau pada kain-kain yang melengkung di langit-langit di rangka besi ringan itu, kain-kain yang mana diikat sedemikain rupa dan menjelma sulur-sulur, dan juga adanya kawat-kawat yang menjadi suatu lukisan-relief juga juntaian rantai-rantai di kerekan timba di sisi lainnya. Setelah memilih tempat duduk, kau pun duduk: menyaksi depan: menyaksi boneka orang utan yang terdiam di antara instalasi yang demikian. Pintu masuk ditutup; dan ruangan pun jadi lebih gelap—meski cahaya dari luar masuk melalui ventilasi. Dan, itu kali, kau jadi penasaran sendiri: bagaimana bila menyaksi pertunjukan di kala malam, ya. Namun, saat menilik kembali judul pertunjukan, “Unknown Territory”, kau merasa mendapat suatu garis bawah yang mempertebal…
Rangga masuk; dan sepasang matamu seperti melihat ketiba-tibaan. Ia mendekati boneka orang utan itu: dan memegang pegangan di belakang kepala itu boneka. Pongo pun hidup; terbangun. Kepala Pongo bergerak: melihat sekeliling: mengeksplorasi: dan mungkin pula, lebihlah tepat dikata, mencari sesuatu yang sebelumnya ada di situ. Dan sepasang matamu seperti lupa pada Rangga: terserap menyaksi Pongo yang tengah menerka. Dan kepalamu, yang mana amat betah dihantui bahan bacaan, lekas memunculkan pernyataan bahwa adegan mula yang tengah kau saksi seperti suatu variasi dari pembuka novela Metamorfosis-nya Kafka. Kepalamu lekas saja membuat suatu pernyataan: Pongo terbangun dan mendapati semuanya berbeda . . . Kemudian, setelah kepala, Pongo merasa tangan; menggerakkan perlahan, setangan dan setangan. Lalu, ia mengetuk lantai; dan mendapati berbunyi nyaring. “Apakah ia juga kembali mengerja?” Dan, ia pun mulai mendapati suatu dayanya: dari kepala, pundak-tangan, lalu sepasang kaki. Ia pun mencoba maju, bergerak ke depan dengan sejenis ragu—
Dan kembali, kau tak genap mendapati kapan Meyda dan Jefri masuk; seperti Rangga, bagimu, mereka masuk seperti ketiba-tibaan. Lalu, Pongo digerakkan oleh mereka bertiga. Kostum ketiganya yang serupa. Dan kau, itu kali, seperti lupa: kembali tenggelam hanya pada Pongo. Ia berjalan; bergerak perlahan, maju ke depan: dan barangkali bertanya-tanya tentang kalian: sekelompok orang yang tengah menyaksi dan memandang. Setiap gerak, bagimu, ia seperti tengah menerka: ini apa, samakah dengan hal yang biasanya. Sepasang telingamu menangkap bunyi: suara yang bergema, suara yang bukan hanya menebalkan suasana—tapi juga sesuatu di dalam dada. Pongo meraih kain yang serupa dengan sulur pohon itu. Ia seperti menerka: ini sulur pohon atau bukan… Ia seperti mencoba mendefinisi dengan kata kerja: bergelantungan, menggelantung. Ia bergelantung dari satu sulur ke lain sulur. Ah, sepasang matamu begitu terpukau pada adegan itu! Di titik tertentu, ia berhenti, terhenti; dan kau menduga, meski bisa untuk bergelantungan, tetapi tetaplah saja terasa berbeda: tetap bukan biasanya.
Lalu, ketiga orang itu, ketiga citra itu, Rangga, Meyda, dan Jefri, seperti jadi tokoh pula. Pongo terikat di kain panjang terurai—terikat pada kedua tangannya yang panjang” seperti menanti suatu penghakiman atas suatu yang bukan salahnya. Meyda dan Jefri membuat bandul-bandul dari semacam kain sulur: lalu menggerakkannya, lalu mendorongnya, dan kian genap sebagai bandul. Adegan itu, bila boleh kau sebut sebagai adegan, bagimu, terdefinisi oleh dan dengan terombang-ambing, berayun yang tak memberi riang: memberi suatu janggal perasaan. Di saat itu, di saat lihat semua itu, kepala naifmu merespon dadamu, bertanya agak lugu: Kenapa sedih, bila hanya boneka, hanya benda? Namun, kau, yang suka mengumpulkan benda-benda, yang merasa benda bukan hanya benda, bisa membuat serangkaian alasan—yang barangkali amatlah pribadi.
Meyda dan Jefri ada di area kawat dan rantai besi. Senter menjelmakan bayang melalui kawat-kawat yang memberi gambar dan relief-relief. Indah: gambar dan objek-objek dari kawat itu begitu indah, pun siluet bayang di dinding. Namun, suara riuh, suara serangan perang, suara kekacauan membuat kemilau dan indah itu menjadi indah yang perih, indah yang sedih. “Apa kawat itu memang bisa menikam dan menyayat?” Suara rantai dan kerekan, dan pengadeganan atasnya, kian memberi cekam, kian memberi kengerian dalam. Dan sepasang matamu pun kau alihkan lagi ke Pongo: tak berdaya—dan menyaksi segala. Setelah ia hidup, ketidakbergerakan Pongo, bagimu, memberi rasa mencekam tersendiri, rasa sakit tersendiri: Apa yang sebenarnya ia lihat dan rasa? Pongo yang digerakkan Rangga, yang telah dilepas dari ikatannya, mendekat ke besi-besi; duduk diam lesu seperti mati. Dan kepalamu kembali memberi pertanyaan yang terlampau lugu, pertanyaan yang bisa agak lekas kau jawab kala itu: Apakah ia pernah hidup, pernah sungguh-sungguh hidup?
Suara kian riuh, kekacauan kianlah gaduh; lalu semacam senyap… Rangga berjalan ke tengah—dari tempat Pongo: berjalan seperti kera-gorila, seperti manusia purba: gerak tubuh itu seperti mengikuti irama, mengikuti bunyi dari pengeras suara. Lalu, Rangga tegak seperti manusia: ia menatap depan, menatap kejauhan. Rangga pun bergeser; mengambil Pongo dan membawanya ke dalam kelambu: berdiam dikelilingi kain menerawang. Di sana, ketika itu, sepasang matamu terpukau pada sepasang mata Pongo, pada sepasang mata dari kancing itu, pada sepasang mata yang mengingatkanmu pada film Coraline: tetapi tak memberimu horor ganjil, melainkan duka yang gigil. Kemudian, adegan yang bagimu kembali terasa tiba-tiba, lekas seperti tanpa aba-aba: Pongo seperti melayang, bergerak di suatu yang kian ambang, lalu ke tengah, ke titik mula, tapi kini dalam dekapan Meyda. Kain, dari atas, perlahan turun: menutup keduanya… Senyap, senyap yang agak lama, senyap yang terasa begitu bergema. Kemudian tepuk tangan—tanda selesai pertunjukan.
Dengan agak iseng, kau pun buka gawaimu: memastikan durasi pertunjukan memang berkisar antara 30 menitan. Dan, bagimu, pertunjukan singkat itu seperti mimpi, seperti mimpi saat tidur lagi di kala pagi, selepas subuh atau selepas sarapan. Serangkaian hal, adegan-adegan, terasa tumpang-tindih, tapi juga runut; beberapa adegan terlupa, tapi tidak dengan perasaannya… Ya, pertunjukan selesai; tapi, bagimu, pertunjukan itu tak genap rampung. Gema apresiasi masihlah terasa. Sekian nama disebut, sekian hal dipanggil. Sekian dan keriuhan selamat; dan keasyikan berfoto. Kau, selepas tenggelam pada serangkaian itu, masuk dan berkeliling instalasi yang jadi panggung itu: Apa yang dilihat oleh Pongo di sini? Lalu, kau turun: melihat hari yang terang. Lalu, hangat percakapan berlangsung. Dan, setelah obrolan, sekalian penonton itu pun pulang. Demikian pula denganmu. Namun, pulang?—Apa sebenarnya yang dimaksud pulang?
-
- Tuhan, hantu, hutan…
Saat menyaksi pertunjukan “Unknown Territory”, kau teringat pada kurun 2018-2023 di mana kau bersama beberapa kawan beraktifitas di komunitas dongeng yang kemudian berfokus pada pertunjukan boneka dan wayang kreasi. Di tahun awal, setelah serangkaian pertimbangan, kau dan kawan-kawanmu memutus memakai boneka, boneka tangan juga wayang kreasi, dengan membawa cerita yang kau karang. Pemilihan itu kalian laku sebab alasan keterbatasan tubuh… Karenanya, ketika menyaksi pertunjukan dari Flying Balloons Puppet, atau teater boneka lain, selain merasa suatu nostalgia, kau jadi cukup betah iseng bertanya: Kenapa boneka? Namun, terlepas itu, meski betah jadi penasaranmu, kau mesti mengakui, boneka atau sejenisnya telah begitu berhasil mencuri fokus penonton—bahkan pemain itu sendiri: tenggelam di itu boneka!
Saat dan setelah menyaksi teater boneka, atau apalah demikian dinama, kepalamu begitu betah dihinggapi tanya tentang boneka itu sendiri; dan bagaimana dalang atau pemain menempatkan boneka, benda atau tubuh kedua, atau malahan telah menjelma tubuh pertama; apa pula yang membeda dengan topeng bila tutupi wajah-tubuh; kapankah boneka itu bergerak-berubah dari benda ke tokoh; apa yang membeda gerak boneka dan gerak manusia? Ah, amatlah betah kau menerka-nerka; dan betah pula berbincang lama dengan lainnya. Dalam kasus lain, kau suka menerka pula, apabila timbangannya hanya perkara gerak, kipas tangan dan selendang tidak serta merta jadi boneka atau tokoh—dan masih pada dimensi benda-properti: meski tak berarti buruk pula. Meski demikian, menyaksi aksi Pongo, bagimu, itu kali, adalah sebuah pengalaman yang membekas: tubuh-pemain, boneka-benda, ruang-instalasi, bunyi dan cahaya, amat padu.
Dalam perjalanan pulang selepas pertunjukan, kau menimbang kembali, selama ini rumah dan pulang, juga pengertian atasnya, menjadi semacam monopoli manusia: seolah hanya manusia saja yang boleh memiliki dan mendefinisi. Dan saat mengingat wajah Pongo, kau jadi bertanya-tanya, setidaknya pada diri sendiri, apakah satwa tak boleh berduka dan merasakan kehilangan, tak boleh punya rumah dan pulang; apakah kehilangan yang dialami satwa bukan kehilangan—sebab konsep kepemilikan menjadi hak ganjil dari manusia? Dan, saat berhenti di lampu merah, kau mencoba memahami soalan demikian; dan bercuriga pula atas tanyamu sendiri: tanya yang jugalah berbobot antroposentris pula di satu sisi. Lampu hijau!—dan kau kembali melaju…
Menyaksi “Unknown Territory”, menyaksi aksi Pongo Abelli, pertunjukan yang bertumbuh sejak 2019, bagimu, seperti kerja menepi dari bahasa; tapi, kemudian, gema tentang bahasa itulah yang paling kau rasa! Sebagai orang yang dibesarkan studi bahasa, lisan maupun tulisan, kau percaya, bahasa adalah suatu yang khas manusia; bahwa tiap makhluk berkomunikasi, tapi hanya manusia yang berbahasa. Namun, di hadapan Pongo, di hadapan pertunjukan tanpa bahasa verbal itu, kau jadi menimbang kembali. Meski demikian, bagimu, antroposentris yang kau pahami bukan soal pusat yang berhak melaku apa pun; tetapi, lebih pada pernyataan, bahwa sebab pusat, maka tak boleh semena. Namun, di saat yang sama, kau juga dibesarkan kultur yang melihat bebenda itu berjiwa, pun tumbuhan dan satwa, gunung dan samudra. Karenanya, setelah menyaksi Pongo, kau tidaklah hendak bertanya lagi apakah satwa bisa mendefinisi atau tidak; dan lebih ingin bertanya, juga menelusuri, bagaimanakah satwa mendefinisi rumah dan pulang, mendefinisi kehilangan juga harapan, lalu menyikapinya—
Dan, itu kali, selepas mampir makan dan menggenapi beberapa hal, kau tak langsung pulang; dan memutus sejenak berkeliling jalan area kampungmu. “Ada yang lain tapi tak benar lain…” Jalanan yang sama tapi kiri-kanan yang berubah; bangunan yang berganti bentuk; tanah lapang yang biasa kau pakai bermain dulu kini sudah hilang. Ah! tanah itu masih di situ, tapi ada suatu yang tak lagi di sana. Dan, setelah sampai di rumah, di kontrakan yang belum genap setahun kau tinggali, setelah berganti pakaian dan merebah badan, kau terbayang kembali Pongo: tanah itu tetap di sana, tapi hutan itu tidak. Dan kau terbawa pada soalan lain: pada soalan tanah-rumah-pulang yang jauh maupun yang dekat; bahkan diri sendiri. Dan kau teringat tanya itu, tanya dari Tolstoy: Berapa luaskah tanah yang dibutuhkan seorang manusia? Dan, kau lekas menyahut dengan ucapan Gandhi: Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan tiap manusia, tapi tidak dengan keinginan seorang manusia. Sepasang matamu kau pejam, hendak tertidur, sebelum nanti kembali mengerja sesuatu; dan kau berdoa semoga tidak terbangun jadi seperti Samsa, tidak terbangun sebagai sesuatu yang malang, tidak terbangun di sebuah tempat yang hanya memberi ngeri, memberi ngeri… []
(Agustus, 2025)
Biodata Penulis:
Polanco S. Achri adalah seorang penyair dan penulis prosa, juga pengulas teater dan seni rupa, yang lahir dan tinggal di Yogyakarta. Selain menulis dan mengulas, kadang ia menguratori dan menyutradarai. Ia dapat dihubungi di FB: Polanco Surya Achri dan Instagram: polanco_achri.