
Judul buku : Babel Pertumpahan Darah; Sejarah Gelap Revolusi Penerjemah Oxford
Penulis : RF Kuang
Penerbit : Shira Media
Cetakan : Kesebelas, September 2025
Tebal : xvi + 640 halaman
ISBN : 978-602-7760-81-3
Novel karangan RF Kuang ini membabar bagaimana bahasa bisa menjadi instrumen politik paling penting dalam sejarah akbar kapitalisme-imperialisme di dunia. Bahasa, sebagai sebuah struktur guna membentuk konsep perihal alam pengetahuan dan budaya, menjadi satu di antara alat penakluk bangsa-bangsa lain. Melalui fungsi kontrol ini, bahasa dapat dibilang sama mendasarnya dengan sarana fisik; meriam, kapal, dan pistol.
RF Kuang secara cerdik membentangkan kisah fiksi perihal kuasa dan susur galur bahasa di dunia ini dalam novel Babel: Pertumpahan Darah; Sejarah Gelap Revolusi Penerjemah Oxford. Buku ini menarik pembaca menyelami bagaimana penerjemah dari abad ke-19 bekerja; menelusuri muasal kata, mencatat yang-tak-tercatat, dan mencari padanan kata dari beberapa bahasa dunia sebagai siasat aktivasi perak.
Tentu saja, para penerjemah di dalam semesta Babel ini tidak bekerja secara sendirian atau independen – apalagi saat pengetahuan masih terpusat-terikat. Mereka ada di bawah naungan Institut Penerjemah Kerajaan di Oxford. Di menara Babel, di gedung yang tersusun dari bebatuan inilah, mereka menghimpun, mengklasifikasi, dan mengabadikan bahasa lisan dan tulisan, tak terkecuali bahasa-bahasa yang ada di tanah koloni, tanah jajahan.
“Penerjemahan memungkinkan adanya komunikasi, yang pada gilirannya memungkinkan terjadinya diplomasi, perdagangan, dan kerja sama antar bangsa yang berbeda, yang kemudian mendatangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi semua orang.”
Pada dasarnya, saban penerjemahan bahasa apapun ke dalam bahasa asing, niscaya akan menjadi gerbang pembuka sekian kemungkinan, seperti babakan diplomasi dan niaga.
Perspektif inilah yang mula-mula diyakini dengan teguh oleh empat pemuda yang baru masuk Babel sebagai mahasiswa. Ada Robin, Ramy, Letty, dan Victoire. Mereka ini satu angkatan dengan latar belakang yang beda, tapi dipertemukan oleh guratan takdir yang sama.
Persis seperti seseorang yang mendapat rahmat mencecap nikmat ilmu, mereka sangat antusias dalam menyerap apa-apa yang tampak di depan mata; buku, kamus, manuskrip, dst. Segala kemewahan intelektual yang tak pernah mereka bayangkan, lingkungan akademik yang suportif untuk melakukan riset di sekitar bahasa, dan akses yang tak dapat mereka jangkau bila masih tinggal di dunia seberang. Dengan fasilitas komplit & megah ini, mereka menghabiskan waktu bertungkus lumus meniti jalan penerjemah.
Bisnis Kolonialisme
Saat segala hal seperti mimpi jadi nyata, Robin merasa benar-benar bimbang. Tokoh bocah laki-laki yang berasal dari Kanton lalu dibawa-diasuh oleh Profesor Lovell yang mengaku sebagai ayah angkatnya di Inggris ini, menjumpai paradoks. Ada kelit-kelindan yang tak bisa dia cerna, tak bisa dia tangkap sepenuhnya.
Robin lantas mengalami guncangan batin kala memahami bahwa sebenarnya ada relasi politik yang timpang dari tempat dimana dia belajar (Babel) dengan tempat-tempat jauh di seberang samudra – bahkan dengan kota-kota serta kondisi sosial-politik yang ada di Britania sendiri.
“Para profesor itu suka berpura-pura bahwa menara adalah suaka pengetahuan murni, bahwa Babel berada di luar urusan duniawi semacam bisnis dan perdagangan, tetapi tidak sama sekali. Ini erat kaitannya dengan kolonialisme. Ini memang bisnis kolonialisme…”
Pada dasarnya, pihak kolonial memang – biar tak menyebutnya “selalu” – punya kepentingan pada daerah pendudukan. Mereka sering mengangkut kadang secara paksa hasil pangan lokal dengan harga serendah-rendahnya, melakukan kerja rodi, sampai membikin segregasi rasial. Selain itu, pemerintah kolonial acap merekam-menelaah bahasa di tempat dimana mereka memijakkan cakar kolonialisme.
Tak ayal, bila mana mereka merasa kudu belajar bahasa lokal supaya bisa dimengerti oleh penguasa lokal dan seakan menaruh simpati padanya. Penguasaan bahasa ini tak ubahnya dengan (gerbang) penjajahan. Musababnya, lebih jauh, bahasa menjadi “mesin” ampuh dalam mendikte-mencengkeram.
Nah, dari sini, rupanya ada tangan-tangan yang turut memberi jalan mulus di dalam perjumpaan & negosiasi antar bangsa tersebut-sebut. Tentu saja, mereka adalah penerjemah. Mereka yang mengetahui susur galur bahasa-bahasa dunia, yang menjadi jembatan antar bangsa.
Dengan pengertian bahwa menara Babel, sebagai titik sentral dari Institut Penerjemahan Kerajaan, yang memainkan peran pokok dalam memuluskan jalan Inggris memperluas imperium, Robin diam-diam balik melawan, bersama perkumpulan maha rahasia dan teman-teman seangkatannya yang menyusul di belakang, mencoba menggagalkan represi bisnis imperium ke tanah koloni.
Sabda Pasar Bebas
Satu di antara motor penggerak dalam sejarah penjajahan adalah perdagangan bebas. Ada kehendak untuk menyuntikkan ide-ide revolusioner ini ke seluruh penjuru dunia.
Pasar bebas sebenarnya adalah ide dimana ketika semua orang diberi kesempatan yang sama, maka semua orang niscaya mendapat akses pada barang-barang yang mereka damba.
Katrine Marcal dalam buku Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith? (2020) menyebut bahwa pasar bebas, seturut paparan teoritis Adam Smith, “adalah cara terbaik untuk menciptakan perekonomian yang efisien. Saat pasar diperbolehkan beroperasi dengan bebas, maka menurutnya perekonomian akan berjalan seperti jam dinding, berdetik terus menerus dengan pasokan kepentingan-diri yang tak terbatas.”
Yang terjadi justru sebaliknya, jam memang senantiasa berputar, benar, tetapi ada relasi yang-tak-seimbang.
“… Apa yang sesungguhnya dimaksud dengan ‘perdagangan bebas’ adalah dominasi imperium Britania, karena, apanya yang bebas dari perdagangan yang bergantung pada kekuatan angkatan laut besar-besaran untuk mendapat akses maritim? Apanya yang bebas ketika perusahaan dagang dapat memutuskan perang, menetapkan pajak, dan menjalankan peradilan pidana serta perdata?”
Pendudukan beneran dari pihak koloni mula-mula adalah hajat ekonomi. Tepat setelah hasrat buas pasar bebas bisa disuntik ke tanah koloni, kita tahu, organisasi dagang dari tanah seberang memaksakan kehendak & menginginkan yang lebih.
RF Kuang merajut benang cerita nan kompleks menjadi bentang naratif nan mengagumkan. Yang merentang dari tema-tema besar; kolonialisme-imperialisme, rasialisme, politik pengetahuan dan penerjemahan.
Dengan detail spesifik di setiap kelokan dan lacakan istilah dari bahasa-bahasa yang pernah diucap-tuliskan manusia di belahan dunia, penulis trilogi Poppy War ini pun memberi kepuasan membaca. Baik segi ide maupun instrumen sastrawi sama-sama apik.
Novel ini agaknya menandaskan bahwa bahasa manusia – sebagai bagian dari warisan & sistem kultural – sungguh kaya, dan betapa politik bisa mendisposisikan bahasa sebagai media kontrol. Eh, serius? Baca buku ini dong!
Penulis: Adib Baroya, pengajar bahasa Inggris dan peresensi buku. Kini sedang menyiapkan buku kumpulan esai pertamanya. Bisa disapa di akun instagram @dibbaroya atau gmail adib.baroya@gmail.com
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan