
Setelah mandi, kau pergi ke kedai dekat kontrakan, untuk makan siang dan menikmati kopi. Di sana, kau dapati kawanmu tengah menatap laptop dengan begitu dalam, dan mengetik sesuatu. Setelah memesan, kau duduk di hadapannya; bertanya, tengah mengerja apa. Dengan mantap, dia berkata, tengah menulis ulasan dari pertunjukan Karangdunyo yang berjudul “Kisah-Kisah tentang Kuda-Kuda dan Daun-Daun”, yang dipentaskan 20 Desember lalu. Dan tentu, dia lekas bertanya padamu, kenapa kemarin tak datang ke Sakatoya, menyaksikan pertunjukan. Dengan santai, kau lekas menyahut, tengah menyelesaikan dan mengurus surat-surat untuk kelulusan studi lanjutan; dan tak lupa pula kau sampaikan, baru saja kau selesaikan sebuah cerpen yang lama terbengkalai, lalu mengirimkannya ke sebuah media daring. Dia pun menyeruput kopi; dan menganggukkan pelan kepala.
Pesananmu jadi; dan kau mengide, menjadikan kawanmu yang sama-sama beralis tebal sebagai radio yang menemani makan—dengan mengajukan pertanyaan tentang bagaimana pertunjukan kemarin lusa itu: Bung, bagaimana pertunjukan kemarin? Dengan antusias, lekas saja, dia bercerita; dan kau nikmati makananmu sambil mendengar ocehannya tentang pertunjukan—
Dia bercerita, datang lebih awal dari biasanya; dan di sana, berbincang dengan salah seorang kenalan berkait sebuah naskah terjemahan. Itu hari, kau tahu, Bung, ucapnya sambil menggeser sedikit laptop, hujan turun begitu lebat; dan pertunjukan sejenak diundur, sebab calon penonton belum genap datang-terkumpul. Dan sambil mengunyah, kau menyahut: Ternyata hujan masih dapat menunda sebuah pertunjukan, ya, sedang di tempat yang lain, meski hujan deras, sebuah aturan dan keputusan konyol untuk negara bisa lekas disahkan. Ia tertawa; dan melanjutkan cerita tentang pertunjukan itu: Setelah agak ramai, dan terus saja bertambah ramai, Robby pun mengumumkan, bahwa pertunjukan akan segera dimulai; dan menyampaikan pula tentang pijakan awal dan serentetan aturan; dan sekalian perlahan genap menjadi penonton—dengan naik ke ruang atas.
Dia melanjut cerita dengan berkata, sebelum genap dimulai, dia sudah masuk ke dalam ruang pertunjukan: menyapa kawan dan kenalan. Namun, dia menyampai pula, bahwa ketika masuk, didapati suatu atmosfer lain. Di sana, dia berkata, mendapati berbagai benda-benda. Dan, kau menyahut: Benda-benda itu berhasil menjadi suatu yang lain, kan, berhasil menjadi metafora, kan? Dengan mantap, dia mengiyakan. Setelah meminum air putih, yang juga menjadi pesanan, kau nikmati kopi itu sambil mendengar ocehan lagi. Piring yang sudah habis itu kau tepikan…
Dia melanjutkan dengan berkata, bahwa ketiga aktor, bila ketiganya bisa disebut sebagai aktor, diberi ruang untuk beraksi dan berbincang sendiri-sendiri: diberi bagian menyampaikan suatu narasi. Lalu, ucapnya menyambung lagi, ketika salah satu aktor beraksi dengan suatu kecil dramaturgi, dua yang lain akan melaku aksi sendiri-sendiri—yang bergerak antara menunjang dan mengacaukan. Setelah menyeruput kopi lagi, kau langsung saja menyambar: Bukankah Karangdunyo sering melaku hal seperti itu? Ia mengiyakan; dan lekas menyampaikan, jika di pertunjukan itu kali, dia merasa begitu terpecah, lain dari pertunjukan-pertunjukan lalu, yang pernah didatanginya, di mana banyak fokus tetapi seluruh tadi bisa genap disaksi-dialami.
Dia memesan kopi saset segelas lagi; dan si penjual, yang telah hapal, santai saja mengiyakan. Lalu, dia melanjutkan… Ia berkata, soalan itulah yang cukup lama mengganggu kepalanya; dan cukup menyulitkan ketika hendak menuliskan sebagai sebuah ulasan. Dia pun melanjutkan, bahwa monolog-monolog dari tiap-tiap aktor itu begitu tumpang-tindih, bergerak dari teks-teks agung yang tak kronologis ke teks-teks ecek-ecek yang runut, dari data-data rumpang ke cerita-cerita baku, dari fiksi realisme ke realita ganjil sehari-hari. Di beberapa bagian, kau tahu, Bung, ucapnya setelah berterima kasih kepada penjual yang mengantarkan kopi pesanan, aku seperti menyaksi sejenis pementasan dari cerpen-cerpen di dalam Sentimentalisme Calon Mayat-nya Sony, yang dibentuk ulang oleh Darryl dan disutradarai oleh Adit dengan paralel Temanggung yang didatangi oleh Karangdunyo—dan disuguhkan dengan dramaturgi koki-koki yang lapar. Mendengar itu, kau mengernyitkan dahi: Janggal juga kau, Bung, dalam menafsir dan membuat sejenis perumpamaan, meski bisa juga kubayangkan…

Ia bercerita pula tentang kekagumannya ketika adegan menanam pohon dari kardus dan kertas-kertasan: kardus industri, duplikat kartu keluarga, dan uang-uangan yang hadir sebagai parodi. Sangat puitik, ya, kan, Bung, ucapnya mantap, terlebih untuk sebuah kolektif yang mencoba menjadi antipuitik, ya, kan? Dia menyampaikan pula, bahwa dia terpukau juga pada bagaimana layar di belakang panggung dijelmakan tubuh Barongsai yang kepalanya dicipta dari anyaman kuda-lumping dan ekornya dari pecut jathilan. Seperti seekor kuda suci, seperti Buraq, dalam ilustrasi-ilustrasi itu, Bung, ucapnya dengan amat antusias. Dia juga menyebutkan tentang tembang, Genesis, harga jual tembakau, dan live Facebook ketika layar telah kembali dipasang di bagian belakang panggung. Seacak itukah, Bung, sahutmu lekas-lekas, sampai-sampai kau berkisah dengan lebih acak? Dia mengangguk; dan menambahkan: Sebab itu pula aku agak sulit menuliskannya…
Namun, Bung, sahutmu, bagaimana bila mereka memang antinaratif; dan kau malah mencoba menulis sebuah ulasan dengan kacamata naratif? Dia tertawa, membenarkan; lantas menyahut: Sepertinya tugas akhirmu yang memakai naratologi itu sungguh-sungguh menubuh, ya?
Setelah menyeruput kopi masing-masing, dia kembali berkata, itu kali dia melaku eksperimen menonton pula. Kau yang penasaran lekas membalas dengan bertanya apa. Dia pun menyampai bahwa sepanjang pertunjukan dia berdiri; hadir dengan suatu dramaturgi Jathilan; sebab judul kuda-kuda dan ikon kuda lumping. Dia menyampaikan jika sepanjang pertunjukan dia merasa bahwa presentasi di dalam ruang telah memberi soal sendiri pada cara menonton. Dan kau lekas saja bertanya: Bukankah kau sendiri yang memilih untuk berdiri sepanjang pertunjukan? Dia mengiyakan; dan lantas juga menambahkan, bahwa tata ruang itu, seperti pertunjukan Jathilan, di mana ada batas arena, dengan tali rafia pula!
Baiklah, bila kau kekeh melihat dengan dramaturgi begitu, ucapmu dalam, lalu katakan padaku, bukankah kau tak melihat mereka kesurupan? Dengan mantap, dia lekas saja menyahut, mereka tak genap meliar, tapi tetap kerasukan: kerasukan data dan informasi yang tumpang-tindih dan tak runut, tak kronologis. Dia menyebut bahwa di satu bagian ada kisah tokoh suci purba yang mendarat di pulau Jawa dan segera menjelma kata-kata berbunyi “a” menjadi “o”; padahal pergeseran bunyi baru terjadi era Sultan Agung, meski telah diinisiasi Panembahan Senopati…
Dia bercerita pula tentang diskusi selepas pentas; dan mendapati tanya tentang bagaimanakah seorang sebenarnya mesti menonton, dan kenapa harus menonton pertunjukan demikian ketika situasi begini rupa? Kau habiskan kopimu; dan berkata: Aku balik dulu, ya, mau mengerjakan yang lain, dan lagipula kau juga mau menyelesaikan ulasan, kan? Dia pun mengangguk. Dan, kukira, ucapmu sambil berjalan ke penjual untuk membayar, sejenis jawab atas tanya itu akan muncul dengan kesadaran lugu yang agak tolol, bahwa kita mesti terus datang dan menonton, mesti hadir dan menyaksi. Dia berkata, dia yang akan membayar: sebab ada suatu rezeki. Dan kau berterima kasih. Esok, ucapnya, bila dipentaskan lagi, kau mesti menonton, Bung. Dan kau mengangguk; lalu menyahut: Namun, kalau aku boleh menyaran, meski tak hadir, dan hanya menimbang menurut ceritamu, Bung, pertunjukan model itu mestinya diuji dan dipresentasi di lapangan atau di pasar, atau bahkan di sebuah terminal di antara bus-bus yang pergi-datang, bukan di ruang kotak yang penontonnya sudah dikondisikan… Dia tampak tersenyum riang; dan berkata agar kau melanjutkan lebih. Kalau kau bilang mereka tengah menyuguhkan suatu eksperimen makanan berupa naget campur baur, ucapmu di dekatnya, lalu disuguhkan kepada kawan-kenalan, bukankah sebagai suatu bentuk menghargai para tamu-undangan, akan makan, meski sepulang dari pertunjukan mereka kan mengutuki beberapa hal? Dan kau melanjutkan lagi: Namun, bagaimana bila nuget eksperimental itu dijajakan di sebuah pasar, di sebuah tanah lapang, di sebuah terminal, bahkan tanpa bayaran, apakah mereka yang datang atau kebetulan ada di sana mau makan, atau sekadar mencicipi? Dia pun tersenyum; dan memasukkan ucapan darimu ke dalam ketikannya—
Kau pamit pulang padanya lagi; dan di ujung pandang, kau lihat ia tenggelam menuliskan. []
(Yogyakarta, Desember 2025—Januari 2026)
Penulis: Polanco S. Achri (l. 1998) adalah seorang penyair dan penulis prosa, juga pengulas teater dan seni rupa, yang lahir dan tinggal di Yogyakarta. Selain menulis dan mengulas, terkadang ia juga menyutradarai pertunjukan, menguratori pameran, dan memproduseri film dokumenter kecil-kecilan. Ia dapat dihubungi di FB: Polanco Surya Achri dan/atau Instagram: polanco_achri.
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan