
Presiden Prabowo—selanjutnya Prabowo—prihatin terhadap orang-orang pintar di Indonesia. Pasalnya bagi Prabowo orang-orang pintar itu hanya bisa bicara, mengejek, mencari kesalahan terus, tapi tidak bisa membuat jembatan, tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan, tidak bisa menjamin beras ada, tidak bisa menjamin elpiji dan BBM ada, tidak bisa menjamin apa-apa. Prabowo mengatakan itu saat HUT ke-61 Partai Golkar di Jakarta, Jumat, 5 Desember 2025.
Inilah yang kemudian disebut sebagai logical fallacy. Jika tidak salah, lebih dari dua puluh jenis sesat pikir di belantara kehidupan manusia. Pada bagian manakah, sesuai ucapannya di atas, Prabowo berdiri?
Pertama, tatanan ucapan Prabowo berada di strawman. Polanya: memelintir argumen lawan secara salah.
Bagi Prabowo, orang-orang pintar yang mengkritik dirinya—yang sebenarnya itu adalah kinerjanya—tak lebih sekadar orang-orang bergosip. Hanya bisa membicarakan. Hanya bisa mencari hal-hal yang buruk. Di satu sisi, semua omongan itu tak mampu mendatangkan apapun seperti yang dilakukan Prabowo.
Membandingkan antara orang pintar dengan pekerjaan bisa disederhanakan sebagai: posisi subjek melawan predikat dan objek. Tentu akhirnya, semuanya bakal salah. Inilah jenis sesat pikir kedua yang dilontarkan Prabowo. Namanya tu quoque. Membalas kritik dengan menyerang balik, alih-alih menanggapi.
Prabowo melakukan serangan balik kepada orang-orang pintar itu dengan cara membandingkan semuanya berdasarkan posisi. Tentu, orang-orang pintar yang dimaksud Prabowo memang tak bisa melakukan apapun seperti ucapannya. Jawabannya jelas: mereka, orang-orang pintar itu, bukan pemangku jabatan. Bahkan, orang paling kaya sekalipun, tetap tak bisa menyediakan gas elpiji, BBM, lapangan kerja, kalau tak diberi akses.
Pokok dari orang-orang pintar itu bukanlah menghasilkan produk seperti ucapan Prabowo. Ini tak jauh beda dengan meminta pemilik modal dan pemilik mesin untuk melakukan pekerjaan kasar sebagaimana buruh melakukan. Sesat pikir ini, yang menyamakan segala hal, berdasarkan manfaat satu arah, adalah sebuah kegagalan dalam memahami hal paling dasar, misalnya apakah apel dengan pir itu sama? Apakah jeruk keprok dengan jeruk Bali itu berbeda?
Produk dari orang-orang pintar itu—yang mengkritik tentunya—adalah bahan dasar untuk evaluasi. Orang-orang pintar itu sudah tahu, mengapa akhirnya harus mengkritik, pemerintah sudah lelah bekerja, setiap manusia memiliki modal dan daya yang terbatas, sehingga perlu dorongan dari luar lingkaran, itulah orang-orang pintar. Apabila orang-orang pintar hendak dipinggirkan karena mengkritik, bayangkan saja pelatih sepak bola harus melatih kiper juga, wasit lapangan harus berada di pinggir garis secara bersamaan. Hal itu mungkin terjadi jika dunia ini sama logisnya dengan dunia ninja ala manga Naruto, bisa mengeluarkan teknik seribu bayangan.
Argumen yang dilontarkan Prabowo pada akhirnya hanyalah nonsense. Itu semacam, dalam bagian sesat pikir lainnya, special pleading. Sebuah sesat pikir yang memilih membela diri sendiri dan mengatakan dirinya yang benar.
Dia benar karena di posisinya bisa menyediakan pasokan BBM, elpiji, membuat jembatan, beras, dan sebagainya. Namun, sebenarnya, jika buruh sekalipun, katakanlah saya diberikan modal yang besar, juga bisa melakukan demikian. Ini hanya perihal posisi. Siapa saja bisa memberikan produk, seperti pemerintah memberikan lapangan kerja, tapi untuk warga asing, yang baru-baru ini kedapatan bercokol di Morowali.
Penulis: Radja Sinaga, penyandang disabilitas.
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan