PERIHAL AHMAD FUADI
“Merantaulah, kau akan mendapat
pengganti kerabat dan teman.
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup
terasa setelah lelah berjuang.”
— Imam Syafi’i (dikutip oleh Ahmad Fuadi, Rantau 1 Muara)
Aku mau merantau karena tak ada yang
menyebut namaku dengan utuh. Hanya nomor
antrean dan alamat email yang diingat orang.
Kota ini memanggil kita dengan mata
curiga dan senyum tipis. Kepercayaan
dibeli dalam obrolan yang setipis kuitansi.
Aku tidur di kamar sempit dengan jendela
ke arah tembok. Bukan suara azan yang
membangunkanku, tapi klakson truk sampah.
Pernah aku rindu bau kayu bakar dan suara
ibu di pagi hari, tapi perantauan mengajari:
rindu tak memberi diskon pada harga sewa.
Aku pernah bertanya, apa makna kehilangan
jika terus terjadi. Seseorang menjawab: itu
harga yang dibayar untuk tumbuh.
Di koperku, kutinggalkan bahasa ibuku, dan
logat yang dulu membuatku pulang. Di dadaku,
kupeluk sabar yang kubangun dari jalan-jalan asing.
Disita—waktu remaja, tawa yang mudah, sandal jepit
dan jam dinding rumah. Tapi kutemukan gantinya: nafas
yang tenang, dan punggung yang kuat menampung hujan.
Setiap hari ada yang lepas dari diriku: sepotong
mimpi lama, satu aksen, atau jarak
yang tak lagi terasa pedih.
2025
PERIHAL BOY CANDRA
“Kalau kita mau sukses, kita harus kerja
lebih awal dari orang lain.”
— Boy Candra, Malik & Elsa
1. Aku bangun saat jalanan masih diam seperti rahasia
2. Jam alarmku berbunyi sebelum ayam punya alasan untuk berkokok
3. Orang-orang bilang: pagi membawa rezeki, tapi tak bilang apa rezekinya
4. Cahaya lampu dapur lebih hangat dari notifikasi siapa pun
5. Aku minum kopi pahit seperti mencicipi hari yang belum terjadi
6. Di luar, angin masih berbisik pada daun yang belum lepas
7. Langkah-langkahku mendahului bayanganku sendiri
8. Jendela belum terbuka, tapi ambisi sudah melompat keluar
9. Kadang aku tak tahu bedanya: disiplin atau pelarian
10. Lelah menjelma angka di layar, bukan wajah di cermin
11. Rajin, katanya—padahal aku sedang sembunyi dari jatuh
12. Kepalaku penuh to-do list bahkan saat masih mimpi
13. Tak ada yang bertepuk tangan untuk pagi yang sunyi
14. Tapi suara detik jam terasa seperti pujian yang cukup
2025
IRZI ialah nom de plume Ikhsan Risfandi yang lahir di Jakarta 1985. IRZI sempat menjajal peruntungan sebagai gitaris Jazz kemudian banting gitar untuk fokus menempuh kepenulisan puisi Jess & Beatawi, sesekali cerpen. Buku puisi pertamanya Ruang Bicara terbit pada 2019. Trivia Kampung Sawah terbit pada November 2024 ini di Velodrom sebagai bukunya yang kedua. Ia bisa dihubungi via IG : https://www.instagram.com/ikhsan_risfandi/
sumber gambar: pinterest