
Judul Buku: Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu
Penulis: Sasti Gotama
Cetakan: I, Maret 2024
Penerbit: Penerbit Mizan
Tebal: 157 halaman
ISBN: 978-602-441-340-8
Saya harus membaca berulang kali saat ingin memasuki dan memahami semesta cerita Sasti dalam buku kumpulan cerpen Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu (saya singkat Asgadibuku). Membaca buku ini saya seperti masuk ke pasar malam dan melihat sirkus yang penuh ramai dengan sorakan penonton, warna-warni kembang api, kejutan dan tentu saja labirin tersembunyi. Buku kumpulan cerpen ini memuat 20 cerpen Sasti yang beberapa pernah dimuat di media cetak maupun daring, dan beberapa lagi pernah memenangkan ajang lomba kepenulisan. Tema-tema cerita di dalam kumcer ini kebanyakan adalah soal-soal kekerasan seksual, bullying, patriarki, gender, ekologi, dan kesehatan mental. Mungkin ini berkait dengan profesi Sasti sebelum ia totalitas menjadi seorang penulis penuh waktu, yakni seorang dokter. Sehingga tema-tema dan ide-ide besar dari tiap ceritanya merupakan sebuah wacana psikologi, serta suara-suara marjinal, yang kadang tidak diberi tempat dalam kehidupan masyarakat patriarki.
Dalam cerita-cerita ini setidaknya Sasti ingin menggoyang tatanan yang sudah mapan itu. cerita-ceritanya penuh dengan makna simbolik, dan juga berbaur dengan fiksi dan fakta sekaligus, psikologi tokoh dan masyarakat digoyang. Kengerian dan kelucuan dibungkus menjadi satu, kepedulian dan ketakpedulian juga dibaurkan sehingga pembaca yang tidak jeli belum tentu bisa membedakannya, pesan apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Sasti dalam tiap-tiap ceritanya.
Saya sendiri awalnya juga bingung dan hampir menyerah dalam melakukan pembacaan, karena kadang tokoh-tokoh Sasti itu janggal dan aneh, seperti tidak ada di dunia nyata. Ia seperti khayali, dari tempat yang jauh, karena memang ini fiksi. Akan tetapi ide dan tema-tema yang diusung oleh Sasti dalam ceritanya adalah tema-tema besar yang ada di masyarakat kita tapi seringkali luput, seperti krisis mental, gender, depresi, relasi kuasa, krisis empati, bullying, dan pelecehan seksual misalnya. Dan yang paling menonjol adalah ketidakadilan sistem patriarki.
Sebut saja cerita yang paling saya suka dalam kumcer ini berjudul Lingkaran, bercerita tentang seorang perempuan yang mengalami perputaran takdir reingkarnasi hidup dan mati yang berulang. Cerita ini menitikberatkan pada pesan tentang kesetaraan gender itu sendiri. Dan bagaimana sebuah sistem patriarki bekerja. Sasti mengkritik itu secara halus dan lembut dalam tiap perputaran takdir seorang perempuan dengan kisah cinta yang sedih itu. Berulang kali si tokoh perempuan hidup dan mati menjadi korban sistem, dan si tokoh lelaki selalu menjadi pelakunya. Si tokoh lelaki selalu menjadi subjek peradaban, sedangkan si tokoh perempuan selalu menjadi korban sistem yang selalu dikucilkan dan dikecilkan peran dan peranannya. Namun meskipun si tokoh perempuan tahu ia hanya menjadi korban sistem, dan hanya menjadi manusia kelas dua, ia tetap mencintai si tokoh lelaki, bagaimanapun keadaannya. Cinta tidak hanya membuat orang menjadi tolol dan gila, tapi juga membuat seorang perempuan rela mengalami perputaran takdir yang tak pernah menguntungkan dirinya sama sekali di dunia patriarki selama ribuan tahun, dan ia tetap bahagia. Betapa cinta separah itu, padahal cinta seharusnya juga bisa menggoyang sistem dan tatanan yang sudah mapan di dalam masyarakat era kiwari maupun di dalam semesta Sasti.
Sasti memberikan pesan-pesan simbolik dalam tiap karyanya, sehingga pembaca tidak bisa hanya sekali baca saja untuk menemukan pesan dan joussance itu, tapi minimal dua kali baca bahkan sampai berpuluh kali baca baru pembaca akan menemukan apa yang ingin disampaikan oleh cerita-cerita Sasti dan apa yang kira-kira bisa dinikmati dari seluruh ceritanya. Mungkin ini terdengar berat dan sok, tapi saya kira Sasti ingin melatih kita para pembacanya untuk naik ke level pembacaan tingkat lanjut, kalau meminjam Barthes; kita tidak hanya membaca secara denotasi permukaannya saja, tapi juga konotasi, apa yang ada di balik sebuah teks atau cerita. Maka membaca kumcer ini kita mesti membaca secara kontekstual, lalu mengusahakan untuk menemukan jawaban dan kebenaran di balik cerita itu sendiri. Dan kita juga bisa melihat bagaimana jungkir balik dan puspa ragam cerita Sasti bisa menumbuhkan semacam kenikmatan membaca tersendiri bagi para pembacanya.
Makna simbolik yang saya tangkap dalam keseluruhan kumpulan cerita Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu adalah bahwa sebenarnya ada sesuatu yang besar di balik peradaban kita sekarang, bahwa ada sesuatu yang tersembunyi yang harus kita bongkar dengan berani dan kritis. Dan itu tidak bisa serta merta selesai dalam satu ayunan, tapi sebagaimana cara membaca cerita Sasti yang berulang, telaten, konsisten, dan teliti. Jangan-jangan kita selama ini tidak melihat masalah dengan tuntas dan jelas, jangan-jangan ada yang luput dari analisis dan pengamatan kita terhadap hidup, dan sistem yang bekerja di dalamnya.
Dan kemarin, alhamdulillah kumcer Akhir Sang Gajah di Bukit Kupu-kupu ini berhasil memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 untuk kategori cerpen. Barakallah, banyak selamat untuk Sasti Gotama, cerita-ceritanya, dan para pembaca semua.
Purbadana, Juni 2025
Penulis: Juli Prasetya adalah seorang penulis muda asal Banyumas. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung di Desa Purbadana, Kembaran. No. Rekening BRI 0077-01-051908-50-7 a.n. Juli Prasetya. Whatsapp. 089649016878 FB : Juli Prasetya Alkamzy.
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan