Tambang Timah Memang Bukan Identitas Kebanggaan Masyarakat Bangka

Traditional tin mining is seen here in Bangka Island, Indonesia on Wednesday, July 29, 2015. An old dredger that not in use anymore is seen here. Photographer: Dimas Ardian/Bloomberg

Suatu pagi saya berkontemplasi akan kenangan masa kanak di Bangka hingga mengerucut ke sebuah pertanyaan menarik “mengapa tidak ada cerita rakyat atau lagu anak yang bertema tambang?” Cerita rakyat yang berkembang di masyarakat melulu seputar keluarga yang bertani di ladang atau nelayan yang menerjang badai laut. Si Kelingking adalah anak dari pasangan petani miskin yang sehari-hari mencari penghidupan di ladang kering kaki bukit. Si Penyumpit adalah petani yang menjaga ladangnya dari serangan babi hutan. Lebih variatifnya, Budi adalah seorang nelayan sederhana nan baik hati yang kebesaran hatinya termahsyur menjelma legenda Pulau Kapal yang dijunjung masyarakat Bangka.

Tak hanya cerita rakyat, begitupun lagu-lagu anak tradisional yang digaungkan dalam muatan lokal kedaerahan sejak sekolah dasar. Jelas sekali Yo Miak! adalah lagu ajakan untuk pergi ke ladang atau yang disebut orang Bangka sebagai ume. Lagu ini juga menarasikan kegiatan berladang ala masyarakat Bangka dari berangkat ke ladang hingga pulang pada waktu petang. Mutik Sahang bahkan mendeskripsikan dengan jelas kegembiraan masyarakat Bangka saat panen lada. Keseluruhan produk budaya yang menjadi warisan nenek moyang masyarakat Bangka ini dengan bangganya menyematkan masyarakat agrikultural sebagai identitas yang melekat di masyarakat. Mengapa tak ada satupun identitas budaya yang mengaminkan penambang sebagai identitas kebanggaan orang Bangka?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis melakukan pencarian sederhana dan menemukan fakta bahwa keabsenan memori kolektif orang Bangka terhadap tambang timah cukup beralasan. Jika menilik sejarahnya, titik mula ditemukannya fakta bahwa mineral bernilai prestisius yang terkandung di bumi Serumpun Sebalai bukan berasal dari masyarakat Bangka itu sendiri. Berdasarkan paparan penelitian yang dilakukan oleh Swastiwi dkk (2017) setidaknya terdapat tiga versi cerita yang diyakini menjadi awal mula penemuan timah di Bangka dan ketiga-tiganya tidak mengindikasikan keterlibatan putra daerah sebagai aktor utamanya. Cerita pertama menyebutkan bahwa penemuan mineral timah pada tahun 1707 dilakukan oleh pihak Belanda yang penasaran akan mineral yang meleleh saat penduduk membakar sampah daun di ladang. Cerita kedua mendeskripsikan penemuan timah ini terjadi pada tahun 1709 yang dilakukan oleh pendatang Johor bergaris keturunan Cina yang sudah memiliki pengetahuan akan timah sebelumnya. Serta, cerita ketiga menyebutkan bahwa penemuan timah dilakukan oleh seorang pendatang asal Cina bernama Boen Asiong yang pertama kali melakukan penambangan timah di kampung Belo Mentok.

Sejak kepopuleran timah pada abad 17 tersebut, mata dunia tertuju pada Pulau Bangka sebagai sumber mineral timah baru yang menjanjikan. Kesultanan Palembang yang saat itu memiliki kuasa atas Pulau Bangka melakukan eksplorasi penggalian tanah dan menjalin kerja sama dagang dengan pihak Belanda yang dahulu berupa kongsi dagang VOC. Namun, lagi-lagi peran putra daerah Bangka minim sekalipun sebagai pekerja kasar tambang. Kesultanan Palembang justru mendatangkan pekerja Cina dan transmigrasinya berlangsung dalam gelombang cukup besar. Hingga Pulau Bangka berada di tangan imperialis Belanda, pengerukan sumber daya non terbaharui ini tetap berada di kuli etnis Cina dengan Belanda yang meraup bergulden-gulden hasil penjualan timah yang mencapai prestasi sebagai pemasok timah terbesar Asia.

Fakta sejarah ini demikian ironis jika kita memandang tambang timah dari sudut pandang penduduk setempat. Eksplorasi timah yang terkubur nun di bawah tanah sama dengan penghancuran lahan ladang penduduk agrikultural secara besar-besaran. Benar adanya jika tambang timah selalu menjadi sumber segala hal bernilai negatif bagi masyarakat asli Bangka. Hingga detik ini, jika berbicara perkara tambang timah, hal yang tercitra di pucuk pikir adalah persoalan ekologis seperti eksploitasi, kerusakan lingkungan, perubahan lanskap tanah menjelma lubang kolong memalukan, hingga masalah kesenjangan sosial seperti putus sekolah dan tambang ilegal yang berakhir di bui. Meski seantero dunia menyebut timah sebagai ikonik paling termahsyur dari pulau kecil nun di area perairan Sumatera tersebut, masyarakat Bangka sendiri tak pernah bangga atas pencapaian tersebut. Baru-baru ini muncul data, bahwa Bangka Belitung memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) terbesar di Sumatra, sejumalh 443 izin. Data yang menjadi kabar buruk bagi warga dan seluruh pendukung kehidupannya.

Bahkan hingga pascakemerdekaan, timah dialihkuasakan ke korporasi seperti PT Timah dan Koba Tin. Kala masyarakat melakukan pertambangan rakyat, Undang-Undang seolah memopor genjatan hukuman yang mendeklarasikan bahwa ini hal yang keji. Bahkan ketika sempat direstui melalui terbitnya Surat Keputusan Bupati Bangka No.540.K/271/Tamben/2001 tentang Pemberian Usaha Pertambangan untuk Pengolahan dan Penjualan (ekspor), permasalahan tambang timah ini semakin menjadi simalakama bagi masyarakat sebagai suatu hal yang menyejahterakan sekaligus menghancurkan.

Di era pascatambang dewasa ini, agaknya bukan hal mustahil bagi masyarakat untuk move on dari sektor tambang karena memang masyarakat Bangka tak pernah benar-benar mencintai dan berbangga diri akan sektor ini. Mengingat hubungan panas masyarakat Bangka dengan timah lebih terlihat semacam ketergantungan sebab kadung tersistem oleh pihak yang lebih berkuasa. Pemberdayaan diri ini seiring sejalan dengan penguatan bahwa masyarakat Bangka mampu untuk kembali ke identitas aslinya sebagai masyarakat agrikultural yang memberdayakan hasil lada, karet, dan palawija. Atau bahkan melebarkan peluang berbasis ekonomi kreatif dan modern yang bersesuaian dengan perkembangan zaman. Jika pemerintah benar-benar mementingkan hajat hidup warga Bangka Belitung di masa depan dalam jangka panjang, harusnya bukan memperbolehkan izin tambang ketika menghadapi demonstrasi beberapa waktu lalu.

 

Referensi: Swastiwi, A., Nugraha, S., Purnomo, H. (2017). Lintas Sejarah Perdagangan Timah.             Tanjungpinang: CV Genta Advertising.

Catatan: Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di timelines.id

Penulis: Windy Shelia Azhar merupakan penulis berdarah Melayu Bangka yang saat ini bermukim di Bali. Ia pernah berkuliah di jurusan Sastra Inggris lalu menempuh pendidikan Ilmu Komunikasi. Cerpen dan esai yang ia tulis berkutat dengan isu gender, lingkungan, dan kebahasaan telah tersebar di berbagai medium. Flash fiction-nya yang berjudul “In Tala’s Womb” menjadi cerita terpilih dalam Porch Literary Magazine. Ia juga bagian dari Kebun Kata, komunitas literasi berbasis di Bangka Belitung. Saat ini, ia sedang menyelesaikan buku esai pertamanya. Jalin korespondensi dengannya via pos el: tuliswindy@gmail.com atau baca tulisannya di medium.com/@windyazhar.

Editor: Jemi Batin Tikal

Check Also

Tegangan Identitas & Memori Tubuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *