
Perkembangan dunia digital tengah menjadi topik hangat dalam dunia sastra. Peralihan bentuk konvensional ke dalam bentuk digital setidaknya menjamah segala aspek secara intim, terutama dalam persoalan tulis menulis. Perlu cermat dalam menganalisisnya, jangan hanya dijadikan sesuatu yang ilusif, mengingat perkembangan sastra yang distempel sebagai bumbu dalam kehidupan perlu mendapat perhatian secara massal, terutama generasi baru sebagai penegak berdirinya buku-buku. Sejatinya, ketika dikupas menggunakan penelaahan mendalam, sastra menyimpan banyak persoalan sebagai proses reviu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Entah yang berkaitan dengan pendidikan, sosial, politik, ekonomi, lingkungan, dan lainnya.
Memahami sastra di masa kini terkesan abstrak. Argumen yang muncul begitu variatif. Ada yang mengatakan bahwa kehadiran sastra sebagai sarana rekreasi, ada yang mengatakan sebagai sarana edukasi, juga ada yang mengatakan sebagai sarana estetis. Toko buku kecil era 2000-an begitu masif di jalan-jalan kini tinggal nama, ada yang bertahan tapi hanya sekadarnya, sekali pun ada yang mencari, banyak yang menanyakan buku sukses dini dan tips usaha di usia muda. Tidak salah, tapi bagaimana cara mereka membangun penalaran?
Sebetulnya, kesadaran dan keinginan seseorang untuk lebih jauh mengenal dunia sastra sudah muncul melalui habituasi orang-orang yang membaca di mana saja, sebut saja di transportasi umum, kafe, atau taman-taman yang menjadi wadah mumpuni sebagai tempat pemantik ide. Perilaku tersebut menjadikan ekosistem sastra terus tumbuh dan akan selalu tumbuh. Akan tetapi, perilaku atas nama digitalisasi seakan memprovokasi sehingga distraksi seringkali muncul, padahal konsentrasinya hanya ingin mencari definisi kata di KBBI yang kemudian muncul algoritma media sosial di layar ponsel. Ini tidak hanya dialami oleh individu, tapi secara universal.
Dengan begitu, kehadiran buku digital yang ditengarai sebagai obat dari adanya bahan sastra yang diakses secara mudah justru tujuannya dianggap semu karena aroma notifikasi lebih sedap untuk dicicip dibandingkan bacaan di dalam ponsel. Akibatnya, pembaca yang sedang berinteraksi dengan bacaan di ponselnya menjadi tidak komprehensif, tidak tuntas, juga tidak konklusif. Wajar saja jika problem yang muncul kini soal masa depan sastra terjadi karena tawaran konten di berbagai platform ditengarai menjadi penyebab terjadinya hal ini. Lalu, yang menjadi PR bersama adalah membangun kesadaran untuk membagi waktu antara berselancar di gawai atau mengisi waktu luang antara membaca dan menulis.
Medium sastra yang di antaranya adalah membaca dan menulis mulai diabaikan karena adanya platform praktis untuk mendapat informasi, seperti siniar pendek, konten visual, dan hiruk pikuk media sosial lainnya yang bahkan dengan membaca judulnya saja pembaca sudah menjustifikasi objek, juga seakan membutakan yang disebut dengan proses simbiosis panjang. Tidak jarang yang dibutuhkan di era postmodern sekarang yang pelan-pelan memahami bahan bacaan secara komprehensif, bukan hanya aksesori semata. Maka, bisa jadi seseorang mengalami kesulitan dalam memantik ide hanya karena jemarinya sibuk mondar-mandir cari info paling terkini.
Pada aspek lain, diskursus tentang sastra ternyata tidak hanya dipahami oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia sastra, katakanlah penulis, pengkritik, atau akademisi sastra. Akan tetapi, beruntungnya, setiap orang yang mampu berkenalan dengan buku dan itu siapa saja, latar belakang apa pun, akan memahami bahwa penyebaran informasi melalui proses membaca dengan penuh ambisi akan menambah kosa kata di dalam kepala sehingga menciptakan kemudahan saat menuangkan ide ke dalam bentuk verbal atau tulisan. Selain itu, kekayaan sudut pandang yang akan diterima pembaca jika membaca buku akan maksimal. Namun, harapan itu hanya ada pada segelintir orang, atau sebetulnya setiap orang punya pemahaman demikian, hanya saja tidak implementatif. Hal itu yang menyebabkan seseorang menganggap sastra adalah kegiatan yang mengganggu rutinitasnya, padahal kesadaran itu ada.
Alih-alih sastra melerai kecepatan informasi, justru konten visual semakin menghegemoni karena dianggap bisa memacu algoritma ketenaran yang semakin praktis dan menjadi wadah untuk menampung diri bagi orang-orang yang terlihat sibuk, padahal mungkin saja yang dibagikan hanya paradoks belaka. Yang perlu dipahami, kepraktisan pada hakikatnya menawarkan kekosongan, kehampaan. Hal itu tidak bisa dilegitimasi sebagai sesuatu yang normal, terlebih persoalan konten sukses dini yang disampaikan oleh motivator atau siapa pun itu hanyalah asupan paradigma yang berorientasi pada hasil, jika selalu demikian maka akan muncul pemikiran praktis dan mengabaikan proses. Adapun mereka yang tanpa berusaha memahami proses hubungan penyerapan, penalaran, dan penulisan hanya menelaah aspek yang terkesan bias —tanpa mengupasnya secara tuntas, padahal sastra memuat nilai-nilai yang sangat eksotis.
Dapat dikatakan bahwa orang-orang yang tidak menghargai penalaran hanya memberikan peluru pada dirinya sendiri, bahwa sebetulnya mereka tidak bisa mengambil manfaat dari adanya proses panjang pada risalah sastra tanpa ada interupsi di sejumlah bagian. Fenomena ini melahirkan diskursus menarik. Buku-buku yang dipajang tampil menawan, tentu bukan hanya sekadar printilan semata. Mereka berjejer bahu membahu membangun kosmologi pengetahuan yang saat ini dalam lingkar sempit. Kecepatan dunia digital yang dielu-elukan menjadi obat dalam ketertinggalan informasi justru menjadi subjek. Sudah banyak diskursus yang membangun tema digitalisasi dengan diksi awal “tantangan”. Artinya, sikap ini menjadi fundamental dalam era postmodern, menjadi pemicu bencana lahirnya generasi praktis karena kehadiran sastra yang minim pada dirinya.
Sikap skeptis yang awalnya muncul ke permukaan perlahan menurunkan eksistensinya. Banyak yang frustasi dengan situasi semacam ini, karenanya muncul paradigma bahwa ini pemicu bencana. Digitalisasi ternyata lebih berbahaya dari proses yang diajarkan oleh penganut paham yang menghargai metodologi. Sebab, dalam digitalisasi yang ditawarkan adalah kepraktisan dan kecepatan, sedangkan dalam sastra yang ditawarkan adalah penalaran mendalam, lalu mengaitkannya ke dalam proses kehidupan sosio-kultural. Katakanlah ini sudah tidak selaras.
Belum lagi soal AI. AI atau kecerdasan buatan merupakan sub dari digitalisasi. Kecerdasan buatan ini banyak menyimpan buah pikiran manusia yang diduplikasi ke dalam komputer dan akan selalu ada jika manusia membutuhkannya. Kecerdasan buatan itu timbul atas dasar kemudahan informasi yang justru membunuh pelaku seni karena ruang ekspresinya telah hilang. Tapi, lagi-lagi kecepatan tidak selalu menghadirkan sesuatu yang estetis karena yang ditawarkan adalah magis, bukan rasa. Boleh saja menggunakan AI, layaknya kalkulator dalam Matematika, ia hadir ketika dibutuhkan sebagai pemandu ide dalam menciptakan pikiran yang bombastis.
Konsep seni untuk masyarakat rasanya akan sirna jika tidak ada pengulas soal masa depan sastra di kalangan umum. Bahwa yang selama ini terjadi adalah seni untuk seni, festival puisi hanya untuk penyair, seminar prosa hanya untuk cerpenis dan novelis, pementasan teater untuk kalangan akademisi sastra. Dalam hal ini, sastra wajib mengambil peran secara menyeluruh untuk mengambil sisi lain dari kehidupan, bukan soal materi. Tapi tadi, nilai didaktis, estetis, dan rekreatif perlu dikalkulasi secara matang, apa pun tujuannya, minimal pembentukan minat dalam sastra terus tumbuh di masyarakat hingga pada zaman yang paling mutakhir.
Bagaimana menghadapi masa depan ini? Tentu yang paling bijak adalah pembaca perlu mendamaikan diri sendiri. Sia-sia saja jika banyak tulisan yang memuat tentang tema digitalisasi, tetapi justru sebetulnya kita belum damai dengan diri sendiri, katakanlah belum bijak cara menggunakannya, juga tidak tahu esensinya untuk apa. Baiknya, secara individu mesti lebih tegas pada diri untuk lebih memfilter kebutuhan-kebutuhan primer dalam hidup dan menyampingkan perilaku-perilaku sekunder yang membunuh pikiran. Matikan data, bergelut dengan buku. Tidak ada konsekuensi negatif dari membaca buku. Sentuhan jari untuk menikmati tiap lembar kertas seakan membuat rasa itu ada, menyatu. Satu hal lagi, kehadiran buku fisik akan dibutuhkan sampai kapan pun atas dasar alasan tadi. Sebaliknya, kepraktisan yang ditawarkan masa kini sebenarnya menawarkan kehampaan. Fokus-fokus yang demikian jika terealisasi akan menjadi sampel generasi baru dalam memahami dunia sastra yang paling kekinian. Fantasi urban akan sikap distopia dianggap sebagai isapan jempol belaka.
Penulis: Alvian Rivaldi Sutisna. Pria yang akrab disapa Alvian ini lahir di Bekasi. Beberapa puisinya terbit di dalam antologi bersama. Alvian merupakan penyair terpilih Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta, Temu Karya Serumpun 2025 di Jember, dan Pekan Sastra Cirebon 2025. Ia bisa dihubungi melalui posel alvianrivaldistsn@gmail.com.
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan