Kejatuhan di Musim Semi, Solilokui, dan Lintasan Biografi
Catatan atas The Ego and His Loss

Aroma Maut di Musim Semi Lembut
Sesampainya di PSBK, lantas menyapa beberapa kawan-kenalan, kau sejenak menepi: melihat pameran sketsa Pak Bagong yang ada di ruang pameran. Setelah merasa cukup, kau kembali ke area tengah, ke taman bagian dalam. Dan tak lama, pertunjukan pun dikabarkan akan segera dimulai. Sekalian penonton pun diminta untuk merapat ke area pertunjukan ke area pendapa. Pendapa itu diubah jadi area panggung—dengan empat dinding, dan sebuah yang menghadap penonton pun jadi dinding keempat. Dan, jalan dekat pendapa dijelmakan area bagi penonton: tikar dan kursi plastik digelar. Dan kau, juga kekasihmu yang menemani-menyaksi, memilih duduk di baris kedua akhir, di kursi plastik yang tampak kokoh tapi seperti menyedia rabuh yang lelah. Tentu, setelah menempati kursi itu, kau terpikir berpindah di baris depan, ke tikar yang terbentang, agar lebih dapat jelas menyaksikan: agar dapat menulis ulasan dengan sedikit lebih terang. Namun, kau rasa, pilihan awal sudah jadi bagian dramaturgi-mu sebagai penonton; dan kau putuskan untuk tetap pada pilihan mula. Dan kau paham: posisi di mana kau menyaksi akan mempengaruhi sejenis ruang interpretasi… Situasi area panggung yang demikian, kau rasakan seperti ada dalam sebuah stasiun—yang samar kau ketahui akan ke mana: tahu tapi juga seperti tak tahu. Di depan, di panggung membentang, kau dapati instalasi panggung yang memukau: sederhana tapi seperti telah menanti suatu yang akan terjadi. Instalasi panggung itu tampak sederhana, tapi sudah memberi tawaran-bujukan tersendiri tentang bagaimanakah penonton diminta menyaksi. Dan di muka, sebelum genap masuk ke area pertunjukan, di meja registrasi, kau dibekali maps berisi pengantar pertunjukan, biografi kolektif, dan catatan penulisan naskah. Namun, kau rasa dan lebih ingin membacanya nanti. Sepulang dari pertunjukan, ucapmu lirih kepada kekasihmu, atau setelah pertunjukan ini selesai baru akan kubaca.
Setelah siap, setelah hening sejenak yang lembut merayap, seorang masuk ke panggung: Jun Tsutsui. Jun masuk dengan kaos putih dan celana hitam; dan mulai berkata memberi pengantar pertunjukan. Dan kau, tentu saja, masih menyesuai cara pandang: sebab terjemahan atas apa yang dikata -dilaku ada di atas panggung. Hal demikian, bagimu, yang dibesarkan oleh anime dan dorama-film terjemahan, terasa sedikit butuh penyesuaian: sebab biasanya kau mendapati terjemahan ada di bawah. Di sana, Jun menyampai, pertunjukan yang akan dibawakan adalah sebuah fiksi. Dan pernyataan demikian, bagimu, malahan menjadi sejenis tanda-acuan ganjil tersendiri: Kenapa mesti disampaikannya pengantar itu di muka? Dan bagimu, pernyataan yang demikian malah membawamu pada sejenis pernyataan: Pertunjukan ini bukanlah hanya fiksi… Di panggung itu ada layar, yang dalam kepalamu terbaca sebagai tivi. Di layar itu, tampak bunga-bunga sakura: video sakura yang lembut tertiup angin, sakura yang putih… Dan, di ruang yang gelap, di instalasi yang menjelma ruang-kamar menjadi, kau dapati tivi itu begitu terang, begitu terang: begitu terang di ruang yang gelap. Jun, di sepasang matamu, kini, telah berakting; lantas menjelma narator yang bermonolog. Di sana, di ruangnya itu, dimainkannya vacuum cleaner. Dimainkannya vaccum itu seperti suatu yang telah jadi bagian dari diri, seolah dia dan vaccum adalah satu. Sebuah teriakan! Dan, monolog pun bercampur dengan suara dan koreografi dari vacuum cleaner. Dan, efek teks terjemahan di atas itu kau rasa menjelma jadi cergam—
Jun, yang telah menjelma tokoh, masihlah bermain vacuum, bergitar vacuum—seperti suatu kombinasi antara tari dan pantomime. Lalu, di sisi panggung yang lain, muncul dan tampaklah pemilik toko bento, seorang perempuan yang telah sedikit tua. Dan perempuan itu bermonolog tentang indahnya musim semi dan segala yang menyerta dalam suatu lirisme-romantisme. Dan, berganti sebaliknya ketika Jun bermonolog: segala yang berkebalikan dengan monolog penjaga toko bento. Keduanya seperti bercakap-cakap: percakapan antara lantai satu dan dua. Meski janggal pula untuk disebut sebagai sebuah percakapan yang lumrah. Dan percakapan tentang pembandingan bento dan McDonald’s perlahan menjelma menjadi metafora. Gurauan tentang McDonalds, bagimu, begitu ganjil, tetapi membuatmu dan sekalian tertawa: getir. Dan, vacuum yang hanya selang, sebab ujungnya di adegan awal terlepas, menjelma jadi pistol—dan terasa perlahan menjelma metafora. “Masihkah manusia jadi manusia?” Dan lagi, tivi sakura itu terasa begitu terang indah puitis, tapi malah kian terasa tebal dan horor. Sebuah monolog terdengar-muncul; dan tokoh, yang akhirnya dirimu ketahui bernama Mickey, yang diperankan oleh Jun, mencekik sosok mayat yang samar imajiner. Musik lirih terdengar; dan jadi suatu ngeri. Mickey membawa tas kresek dan bergumam-mengeluh.
Sebuah monolog lagi terdengar dari tokoh yang memakai handuk di leher dan membuat gerak komedi dengan properti gawai di tangan. Mabukkah dia…? Dari sanalah, kau genap mengetahui nama Mickey adalah sebutan: sebab Mickey kuliah dan menempuh sesuatu yang hanya. Tokoh itu kau ketahui adalah anak dari bos tempat Mickey bekerja sebagai seorang sopir. Anak majikan itu menari dan melaku gerak tolol: yang kian membuatmu memahami dia mabuk. Dan, sambil menari, dia menyoal Kasih dan burung-burung… Dan, Mickey pun menyebut nama-nama dan benda-benda yang ada di supermarket; dan bergema kala menyoal mi instan dan miras. Suara ganjil kembali terdengar. Lalu, disusul percakapan yang mengambang. Kemudian, ada adegan di belakang: Pemilik toko bento bermonolog sambil beradegan, bercerita tentang karyawatinya, tentang pegawainya yang seorang Vietnam: yang membayang dapat menjadi jembatan antara Jepang dan Vietnam. Karyawati itu bernama “Musim Semi”—yang dekat dengan “Nguyen”. Dan obrolan berkait pegawai tetap, antara Mickey dan Anak Bos, telah membawamu pada obrolan siang-sore tadi sebelum menyaksi pertunjukan, obrolan di tempat kerjaanmu: tentang guru penuh dan patuh waktu yayasan. Dan saat Mickey menyoal tentang sopir dan anak bos, kau sedikit melirik ke kanan, melirik kekasihmu: teringat obrolanmu dengannya dalam perjalanan berangkat tadi—tentang sopir di tempatnya bekerja dan kepemilikan sistem… Ah, anak bos itu pun kembali beradegan dengan handuk, hape, dan plastik minuman mineral.
Di kamar Mickey, setelah sambat tentang utang, dia lepaskan celana panjang—dan mengganti dengan celana loreng, dengan celana tentara, dengan seragam serdadu. Kemudian, Mickey pun turun, menyoal bento dengan pemilik toko bento. Lalu, kembali muncul permainan kata itu lagi: sahut-sahutan tentang loreng, seragam atau cosplay. Dan di akhir adegan itu, seperti dipertebal kembali tentang sebuah tanya: Kapankah kita berhenti jadi manusia? Mickey masuk ke kamar, dan adegan pun berganti… Lagu pembuka Sailor Moon terdengar, tergumam dari pegawai asal Vietnam itu—yang tengah menyapu-membersih halaman depan toko bento. Suaranya lirih, di panggung yang senyap, terasa tebal-kentara dan bergema; dan kau, yang besar di awal 2000-an, terbawa pada lirik itu, seolah gumaman itu mendapat liriknya di kepalamu, walau lirik itu adalah lirik bahasa Indonesia: lirik yang telah kau kenal itu. Maaf ku tak pernah berterus terang/ Bukan ku tak mempercayaimu/ Namun sebelum ku berganti rupa/ Ingin aku menemuimu/ Ku kan bermandi cahaya bulan/ Yang cemerlang di malam yang cerah/ Memang telah lama kurasakan/ Ingin menolong yang lemah… “Apa yang berharga dari hidup ini?” Di lantai dua, Mickey duduk di tepi dan mendapat ide itu, ide memanggil dan merampas uang. Dialog Mickey dan pegawai asal Vietnam itu, Nguyen, terasa realis, tapi sekaligus ganjil; dan kau duga hal itu sebab kekikukan bahasa: kesamaran makna. Pegawai Vietnam itu mengikut, naik ke lantai dua; dan adegan itu terjadi: perampasan-pembunuhan. Suara piano mengiring, dan terdengar tebal, dan kian ngeri dirasakan. Membunuh untuk sedikit uang, dan sekali lagi tanya itu bergema: Seberapa berhargakah nyawa manusia?

Sebuah monolog puitis tapi getir kembali bergema. Monolog itu menyoal sejarah yang tambal-sulam dan kehidupan serapuh kardus. Dan, di adegan itu, kau sudah tak genap memfoto, sudah tak genap mengambil gambar dari kamera hape yang lelah; dan hanyut menonton, tetapi tetap membuat catatan—untuk ulasan. Ah, arah angin yang buruk… Anak bos berhanduk itu kembali menari, kembali membuat adegan yang ganjil dipandang di sisi panggung lain. Di kamarnya, Mickey membuat mi cup; dan tiap adegan sungguh tebal diperjelas. Uap mi itu. Ah, andai agak dekat, kau ingin saja merasai aroma mi cup itu: yang terasa sedap, tapi jadi getir sebab konteks dalam pertunjukan. Sambil menikmati mi, Mickey kembali bergumam tentang seks yang kosong dan beranak yang getir. Mi cup itu seperti telah jadi suatu ganjil yang menggenap metafora. Di bawah, ada monolog tentang karma: Salahkan silam bila kini dirasa buruk, dan kutuk orang lain yang dibenci agar kehidupan depannya jadi malang. Dan monolog demikian memicu sejenis pernyataan langsung tak langsung tentang doa dan harap. Mickey, di kamarnya masih memakan mi cup hangat dan menikmati miras kaleng yang di sepasang matamu tampak dingin. Hidup begitu berharga, tetapi berapakah harganya…? Dari tempatmu menonton, akhirnya kau genap dapati halang: Orang yang duduk di depanmu menghalang pandang. Dan sebab itu, kau gerak tubuh-kepalamu agar dapat genap menonton. Namun, tak lama, kaurasa ganjil sendiri: Kenapa aku harus bersusah payah melihat depan? Ya, kau tahu keterhalangan pun masuk timbangan. Kesamaran sebab keterhalangan adalah juga ketersamaran atas apa yang disaksi. Apakah mata menjadi sangat penting bagi sebuah pertunjukan?
Dan, akhirnya, setelah kau bisa genap melihat depan, kau dapati tivi itu direspon! Tivi itu dipakai menutupi mayat. Tivi yang menayangkan bunga sakura, yang indah terang itu, dipakai menutupi mayat menutupi jasad perempuan Vietnam yang namanya memiliki arti musim semi. Ada suara dari pegawai Vietnam itu, dari Nguyen. Dia bercerita tentang Jepang yang menjajah Vietnam. Kelaparan, dan diksi hantu yang sejak hampir dari mula disebut, menjadi makin tebal; mulai tak genap janggal. Dia, yang terasa jadi hantu, bercerita tentang warganya yang pada masa silam mestilah makan muntahan si penjajah; dan tak kuasa menggali kubur: sebab begitu banyak dan begitu lelah. Dan, sekali lagi, kau teringat pada salah satu bagian novela Mekar karena Memar, teringat tanya: Apa dan berapa harga manusia? Dan, ketika hantu itu bercerita, Mickey masih menyantap mi cupnya! Dan suara polisi terdengar. Polisi mengetuk dari belakang instalasi; dan hanya tampak tubuh polisi sebagian—wajah dan bagian tubuh atas tertutupi instalasi. Dan, kau teringat salah satu puisi Joko Pinurbo: Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang tuhan. Dan, saat kau tilik samping, kau dapati kekasihmu matanya berkaca: mengantuk sebab lelah memburuh dan bercampur sedih sebab paralel perasaan ganjil tentang harga manusia.
Mickey melepas celana si mayat; dan menutup mayat itu dengan lebih rapat. Dan dia kembali menikmati mi cupnya. Adegan menyantap mi di dekat mayat itu, berulang kali, membuatmu mengumpat dalam hati: Sialan… Kemudian, hantu itu bercerita tentang merah dan kuning—yang didukung layar instalasi di belakang. Dengan agak lekas, kepalamu terbawa pada bendera Vietnam. Namun, tak lama pula kepalamu lekas terbawa kepada McDonals. Dan, penyejajaran demkian, seketika begitu bergema: berbunyi sebagai suatu di kepala. Saat adegan itu, si hantu bercerita tentang dongeng yang pernah dicerita oleh neneknya: panen raya yang sebab situasi penjajahan jadi begitu sia-sia. Kelaparan di suatu bangsa, sejarah kemakmuran, dan benturan penjajahan. Merah dan kuning, merah dan kuning, merah dan kuning. Dan Mickey masihlah saja menikmati mi cup…! Di akhir cerita yang disampai si hantu, kau terbawa ke kurun kuliah paska-sarjanamu tentang Naratologi: tentang tingkatan penceritaan. “Aku yang bercerita, atau yang diceritai?” Dan setelah monolog tentang cerita invasi, baju militer yang awalnya dibawa dengan suatu gurauan yang khas, seketika, bagimu, mendapatkan gema. Adegan vacuum yang serupa dengan tembakan pun menjadi tebal dan kian horor. Kemudian, Mickey malah menutup mayat itu dengan plastik. Dan seperti biasa, suara pastik, bagimu, begitu terasa horor terasa begitu mengerikan; terlebih sebab situasi yang muncul dan tengah dimunculkan. Mayat itu pun ditutup-halangi dari depan, dari mata para penonton yang menyaksikan, dengan benda-benda yang ada di kamar itu: kipas, tivi, vacuum. Dan semua dihidup-nyalakan on. Riuh alat canggih yang terasa begitu ngeri. Di kepalamu lekas muncul tanya itu: Apa yang sebenarnya kutonton kini?” Betapa kau ingin pergi, atau sekadar memaling, tapi sukar: sebab betah pula menyaksi.
Soalan tentang revolusi, tentang beranak dan bunuh diri, kembali muncul kembali; dan makin bergema dirasa. Mickey memegang pisau! Polisi datang lagi di posisi sama, dan lalu mengetuk kembali. Namun, tak ada balasan; dan polisi itu pun kembali pergi. Ah, instalasi itu begitu betah memukaumu. Dan Mickey kembali mendengar cerita dari hantu. “Apa hantu dapat bunuh diri?” Dari tempatmu duduk, dari tempatmu memandang, kau dapati Mickey yang mau bunuh diri—dengan pisau yang tampak ganjil. Hantu itu pun bercerita lagi, bercerita pada kurun di mana Vietnam telah membuka diri; dan masuk anime seperti Sailormoon. Dan kau teringat bacaanmu yang berkata kalau Orde Barulah yang membawa anime masuk ke Indonesia. Hantu itu berkisah tentang Mi Vietnam. Dan mi itu seperti jadi simbol: terlebih ketika disanding dengan mi cup yang dimakan Mickey. Dan, Mickey masih mencoba bunuh diri… dengan posisi membelakangi para penonton yang menyaksi. Dan kau baru agak menyadari, tivi itu berganti tampilan: suram dan tak lagi bebunga terang sakura. Apa di surga ada bento, apa di neraka ada bento? Akhirnya, Mickey tak jadi bunuh diri: gagal melaku suatu revolusi. Pisaunya diletakkan dan Mickey kembali bermonolog… Lalu, sebab haus, Mickey pun minum. Dan Mickey kembali bertanya: Hantu yang bercerita, atau dirinya yang lainlah yang bercerita? Dan langsung tak langsung Mickey berdialog dengan hantu. Dan dialog dari hantu itu begitu menggema pula bagimu: “Jika aku lahir lagi, aku bisa datang ke pemakamanmu nanti…” Tak lama, polisi datang lagi. Polisi masuk. Ah, aktor yang tadi jadi anak bosnya Mickey. Dan, dalam situasi tegang itu, pertunjukan masih menunjukkan komedi, komedi yang seperti mula: sahut-sahutan konyol berkait seragam dan cosplay. Setelah itu serius kembali: ngeri. Dan Mickey pun ditahan!
Ketika kamar itu kosong, sebab Mickey telah ditangkap oleh polisi, sepasang matamu yang lelah sebab mengajar bahasa merasa kalau kamar itu bukan lagi ilusi realitas guna suatu kepentingan pertunjukan, tapi seperti realitas sendiri. Senyap, kecil, dan begitu menakutkan: sepi yang nyeri, sepi yang ngeri… Bunyi kresek dari plasyik terdengar kembali: Apa hantu itu hidup (lagi)? Hantu itu menggeser, seperti membuka jendela: dan hanya gelap. Senyap. Dan, terdengar monolog… Ada terdengar cerita tentang 10 matahari dan pemanah sakti, juga Dewi Bulan serta pil abadi. Dan, setelah menghubungkan ke kisah Hou-Yi dan Chang-E, kepalamu pun lekas terbawa pada Nawangwulan dan Jaka Tarub juga soalan pertanian. Namun, kau juga bertanya-tanya, sebab cerita pemanah 10 matahari itu kau ketahui dari Tiongkok. Apa di Vietnam ada cerita serupa, atau malah nenek tokoh itu yang bermigrasi dari daratan sana? Dia, hantu itu, bercerita dengan terbata dengan suara yang terjeda-jeda, bercerita tentang panen musim gugur Vietnam. Lampu menyala biru abu. Ah, begitu syahdu, tapi juga pilu. Kipas angin itu masihlah menyala… Lampu panggung penuh pun menala! Musik lirih terdengar: piano yang lembut. Dan ternyata itu bukan jendela, tetapi kaca: Cermin yang menampilkan penonton di depannya! Kau bisa melihat wajah para penonton di sana—dan kau merinding ngeri.
Dari Kenyataan ke Pertunjukan, dari Pertunjukan ke Pertanyaan
“Ada dua jenis revolusi yang bisa dilaku untuk membasmi hantu. Satu, jangan punya anak. Dua, bunuh diri. Tak satu pun dapat tercapai tanpa mengguna kehendak bebas yang sesungguhnya.” Tokoh utama, Micky, tinggal di lantai dua sebuah bangunan dua lantai yang di lantai bawahnya terdapat sebuah toko bento. Pada suatu pagi awal April, saat bunga sakura mulai bermekaran, didapatinya hanya punya uang 100 yen. Kemudian, dia meminta sejumlah uang kepada seorang perempuan Vietnam yang sedang bersiap membuka toko bento. Perempuan itu menaiki tangga sambil membawa uang yang diminta. Namun, sesampai di atas, Mickey tiba-tiba menyerang: mencekik hingga meninggal. Setelah mengambil uang, Mickey memakai uang itu membeli sake. Mickey kembali, minum di kamarnya tempat disembunyikan mayat. Lalu, dicobanya mengakhiri hidup tapi tak bisa. Malam, polisi melaku penggeledahan paksa dan penangkapan—
Sebagai suatu pengalaman menonton, kau yang terbiasa menonton anime dan dorama-film merasa, melihat pertunjukan teater dari Jepang adalah sesuatu yang baru. Ada suatu yang khas yang baru kau rasai saat menyaksi langsung-hadir: yang tak genap kau rasa ketika kau menyaksi anime atau dorama-film. Menyaksi pertunjukan dari manca, bagimu, bukan suatu yang genap baru: sebab pernah pula kau alami. Namun, kenyataan bahwa tubuhmu lebih karib oleh anime dan dorama-film, setidaknya, telah menghadiahmu kebiasaan, ketika menyimak bahasa Jepang, teks terjemah ada di bawah—dan bukan di atas. Namun, berjalannya pertunjukan, tubuh dan sepasang matamu sudah dapat membiasa. Dan, amat bisa kau kata bahwa ketubuhan dari para aktor itu memukaumu. Bahkan, kau ingin saja bertanya: Apakah mereka memang hanya bekerja sebagai aktor, dan tak melaku kerja di luar seni pertunjukan?
Salah satu gema yang kau rasa setelah menyaksi ialah pernyataan di awal pertunjukan. Bagimu, pernyataan jika pertunjukan itu adalah fiksi malah benar membawamu pada ganjil. Pernyataan itu bisa kau pahami, memang seperti harus dimunculkan, terlebih mengingat pertunjukan itu bertolak dari kejadian nyata: Ada supir lelaki Jepang yang membunuh perempuan Vietnam yang bekerja sambilan di toko bento, perempuan Vietnam yang menempuh studi paska-sarjana dan hendak kembali ke negerinya tuk mengajar setelah lulus. Namun, bagimu, pernyataan di awal, dan yang kau saksi dari dan pada pertunjukan “The Ego and His Loss”, malah kian membuatmu betah bertanya: Kenapa itu harus dikata? Amat kau pahami, bila dikata di awal jika pertunjukan itu tak fiksi, akan terbawa pada cara pandang kalau pertunjukan itu adalah reka adegan, adalah suatu pelakonan dari berita—dan bukan suatu tanggapan dan tafsiran, dan pengambilan sikap. Namun, di dunia yang terasa sudah lebih fiksi dari fiksi, lebih drama dari drama, pikirmu, teater atau pertunjukan malah jadi sejenis tamparan atas manusia dan dunianya. Jika tak ada teater atau pertunjukan, pikirmu sekembali dari mengantar kekasihmu yang tukang kembang pulang, bagaimana manusia menakar nyata-tidaknya dunia? Ya, dan tanpa kenapa-mu jadi jenis tanya: Kenapa Dracom mengangkat cerita demikian, apa yang sebenarnya hendak disampai—yang tak bisa tersampai dari berita di koran dan tivi?

Kemudian, gema lain, yang sebenarnya bagimu tak benar-benar lain, adalah suatu kenyataan bahwa pertunjukan itu dipentaskan salah di Indonesia, di Yogyakarta, di PSBK pula; meski kau tahu akan dibawa ke Jakarta pula. Bagimu, hal demikian dapat kau pahami tentang serangkaian timbangan teknis; terlebih mengingat program-perhelatan yang jadi bagian. Namun, kenyataan relasi silam antara Jepang dan Indonesia, pertunjukan dan tempat pertunjukan, bagimu, jelas memberi sejenis tafsiran bermacam. Dipilihnya pendapa menjadi panggung dengan instalasi demikian, kursi penonton yang berupa kursi plastik yang tak berundak, bagimu, telah memberi cara pandang dan tafsir tersendiri atas pertunjukan itu—dan belumlah ditambah tanya tentang siapa dan sebagai apa seorang yang menontonnya. Dan kau cukup yakin, bahwa meski dengan ketepatan dan ketaatan yang sama pada naskah, akan ada sejenis tafsiran yang agak lain kala dipentas di tempat yang berbeda, bahkan dengan penonton yang sama. Biografi pertunjukan, biografi aktor-sutradara-penulis, biografi penonton, pun biografi panggung, juga biografi berita menjadi begitu tumpang tindih…
Dalam pengantarnya, dikata bahwa pertunjukan itu menyoal konsep ego dalam pemikiran Barat Moderen, dan pandangan Buddhisme mengenai hidup dan mati. Dan kau pun ingat, Id (konsep psikologi itu) dibaca di Jepang dengan bunyi Ido, kata yang juga berarti sumur. “Apakah sumur tanpa dasar Arifin itu adalah hati manusia itu sendiri, Jendral?” tanyamu merapi catatan ketika di sekolah setelah mengajar. Bagimu, gema tanya itu memang terasa: Apa itu manusia? Sembari meresapi suatu harap, kau tahu, tanya yang menyertai mesti dijawab atau setidaknya diupaya: Bagaimanakah cara (menjadi) manusia…? Saat menonton pertunjukan itu, kau dapati komedi yang khas, yang kau tahu hanya via anime atau dorama-film. Dan sebab demikian, bagimu, pertunjukan jadi tebal tragik-komedi. Ah, logat Kansai… Namun, sebab jarak bahasa, apa logat itu tetap dapat tebal terasa; meski di beberapa adegan penonton ikut tertawa? Di salah satu catatan, kau ketahui, Tomoyaki Arai menyebut bahwa pendekatan yang dilaku Dracom dan Jun Tsutsui adalah eksperimental-realisme. Dan kau dapat mengamini itu, setidaknya. Dapat kau rasai pertunjukan itu realis, tapi tak utuh realis. Dan, ya, amat kau sukai bagaimana panggung itu dipresentasi: tata panggung, properti, lamupu, pun tata suara terasa menunjang-menyatu. Panggung sederhana itu, bagimu, malah berhasil menunjukkan suatu kompleks, memicu kepala pada serangkaian penyejajaran lintasan biografi-histori. Suasana hati. Dan kenyataan bahwa set instalasi itu dibawa dari tempat mereka kian membuatmu, yang dipertebal tanya kekasihmu, terbawa pada pembayangan: Apa mereka membawa teater dengan teater lain? Ah, tapi yang demikian pun karib juga padamu yang dibesarkan pementasan orkes melayu, sahutmu senidri…
Suatu hal lain yang kau sukai dari pertunjukan itu adalah kerja penyejajaran dan pantikan atas penyejajaran demikian. Bagaimana Makudonarudo dan bendera Vietnam mendapat paralel, bagimu, telah membuat serangkaian tafsiran menjadi mungkin dan juga mengasyikan; meski di pembacaanmu, pijakan pada realisme itu tebal pula. Atau sebab itu? Mi cup serta Mi Vietnam mendapat relasi dan ruang pemaknaan. Kematian dua juta warga Vietnam akibat kelaparan, tragedi awal 1945, kebijakan Jepang saat menduduki dengan membeli murah beras tetiba muncul bergema—sebab pertunjukan itu. Hal demikian jadi makin ketika menilik tentang siapa yang menonton. Bahkan, kau jadi dapat saja bertanya asal: Apakah dengan makan mi instan, seorang bisa lebih kekal sebab ada pengawet, dan tak jadi hantu? Dan tentu penyejajaran nama “Musim Semi” dari perempuan Vietnam itu dan adegan pembunuhan di kurun musim semi telah jadi metafora yang amat bergema: Mickey bukan hanya menghabisi seorang, tapi suatu musim. Hal demikian belum lagi ditambah dengan relasi antara tokoh dalam pertunjukan dan sosok di dunia nyata. Sejenis pernyataan tak langsung pun bisa muncul: Ia tak hanya membunuh pegawai toko bento yang selepas studi paska-sarjananya akan pulang dan menjadi guru, tetapi telah menghabisi seorang guru dan ribuan siswa. Berapa banyak siswa yang dapat tersemikan bila “Musim Semi” itu berhasil pulang? Dan, saat ditarik ke kilasan silam di mana sosok yang dicari selepas tragik Hiroshima-Nagasaki adalah guru, kian jadi menggemakan kematian “Musim Semi” itu. Dan adegan berulang repetitif di awal, yang kian memenuh, bagimu, kian menjadikan pertunjukan itu puisi: yang nyata sekaligus kias. Namun, kau lekas sadar untuk bertanya: Apakah Mickey sungguh bersalah? Ah, ya, betapa kapitalisme dan setumpuk tekanan di sana-sini telah membuat manusia jadi suatu yang entah, sesuatu yang kian entah…
Di pengantar, ketika kau baca selepas pertunjukan, kau dapati soalan puisi, soalan perempuan Vietnam yang berkirim puisi di FB dengan keluarganya—ketika tengah bekerja di jauh. Dan kau teringat pada buku tipis yang ada di rak buku rumahmu, buku yang rasanya belum genap untuk dituntaskan: Surat-Surat dari Vietnam Selatan—yang diterjemahkan Bakrie Siregar.

Saat menyaksi pertunjukan itu, kau merasa ada suatu sesak ganjil yang sama. Dua tahun lalu, tubuhmu masih tubuh mahasiwa sastra paska-sarjana—yang menonton lantas menulis ulasan pertunjukan. Namun, kini, ketika menyaksi, kau dapati tubuhmu telah kembali jadi tubuh buruh, tubuh guru bahasa yang mengajar di sekolah swasta berbasis agama. Ya, tiga tahun sebelum dirimu jadi mahasiwa paskasarjana, kau sudah jadi guru bahasa setamat dari jurusan sastra. Tubuhmu, yang lelah bekerja mengajar bahasa, kini, harus menyaksi lalu menulis sejenis nota, sejenis catatan saat dan selepas menyaksi. Ya, kau memang dipinta kawan dan media menulis ulasan, tapi kau dengan sadar memilih pula untuk melakunya… Dulu, selepas menonton sebuah pertunjukan, kau dapat lekas menulisnya sebagai catatan dan memberi sejenis pengulasan; mencatat, mengendap, dan merapi, lalu mengirim ke media. Namun, kini, kau rasai lain: kerjaan makin penuh, dan menulis ulasan jadi terasa susah dikerja. Dibanding bagaimana, kau kini lebih merasa tanya yang pas bagimu adalah kapan: Kapan aku menulis dan menyelesaikan ulasan…?
Agustus, dan ulasanmu jadi!—sesamar dan seganjil apa pun itu. Ulasanmu kau selesaikan pada Agustus: bulan yang memiliki beban tersendiri bagi bangsa dan negaramu. Ulasanmu selesai, dan kau merasa tanya yang langsung tak langsung itu kembali bergema. Di antara berita tivi dan linimasa mengetirkan, di antara kebijakan ganjil dari pemangku negara, kau jadi betah bertanya: Apa yang membuat manusia jadi manusia, apa harga manusia begitu murah, kenapa manusia mau melukai manusia lain, apa sepetak tanah tak cukup bagi perut manusia yang mungil? Dan, setelah ulasanmu jadi, kau kian rindu kekasihmu yang pandai merangkai bunga itu, yang akan memeluk-mengelus lembut kepalamu dan berkata: Kau masih manusia, masih seorang yang menilai nyawa manusia begitu berharga… Di akhir pertunjukan itu amat kau ingat ada sebuah cermin, dan kau masih saja takut melihat wajahmu di sana. []
(Yogyakarta, Juli—Agustus 2026)
Biodata Penulis:
Polanco S. Achri (l.1998, Yogyakarta) adalah penyair, penulis prosa, dan pembuat naskah drama. Selain menulis kreatif, dia juga membuat penelitian kecil-kecilan, ulasan, dan liputan berkenaan dengan sastra, teater, dan seni rupa. Kini, sehari-hari, secara formal, dia jadi pengajar bahasa di sebuah SMA tepi kota-madya. Dia mengelola Pendjadjaboekoe, produser dokumenter Nyah-Nyoh Films, dan kadang jadi kurator seni. Dan dia bisa dihubungi di Instagram: polanco_achri.
Pemeriksa Aksara: Jemi Batin Tikal
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan