Jogja Peru di Meja Intrik Cuaca Beku – Puisi-Puisi Selendang Sulaiman

jogja peru.

aku duduk di café dengan kopi yang habis,

sebelum kutulis bentang jarak sadis ini,

antara tugu jogja dan terjal jalanan peru

dengan penggaris pejam mataku.

 

jarak hanyalah titik buta dalam peta,

dan kota-kota sekadar buku ajar geografi.

sedang kita bergerak melampaui keduanya,

mengawinkan dua cuaca dalam satu napas.

 

di keramahan jogja aku merawat candu,

melukis teduh matamu melancong di peru,

mengecup remah riwayat machu picchu.

 

meski tubuh kita terberai di mana-mana,

seluruh isi pikiran tak pergi ke mana-mana.

ia terpatri kokoh di terjal jalan yang sama.

 

***

 

meja intrik.

bidak catur kepayahan di meja intrik,

menggoda paksa mata menolak tidur.

di luar, malam retak batu-batu tawuran,

dalam kepala aku memikirkanmu di paris.

 

di sini orang-orang pencari suaka sibuk,

mengurai konspirasi politisi dan sembilan naga,

buruh kata-kata, bahkan pengangguran elit:

yang tuntas ku-profiling di sisi otak belakang.

 

sesekali isi kepala ingin melompat ke jogja,

melarikan diri dari nyamuk ganas metropolitan,

bisingnya semenyengat gardan mikrolet reot.

 

tapi tiba-tiba, isi kepala keluyuran ke jalan raya,

sambil kutempuh malam dengan bantal ransel:

hingga kewarasanku menghambur ke mana-mana.

 

***

 

cuaca beku.

getar gema suaramu berdenyut di alir darahku

merasuk leher dan punggungmu: hamparan padi,

membius tatap mata dan sentuh jemari.

punggungmu diam terayun angin—

 

merayapi batas hari bersama gagak sunyi

terbang pelan menuju hening malam

sebelum bayang-bayang mengecup lubuk gelap.

“tak usah merengek-memohon—

 

tidakkah kau tahu sukmamu-sukmaku

telah menjelma postur hidup kita,” bisikmu

sebelum kau rapatkan pelukan lembut-lembut.

 

“baiklah, lihatlah batas bumi-langit itu,

bayangan kebahagiaan kita menari semu,”

malam rebah berpeluk cuaca beku.

 

***

 

Penulis: Selendang Sulaiman, lahir di Sumenep, kini mukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.id. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media seperti Kompas, Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, republika.id, dll, Antologi puisi tunggalnya Omerta (Halaman Indonesia, 2018) dan Peta Biru Dunia Ketiga (Penerbit JBS, 2025). Kitab Soneta keduanya (buku ketiga) akan terbit akhir tahun 2026. Bisa dijumpai di IG @selendangsulaiman dan YouTube Channel @selendangsulaimanofficial

Check Also

Musuh Para Anti-Kapitalis Radikal adalah Moda Produksi Kapital dan Negara, Bukan sekadar ARTJOG, Didit, dan Narasi Kuratorial

  “Nothing is true, everything is permitted” —Hammer-Purgstall dalam The History of the Assassins

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *