Lumi dan Lengkung Senyum Penyembuh Talamarta

Alkisah, di lembah subur, berdirilah Negeri Talamarta. Di sana, sapaan hangat adalah mata uang, dan lengkung senyum warganya selalu menenteramkan hati. Di tengah lembah, mengalir Sungai Cermin yang jernih. Sungai magis ini membelah wilayah menjadi dua: sisi timur tempat petani gandum, dan sisi barat tempat pengrajin kayu. Namun, Sungai Cermin memiliki telinga gaib yang mampu mendengar getaran emosi manusia.

Petaka bermula saat Festival Musim Panas. Tahun itu, hadiah “Lentera Emas” jatuh ke Sisi Timur. Suasana meriah mendadak membeku karena ego yang terluka.

“Ini tidak adil! Kalian pasti menyuap juri!” teriak kepala pengrajin Sisi Barat. Pedagang gandum Timur membalas ketus, “Jaga bicaramu! Hasil bumi kami memang lebih mulia dari potongan kayu mati kalian!”

Syuuutt! 

Tanpa disadari, air Sungai Cermin mendidih kecil dan melebar satu jengkal. Sejak malam itu, makian dan dendam terus terucap. Setiap kali amarah membara, sungai meluas satu jengkal lagi hingga rakit tak bisa melintas. Talamarta berubah sunyi dan murung.

Sadar negeri terisolasi, para tetua berseru, “Kita butuh sebuah jembatan besar!”

Warga mencoba tiga kali. 

Pertama, jembatan kayu runtuh saat fajar. 

“Bagaimana mungkin kayu kokoh ini hancur?” gerutu tukang kayu. 

Kedua, jembatan batu hitam ambrol ke air. 

“Orang timur pasti mengutuk jembatan kita!” tuduh warga Barat. 

Ketiga, jembatan baja tebal meliuk seperti lilin meleleh tersengat matahari. Warga mulai putus asa dan saling menyalahkan.

Di tengah duka, anak perempuan bernama Lumi berjalan ke tepi sungai membawa sekeranjang roti gandum madu hangat. Ia rindu kedamaian negerinya.

Di jalan, Lumi melihat kakek warga Timur tersengal-sengal memikul kayu bakar yang berat. Lumi berlari membantu memegang ujung kayu. 

“Mari Kek, biar Lumi bantu pegang sebelah sini,”

“Terima kasih, anak baik. Beban kakek rasanya langsung hilang.” Kakek itu tertegun, lalu tersenyum hangat.

Seketika, terdengar suara “suuuuut.”

Air sungai menyusut beberapa jengkal!

Lumi berjalan lagi. Di dekat puing jembatan, dua anak laki-laki lintas wilayah beradu argumen karena layang-layang mereka membelit dan robek. 

“Ini gara-gara kau menerbangkannya terlalu dekat!” bentak salah satunya.

Lumi menyelinap di antara mereka, menyerahkan roti hangat. 

“Makanlah dulu. Nanti sore kita perbaiki bersama. Jembatan hati kita tidak boleh robek hanya karena selembar kertas,” kata Lumi lembut. 

Kedua anak itu menurunkan tangan lalu tersenyum malu. “Maafkan aku ya,” bisik sang pemula pertengkaran. 

Keajaiban terjadi, air Sungai Cermin surut satu depa! Jarak antar-sisi menyempit drastis.

Melihat hal itu, seluruh warga tergerak meniru Lumi. Esoknya, kata maaf dan sapaan ramah mengalir riang. Tetua adat menangis haru, “Selama ini kita salah. Bukan kutukan yang memperlebar sungai, melainkan ego kompetisi kita sendiri.”

Dengan hati bersih, warga bergotong royong membangun jembatan keempat. Suasana penuh tawa dan pelukan persaudaraan. Ketika fajar menyingsing, jembatan berdiri anggun memancarkan cahaya keemasan.

Warga kedua sisi berlarian ke tengah jembatan. Di titik tengah, langkah mereka terhenti. Kepala pengrajin Barat dan pedagang gandum Timur kini berdiri berhadapan. Suasana mendadak hening.

“Maafkan keangkuhanku saat festival itu, saudaraku,” bisik kepala pengrajin sambil mengulurkan tangan. Pedagang gandum menjabatnya erat, lengkung senyumnya merekah lebar. 

“Aku yang bersalah. Mari kita jaga jembatan ini bersama.”

Sejak hari itu, Sungai Cermin kembali menjadi tenang dan super jernih. Anak-anak di Negeri Talamarta jadi tahu satu rahasia penting. Ternyata, jembatan yang paling kuat di dunia itu bukan dibuat dari batu hitam yang tebal atau baja yang berat. Jembatan yang paling hebat justru dibuat dari kata “maaf” yang tulus, senyuman yang ramah, dan sifat yang suka berbagi.

 

Selesai.

 

 

Penulis: Putri Intan Wahyuni, atau lebih senang dipanggil Pintan. Saat ini sedang menempuh studi di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di luar perkuliahan, aktif dalam berbagai tim kreatif sebagai social media team, content writer, dan copywriter. Selebihnya, ia sedang berusaha untuk senang membaca, menulis, dan mengumpulkan ide-ide selalu. Ia bisa disapa di medsos @pintan.yn

 

Check Also

Peralihan dari Literasi Keuangan ke Kebiasaan Keuangan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *