Mendengar Riwayat Vinyl dan Semiotikanya

 

Saban kali ada perayaan monumental, maka musisi atau band akan merilis piringan hitam (vinyl). Sebut saja Slank yang merilis vinyl “Joged” (2024) untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-41, Mocca dengan “Life in Bloom” (2025) untuk memperingati seperempat abad berkariernya, atau God Bless yang menetas ulang album “Anthology” (2025) untuk merayakan usia emas mereka.

Saya menilai peristiwa itu sebagai pola dalam lanskap industri musik kita. Memang, perayaan monumental itu spesial. Ia peristiwa sekali waktu yang jarang terulang. Di dalamnya, terangkum pelbagai kisah yang sarat akan pengorbanan, perjuangan, hingga pergolakan. Perayaan monumental menjadi simpul atas laku musikal. Ia perlu dirayakan. Lebih dari itu, momentumnya perlu dimonumenkan.

Dalam memonumenkan peristiwa tersebut,  tak sedikit musisi maupun band cenderung lebih memilih piringan hitam (vinyl). Padahal, ada medium lain yang tak kalah bagus. Sebut saja kaset pita ataupun kaset compact disc (CD). Dari situ, saya merasa ada nilai penting yang begitu melekat dengan vinyl, tetapi tidak dimiliki medium yang lain.

 

Tua

Vinyl itu tua. Ia bahkan menyandang gelar prestisius: putaran file suara tertua di dunia. Sejauh ini, tua kerap diasosiasikan pada tataran usia saja. Ia identik dengan renta, usang, atau rapuh. Padahal, lebih dari itu, tua juga mengisahkan tentang berlapis-lapis makna dan sejarahnya. Predikat tua hanya bisa didapat kala suatu benda berhasil melintas masa dan generasi. Hal yang demikian menandakan bahwa benda tua tersebut telah teruji dan mumpuni  melewati zaman.

Tua ibarat artefak yang menyimpan puspawarna kisah peradaban. Karenanya, benda tua kerap diburu. Tak sedikit orang yang ingin menjaga, merawat, hingga menjadikannya koleksi yang berharga. Dalam hal ini, tua bisa juga bermakna antik dan bernilai jual tinggi.

Dalam budaya Jawa, benda tua itu dinilai keramat dan bertuah. Ada kekuatan magis di dalamnya. Karena itu, benda tua amat dihormati dan diperlakukan sedikit lebih khusus. Vinyl itu bukan sekadar benda. Bukan juga sekadar tua. Vinyl sejatinya adalah simbol tentang ‘nilai tua’. Dan saya kira, para musisi—dalam konteks perayaan monumental mengadopsi hal tersebut. Alasannya remeh. Mereka senasib: sama-sama tua. Akan tetapi, justru di sanalah simpul pertaliannya. 

 

Harapan

Dalam lanskap industri musik kita, banyak sekali band atau musisi anyar. Akan tetapi, boleh dikata, sedikit sekali yang mampu bertahan. Ada yang memutuskan hiatus, bubar, dan bahkan hilang nirkabar. Padahal, lagu-lagu mereka cukup tenar di awal-awal. 

Di sini, api perayaan monumental menemukan panggangnya. Perayaan monumental hanyalah tampuk. Di dalamnya, termuat kisah tentang perjuangan dan kesetiaan tanpa henti. Boleh dikata, perayaan monumental adalah peristiwa langka yang hanya bisa ditunaikan oleh mereka yang menembus usia senja.

Perayaan monumental bukan titik akhir. Ia sebatas terminal untuk mengingat dan melanjutkan laku. Laiknya vinyl yang terus berputar meneruskan laku. Di tengah ringkasnya mendengarkan musik, vinyl tetap mampu memenangkan hati penggemarnya. 

Lihat saja survei dari  The Vinyl Alliance (2025) yang menyatakan bahwa penyuka vinyl dunia didominasi oleh gen z dan milenial dengan angka 76%. Ini menegaskan bahwa vinyl adalah benda tua yang mampu menggaet generasi baru. 

Dari situ, secara semiotis, vinyl dalam perayaan monumental adalah lambang tentang harapan. Musisi tersebut melayangkan asa agar karier mereka tak kunjung pudar. Karier itu tetap berputar dengan menembus generasi baru. Dengan demikian, karya mereka tak akan lekang oleh zaman.

 

Strata

Vinyl itu hanyalah amunisi. Perabot senjatanya bernama gramofon dan turntable. Pertanyaannya, siapa saja yang masih punya piranti itu di era kiwari? Tak semua orang punya tentunya! Paling-paling hanya kolektor penyayang barang antik, pecinta musik militan, atau masyarakat kaum atas yang duitnya berlebihan.

Memang, saat ini banyak beredar gramofon maupun turntable mutakhir yang harganya ramah kantong. Akan tetapi, ada kisah sejarah yang menjelma stigma. Sakrie dalam “100 Tahun Musik Indonesia” (2015) mencatat bahwa gramofon dan turntable itu mahal. Tak semua orang punya akses untuk mendapatkannya.

Dalam lensa sosiologi, benda itu cerminan kelas sosial. Di sini, gramofon dan turntable adalah milik kaum atas. Sementara, kaum menengah ke bawah cukup dengan radio, syukur-syukur walkman. Sayangnya, stigma  tersebut telanjur hidup (hingga kini. Imbasnya, masyarakat kaum menengah ke bawah tak akrab dengan piranti tersebut. Di sini, vinyl turut kena sandera lantaran ia adalah amunisinya. Vinyl dipandang sebagai benda mewah bin eksklusif.

Dalam konteks ini, secara semiotis, vinyl dalam perayaan monumental berguna untuk menunjukan strata bahwa musisi tersebut ada dalam strata atas. Strata itu bisa dibuktikan dari karyanya yang setumpuk, albumnya yang berderet, dedikasinya yang tak sedikit, serta kepopulerannya yang telah menembus batas generasi.

Semua itu tidak bisa dilakukan hanya dengan mengedipkan mata. Butuh keteguhan, kesetiaan, dan waktu yang tak sebentar. Sementara, musisi atau band yang demikian boleh dikata sedikit dan langka. Karenanya, menjadi wajar jika yang langka ada di strata atas. Dan sekali lagi, vinyl adalah salah satu simbol yang mampu merepresentasikan hal itu.

 

Penulis: Supriyadi, Etnomosikolog, Esais, dan Komposer.

 

Check Also

Borneo dalam Kepungan Asap

  Setiap kali terjadi karhutla, kita seperti sudah hafal siapa yang akan disalahkan: kemarau, El …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *