
Baru-baru ini muncul tren “date cancelled” pembaca yang membaca karya-karya Tere Liye (TL). Sebelum menyinggung soal itu, izinkan saya menggali ingatan & menyajikan beberapa persoalan. Pertama, karya-karya TL digolongkan Sastra Indonesia Populer (SIP). Bacaan SIP—bukan hanya karya TL saja—seringkali dijauhi atau diejek oleh pembaca sastra serius/kanon/bertendens. Apa perbedaan SIP & Sastra Indonesia Kanon (SIK)? Saya takkan menjawab & mengulangnya di sini. Kawan-kawan pembaca yang budiman, silahkan bisa baca buku atau esai-esai di Internet. Sudah banyak esai-esai yang menguraikan hal tersebut.
Tulisan saya akan berangkat dari sisi pengalaman personal. Pertama, saya “pernah” berada pada fase sebagai pembaca yang mengejek para pembaca karya SIP. Padahal saya sendiri memulai sejarah membaca juga dengan karya SIP. Membaca karya-karya Andrea Hirata ialah tangga awal bacaanku. Namun, semenjak ke Jogja & bergabung dengan komunitas sastra Jejak Imaji, saya mengalami peningkatan dalam urusan membaca. Perkembangan tersebut tak lepas dari bacaan rekomendasi abang-abangan di komunitas tersebut. Saya mulai mencicipi karya Pramoedya Ananta Toer, Eka Kurniawan, Chairil Anwar, dll. Namun, dari amatan saya, ada pula orang yang langsung membaca karya kanon, tanpa pernah merambah karya SIP sebelumnya.
Alasan saya mengejek para pembaca karya SIP sejatinya tak hadir dari diri sendiri. Melainkan ikut-ikutan dari kawan-kawan tongkrongan di kampus. Ejekan itu lahir tanpa dasar yang jelas. Saya tak tahu apa yang sebenarnya diejek & kenapa. Begitupun kawan-kawan tongkrongan tadi, mereka juga ikut-ikutan dari tongkrongan lain. Tanpa pernah membaca atau meneliti SIP. Sikap demikian, bukanlah sikap intelektual sejati, kan? Masa’ kita menghakimi sesuatu tanpa tahu apa yang sedang dihantam?
Saya tak ingin menjadi intelektual yang demikian. Maka, saya memulai membaca sampel karya TL & karya penulis lain yang dianggap terlalu ringan, selain itu juga membaca sejarah sastra Indonesia. Hasil dari penelusuran tersebut ialah esai pendek berjudul, Sastra Populer: Riwayatmu Kini? yang tayang di pocer.co, media tersebut kini sudah tak ada. Esai tersebut ialah tulisanku yang pertama diterima media. Agak aneh sebetulnya, karena di komunitas Jejak Imaji, saya digembleng total menulis puisi & jadi penyair sejati. wkwk
Setelah makin bertambah bacaan, usia & pergaulan, saya makin bijaksana-bijaksini. Saya juga pernah nimbrung & tergabung dalam klub buku. Nah, di situlah saya menemukan berbagai jenis para pembaca. Ada yang menekuni diri sebagai pembaca manga, politik, ekonomi, dll. Hasil dari pergaulan tersebut ialah tak mengejek para pembaca SIP lagi. Ejekan yang demikian, di kemudian hari dinamai book shaming.
Sejatinya menurutku, membaca SIP tak masalah, misal pada masa remaja awal. Namun, baiknya, harapannya mereka juga berkembang sebagai pembaca, tapi tak jadi soal juga jika mereka terus-terusan nyaman membaca karya SIP. Bagiku, yang jadi masalah ialah (ini sering kutemui), mahasiswa jurusan Sastra Indonesia tak pernah-tak tahu-tak mau membaca SIK. Ini gawat, karena mereka berada di jurusan sastra, yang harusnya membaca berbagai varian. Dan lebih gawat lagi, mereka-mereka ini, jika direkomendasikan/diajak membaca SIK, menolak mentah-mentah. Mending, keluar jurusan sastra aja deh. Pindah ke jurusan perhutanan juga tak buruk-buruk amat. Syukur-syukur bisa buka usaha mebel, lalu jadi presiden.
Kembali ke soal TL, menurut amatan & pengalamanku, orang-orang mengejek pembaca TL, tak serta merta karena jenis bacaan. Melainkan ada faktor lain. Meskipun tak semua, tak bisa dipukul rata, beberapa tipe pembaca karya TL, ialah orang-orang yang tidak asyik, alias menyebalkan. Misal, mereka marah ketika TL tak dianggap sastrawan. Mereka ini tahu gak sih, makna sastrawan? Mereka juga tersinggung jika karya TL dianggap ringan atau buruk. Mereka ini pernah baca karya yang lain gak sih?
Dugaan saya, fanatisme parah ini, mematikan daya kritis mereka. Mereka jadi tidak terbuka atas pandangan orang lain, tak mau membaca karya penulis lain, bahkan sering pula menolak diskusi. Sikap fanatisme tak asyik demikian, banyak kita temukan dalam kasus lain, semisal pendukung politikus tertentu, kepercayaan religius tertentu. Orang-orang sejenis ini, memang baiknya dijauhi. Namun, meng-cancel seseorang hanya karena bacaannya tak sesuai dengan bacaanmu, tak membuatmu & dunia ini lebih baik. Jika gitu, kau tak ubahnya beberapa penggemar karya TL yang menyebalkan tadi. Jika alasan meng-cancel tadi ialah karena alasan bahwa pembaca karya SIP memiliki pengetahuan & pandangan yang sempit, saya juga tak setuju. Saya punya contoh, seorang kawan yang kehidupannya ia habiskan untuk membaca karya TL. Di luar bacaannya itu, kawan ini memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Dalam urusan yang disenanginya itu, ia cukup menguasai & meyakinkan. Lagi pula, pengetahuan & kecerdasan seseorang kan tidak hanya didapatkan dari novel, ya, kan?
Pada sisi lain, alergi pembaca karya SIP, justru menciptakan jurang tanpa jembatan. Kesadaran demikian, membuatku tak alergi para pembaca karya SIP. Beberapa waktu lalu, aku mengiyakan permintaan mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan untuk membahas novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Selain karena honorarium & melebarkan kemungkinan calon pembaca buku terbaruku, ada pula niatan lain. Niatannya ialah menciptakan jembatan bagi jurang pembaca karya SIP & SIK. Saya mewakili pembaca sastra kanon, sedangkan mahasiswa & siswa SMA dari dua sekolah, mewakili pembaca SIP.
Pada kesempatan tersebutlah, saya bisa bertukar pandangan mengenai dua hal tersebut, merekomendasikan beberapa bacaan yang saya suka & mendengarkan rekomendasi bacaan dari mereka untukku. Tak ada kebencian, tak ada cancel, tak ada ejekan. Murni satu generasi, yaitu gen Z—btw saya ialah generasi awal gen Z—berbagi hal-hal menyenangkan seputar buku bacaan.
Jemi Batin Tikal, kadang mendengarkan musik pop, kadang makan ayam pop. Buku yang telah terbit Yang Tidak Mereka Bicarakan Ketika Mereka Berbicara tentang Cinta (puisi, 2023, Litani Literasi) & Membakar Buku, Membakar Manusia (esai, April 2026, Jejak Pustaka). Ia bisa ditowel via instagram: @jemibatintikal atau dicubit via surel: batintikalj@gmail.com
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan