“Human is condemned to be free!”.
—Jean Paul Sartre dalam Being and Nothingness.
Belakangan ini kita dihadapkan dengan kabar berita adanya fenomena pembacokan di UIN Suska Riau, yakni pelaku pembacokan bernama Rehan dan korban pembacokan bernama Fara. Kita sebagai makhluk yang berpikir-bebas (baca: free-thinker dalam bahasa Era Pencerahan), tentu bebas melihat suatu fenomena dari berbagai perspektif, sehingga kita bebas menyoroti suatu fenomena sesuai apa yang kita inginkan sekaligus bebas menggunakan peralatan-berpikir apapun. Dalam wilayah demokrasi (baca: demokrasi-nyata, bukan pseudo-demokrasi), kita bebas berpola pikir apapun bahkan bebas berpola pikir secara non-silogisme/logical-fallacy sekalipun. Itulah mengapa kita bisa menemukan berbagai macam opini; dari opini yang bercorak silogisme/logis, hingga opini yang bercorak non-silogisme/logical-fallacy. Namun naasnya, kita masih bisa menemukan banyak “masyarakat Indonesia pada umumnya” justru menggunakan pola pikir bercorak logical-fallacy. Bahkan ironisnya, adanya akun-akun literasi pun turut mencipta opini bercorak logical-fallacy. Dan tentu saya sudah tidak heran, sebab di Indonesia sangat minim pembelajaran seputar silogisme, jadi pola pikir “masyarakat Indonesia pada umumnya” masih terpaku oleh pola pikir logical-fallacy termasuk akun-akun literasi sekalipun.
Dalam esai ini, saya hendak menguraikan apa saja pola pikir yang bercorak logical-fallacy dalam melihat fenomena pembacokan tersebut. Tentu esai yang saya susun ini bersandar pada literatur-literatur panduan silogisme macam Robert H. Thouless dalam Straight and Crooked Thinking (1953), hingga T. Edward Damer dalam Attacking Faulty Reasoning: A Practical Guide to Fallacy-Free Arguments (2009), sekaligus literatur-literatur panduan silogisme lainnya. Saya membagi esai ini menjadi tiga bagian, yakni; Bagian pertama, saya menguraikan apa saja pola pikir logical-fallacy yang digunakan oleh “masyarakat Indonesia pada umumnya” yang notabene melihat fenomena pembacokan tersebut menggunakan beberapa jenis pola pikir logical-fallacy yakni; Logical-Fallacy of Hasty Generalization, Logical-Fallacy of Appeal to Popularity, dan Logical-Fallacy of Invincible Ignorance. Bagian kedua, saya menguraikan apa yang saya maksud dengan Para SJW yang berpijak pada Perspektif-Gender dan Para Awam yang berpijak pada Perspektif-Historis-Asumtif serta bagaimana Para SJW menggunakan pola pikir Logical-Fallacy Of Hasty Generalization sekaligus Logical-Fallacy Of False Equivalence sedangkan Para Awam menggunakan pola pikir Logical-Fallacy Of Appeal to Intuition. Selain itu keduanya juga mempunyai kesamaan, yakni sama-sama menggunakan pola pikir Logical-Fallacy of Cherry Picking. Bagian terakhir, saya tutup dengan menguraikan bahwa tentu masih ada jenis perspektif yang non–logical-fallacy dalam melihat fenomena pembacokan tersebut.
Beberapa Jenis Pola Pikir Logical-Fallacy yang Digunakan oleh “Masyarakat Indonesia pada Umumnya” dalam Melihat Fenomena Pembacokan di UIN Suska Riau
Saya sangat sering menemukan fakta bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang terjebak oleh pola pikir logical-fallacy. Termasuk pada fenomena pembacokan di UIN Suska Riau yang mana “masyarakat Indonesia pada umumnya” masih menggunakan pola pikir logical-fallacy dalam melihat fenomena pembacokan tersebut. Tentu perlu dicatat bahwa saya menggunakan diksi “pada-umumnya” atau ”sebagian-besar” (baca: saya beri tanda kutip pada diksi tersebut untuk menghindari logical-fallacy of hasty generalization) sebagai diksi yang secara subjektif saya gunakan untuk sekedar menggambarkan banyaknya orang yang terjebak oleh pola berpikir logical-fallacy tersebut. Hal ini saya simpulkan berdasarkan data yang saya temukan pada banyaknya komentar/opini bercorak logical-fallacy pada postingan-postingan sosial media yang memuat berita seputar fenomena pembacokan tersebut. Dari situ saya bisa mengklasifikasikan setidaknya ada tiga jenis logical-fallacy sebagai berikut;
(1). Logical-Fallacy of Hasty Generalization: “Masyarakat Indonesia pada umumnya” menganggap semua orang pasti bakal mengalami fenomena tersebut, atau bahkan semua laki-laki pasti selalu berpotensi menjadi pelaku dan perempuan pasti selalu berpotensi menjadi korban, padahal fakta empiris nya tentu tidak selalu seperti itu. Sebab fenomena Rehan dan Fara adalah fenomena khusus (partikular), bukan fenomena general. Sehingga, tidak semua orang entah laki-laki/perempuan/interseks/non-biner mengalami fenomena tersebut, dan tidak semua orang entah laki-laki/perempuan/interseks/non-biner selalu berpotensi menjadi pelaku atau pasti selalu berpotensi menjadi korban. Maka, pola pikir yang menggeneralisir segala sesuatu tersebutlah yang dinamakan sebagai pola pikir Logical-Fallacy of Hasty Generalization. Yakni struktur logical-fallacy nya; jika beberapa kasus adalah X, maka semua kasus yang ada adalah X.
(2). Logical-Fallacy of Appeal to Popularity: “Masyarakat Indonesia pada umumnya” mengira bahwa semua orang harus memihak pada Rehan ataupun Fara dan jika tidak memihak sama sekali maka orang tersebut salah, padahal siapapun bebas memihak/tidak memihak sekalipun. Siapapun bebas tidak memihak—atau sebaliknya—bebas memihak Rehan ataupun Fara, sebab ada orang yang memihak/iba pada Rehan bukan akibat tindakan kekerasan yang telah dilakukan Rehan, melainkan akibat rasa empati kepada Rehan lantaran telah menjadi korban perselingkuhan (baca: tanpa mendukung kekerasan yang telah dilakukan), dan ada pula orang yang memihak/iba pada Fara akibat mendukung kebebasan HAM; yakni mendukung kebebasan Fara untuk menentukan hidupnya sendiri antara memilih setia, selingkuh, bunuh diri, lebih pilih makan bakso dibanding makan soto, atau apapun itu. Kalau menganggap semua orang itu salah ketika tidak memihak atau memihak salah satunya entah Rehan/Fara, maka anggapan tersebutlah yang dinamakan sebagai pola berpikir Logical-Fallacy of Appeal to Popularity. Yakni struktur logical-fallacy nya; banyak orang percaya bahwa X salah, maka X pasti salah.
(3). Logical-Fallacy of Invincible Ignorance: “Masyarakat Indonesia pada umumnya” langsung menganggap orang yang menyatakan diri bahwa dirinya memihak/iba pada Rehan adalah orang yang mendukung femisida/benci perempuan. Padahal bisa saja orang tersebut hanya memihak/iba pada Rehan lantaran Rehan telah disakiti secara mental oleh Fara (akibat diselingkuhi Fara), bukan memihak pada tindakan kekerasan yang telah dilakukan Rehan. Maka, otomatis tidak bisa dikatakan bahwa orang tersebut mendukung pembunuhan Fara ataupun pembunuhan semua perempuan. Selain itu, orang tersebut tidak bisa dikatakan sebagai pembenci perempuan, sebab tidak ada muatan kebencian dalam pernyataannya, tapi mungkin saja dibenaknya ada rasa benci, tapi bukan benci pada semua perempuan, melainkan hanya benci pada Fara (entah Fara bergender/berseks apa) ataupun bisa pula benci pada semua orang (entah bergender/berseks apa) yang melakukan tindakan perselingkuhan. Kalau tidak bisa melihat secara empiris bahwa orang tersebut benci Fara atau benci tindakan perselingkuhan bukan benci perempuan secara keseluruhan, maka itu yang dinamakan dengan Logical-Fallacy of Invincible Ignorance. Yakni struktur logical-fallacy nya; ada orang yang berasumsi bahwa X benar, tapi ternyata ada bukti empiris yang menunjukkan bahwa X salah, maka orang tersebut tetap mengatakan X benar tanpa mengakui bukti empiris tersebut.
Dua Kubu Besar Logical-Fallacy: Kubu SJW vs Kubu Awam
Selain saya menemukan bahwa “masyarakat Indonesia pada umumnya” menggunakan beberapa jenis pola pikir logical-fallacy yang telah saya uraikan di atas, saya juga menemukan bahwa secara spesifik “masyarakat Indonesia pada umumnya” tersebut terbagi menjadi dua kubu besar logical-fallacy, yakni antara Kubu Para Social Justice Warrior (SJW) Berperspektif-Gender dan Kubu Para Awam Berperspektif-Historis-Asumtif dalam melihat fenomena pembacokan tersebut. Hal ini bermula dari fenomena pembacokan yang dapat kita bagi menjadi dua babak. Babak pertama adalah ketika adanya berita yang memuat video pembacokan serta memuat sebuah narasi-asumtif yang menyatakan bahwa motif Rehan melakukan pembacokan adalah akibat penolakan-cinta. Akan tetapi, babak kedua adalah ketika adanya berita yang memuat bukti empiris berupa video yang memuat hubungan asmara yang ternyata sebelumnya telah dijalin oleh Rehan dan Fara. Fenomena inilah yang memantik adanya Kubu Para SJW Berperspektif-Gender dan Kubu Para Awam Berperspektif-Historis-Asumtif.
Lantas apa yang saya maksud dengan Kubu Para SJW Berperspektif-Gender dan Kubu Para Awam Berperspektif-Historis-Asumtif?. Sebelum itu, kita perlu mengetahui bahwa Para SJW adalah orang-orang yang bertindak/berhasrat sebagai seorang penegak keadilan sosial yang sangat sering mengomentari segala fenomena sosial sekaligus ingin membuat suatu perubahan terhadap fenomena sosial tersebut. Sedangkan Para Awam adalah orang-orang yang sesekali bertindak/berhasrat hanya untuk sekedar mengomentari secara spontan beberapa fenomena sosial dalam beberapa kesempatan saja. Perbedaan yang kentara dari keduanya adalah Para SJW intensinya ingin merubah, sedangkan Para Awam sekedar ingin mengomentari. Namun dalam konteks ini, keduanya memiliki kesamaan pola pikir logical-fallacy dalam melihat fenomena pembacokan tersebut. Kesamaan logical-fallacy Para SJW dan Para Awam adalah sama-sama menggunakan Logical-Fallacy of Cherry Picking. Sedangkan perbedaan perspektif logical-fallacy nya ialah Para SJW berpijak pada Perspektif-Gender yang menggunakan pola pikir Logical-Fallacy Of Hasty Generalization sekaligus Logical-Fallacy Of False Equivalence, dan di sisi lain Para Awam berpijak pada Perspektif-Historis-Asumtif yang menggunakan pola pikir Logical-Fallacy Of Appeal to Intuition. Lebih lanjut saya uraikan sebagai berikut;
(1). Logical-Fallacy of Cherry Picking: Kedua kubu tersebut sama-sama terjebak pada Logical-Fallacy Of Cherry Picking. Yakni hanya melihat satu atau dua hal saja dalam sebuah fenomena. Padahal semua orang mempunyai kebebasan untuk melihat dari banyak hal. Para SJW dan Para Awam tersebut seperti orang yang hanya memetik buah ceri yang matang dan mengabaikan buah yang busuk di pohon, lalu mengklaim bahwa; semua buah ceri di pohon ini enak. Kita bisa melihat logical-fallacy tersebut dari contoh empiris yang mereka lakukan, yakni; Para SJW mengatakan bahwa; kita harus fokus ke tindakan kekerasannya saja, sedangkan Para Awam mengatakan bahwa; kita harus fokus ke drama yang melingkupinya juga. Kubu SJW menyindir Kubu Awam bahkan menyuruh Kubu Awam agar fokus ke tindakan kekerasannya saja, atau yang mereka sebut—tentu secara logical fallacy of hasty generalization—sebagai femisida. Dengan kata lain, Para SJW hanya memilih satu hal dalam fenomena tersebut yakni tindakan kekerasannya saja, dan menepis hal lain yakni drama yang melingkupi fenomena tersebut. Sedangkan Kubu Awam mengatakan bahwa kita harus melihat dua hal yakni drama yang melingkupi fenomena tersebut, sebab dengan itu kita bisa memetik hikmah dari adanya fenomena tersebut. Dengan itu, maka kedua kubu tersebut hanya melihat dari satu dan dua hal saja, padahal masih banyak hal lain yang melingkupi suatu fenomena; entah kekerasannya, entah drama yang melingkupinya sebelum terjadi kekerasan, entah proses penyidikannya setelah terjadi kekerasan, entah lain sebagainya. Yakni struktur logical-fallacy nya; Ada bukti A yang mendukung sebuah klaim, maka klaim tersebut sudah benar, padahal masih ada bukti lainnya; bukti B, C, D, dan seterusnya yang bertentangan dengan bukti A tersebut tetapi tidak turut disebutkan/disoroti.
(2). Logical-Fallacy Of Hasty Generalization sekaligus Logical-Fallacy Of False Equivalence: Para SJW berpijak pada perspektif bahwa fenomena tersebut harus dilihat dari perspektif berbasis gender, sehingga konteks pembacokan tersebut merupakan konteks pembacokan antar gender. Yakni fenomena yang erat dengan fenomena gender vagina (baca: diksi lebih tepatnya seks-vagina, bukan gender-vagina) yang seringkali tertindas dan rentan, sedangkan gender-penis/seks-penis seringkali menindas. Dengan itu, maka fenomena Rehan dan Fara merupakan fenomena upaya femisida yang dilakukan oleh seorang Rehan yang misoginis. Padahal perspektif gender macam ini merupakan perspektif yang Logical-Fallacy Of Hasty Generalization bahkan Logical-Fallacy Of False Equivalence. Sebab seperti yang telah kita lihat dimuka bahwa fenomena ini merupakan fenomena khusus (partikular) antara Rehan dan Fara, bukan fenomena general yang melibatkan gender. Sehingga fenomena ini bukanlah fenomena femisida (feme-genosida), sebab dalam fenomena ini Rehan melakukan tindakan farasida (fara-genosida/lebih tepatnya fara-killing). Bahkan Rehan bukanlah seorang misoginis (pembenci-perempuan), melainkan seorang faraginis (pembenci-Fara). Inilah Logical-Fallacy Of Hasty Generalization sekaligus Logical-Fallacy Of False Equivalence yang digunakan oleh Para SJW. Yakni struktur logical-fallacy nya yang pertama; jika beberapa kasus adalah X, maka semua kasus yang ada adalah X. Dan struktur logical-fallacy nya yang kedua; jika X adalah Y, maka X adalah Z.
(3). Logical-Fallacy Of Appeal to Intuition: Para Awam berpijak pada perspektif bahwa fenomena tersebut harus dilihat dari perspektif historis-asumtif, sehingga konteks pembacokan tersebut merupakan konteks pembacokan yang tidak bisa lepas dari sisi historisnya berupa drama-drama yang sebelumnya telah melingkupinya. Yakni fenomena tersebut merupakan fenomena berbasis drama penolakan-cinta. Sehingga munculah perspektif awal yang berpijak pada narasi kabar-burung (non-empiris) yang beredar bahwa fenomena pembacokan tersebut merupakan fenomena antara Rehan yang tidak terima ketika ditolak cintanya oleh Fara. Padahal perspektif historis-asumtif yang macam ini adalah perspektif yang Logical-Fallacy Of Appeal to Intuition, yakni seseorang menganggap sesuatu benar hanya lantaran “terasa benar” atau sesuai intuisi saja, bukan lantaran adanya bukti faktual (bukti-empiris). Contohnya: “Saya merasa teori ini benar, jadi pasti benar”. Padahal setelah itu munculah lagi bukti konkrit (bukti-empiris) yang beredar bahwa fenomena pembacokan tersebut merupakan fenomena berbasis drama kecemburuan-cinta, bukan penolakan-cinta (tentu hal ini bisa dicek ulang kembali). Inilah perspektif Logical-Fallacy Of Appeal to Intuition yang digunakan oleh Para Awam. Yakni struktur logical-fallacy; jika intuisi berkata X, maka instuisi tersebut pasti benar, padahal tidak ada bukti-empiris yang menunjukan bahwa X benar.
Apakah Ada Perspektif yang Non–Logical-Fallacy?
Kita sudah melihat dua perspektif logical-fallacy yang digunakan oleh Kubu Para SJW dan Kubu Para Awam. Namun, apakah ada perspektif lain yang merupakan perspektif Non-Logical-Fallacy?. Tentu ada, dan perspektif Non-Logical-Fallacy ini digunakan oleh orang-orang yang saya sebut sebagai Para Logis; yakni orang-orang yang mempelajari silogisme/epistemologi sekaligus berpijak/menerapkan pola pikir silogisme. Singkatnya, secara khusus ada beberapa pola pikir Non-Logical-Fallacy yang digunakan oleh Para Logis untuk melihat fenomena pembacokan tersebut. Yakni sebagai berikut;
(1). Perspektif Keberpihakan pada Kemanusiaan: Para Logis tidak perlu melihat fenomena pembacokan dengan perspektif-gender, sebab siapapun gendernya, rasnya, jika melakukan tindakan pembacokan pada orang lain, maka itu merupakan tindakan kriminal. Sehingga fenomena pembacokan tersebut merupakan fenomena kemanusiaan, yang tidak perlu dikait-kaitkan dengan gender. Bahkan secara lebih spesifik merupakan fenomena pembacokan antara Rehan dan Fara, bukan fenomena pembacokan manusia secara general. Dengan itu, Para Logis dapat terhindar dari pola pikir Logical-Fallacy Of Hasty Generalization ataupun Logical-Fallacy Of False Equivalence. Sehingga secara otomatis, Para Logis yang berpihak pada kemanusiaan bisa merespon fenomena tersebut dengan mengatakan bahwa fenomena tersebut adalah fenomena kriminalitas secara empiris yang dilakukan oleh seorang manusia bernama Rehan kepada seorang manusia bernama Fara, bukan seorang laki-laki, perempuan, interseks, non-biner, dan seterusnya.
(2). Perspektif Keberpihakan pada Empirisme: Para Logis tidak perlu melihat fenomena pembacokan dengan perspektif-historis-asumtif, sebab satu-satunya metode-epistemis (baca: cara untuk memperoleh pengetahuan) yang digunakan oleh Para Logis adalah metode empiris. Dengan itu, Para Logis merespon narasi kabar-burung tersebut dengan mengatakan bahwa narasi kabar-burung tersebut adalah narasi kabar-burung yang masih abu-abu lantaran belum ada bukti empiris yang disertakan. Yakni belum ada—setidaknya—klarifikasi dari kedua pihak (pelaku dan korban) yang menyatakan bahwa motif tindakan pembacokan tersebut adalah akibat dari penolakan-cinta atau kecemburuan-cinta, maupun belum ada bukti-empiris macam video yang misalnya memuat hubungan asmara yang telah terjalin sebelumnya, seperti yang telah terkuak belakangan (tentu hal ini bisa dicek ulang kembali). Sehingga dengan itu, Para Logis dapat terhindar dari Logical-Fallacy Appeal To Intuition.
(3). Perspektif Ketidakberpihakan: Para Logis tidaklah harus berpihak pada Kubu Para SJW Berperspektif-Gender atau Kubu Para Awam Berperspektif-Historis-Asumtif. Sebab secara ontologis (baca: filosofi mengenai hakikat entitas), Para Logis bebas memilih untuk tidak berpihak, sehingga Para Logis bebas pula tidak menghiraukan adanya fenomena tersebut. Analoginya; Para Logis bebas bersikap laiknya menjadi Negara Non-Blok yang tidak memihak peperangan antara Negara Barat ataupun Negara Timur. Dengan itu, Para Logis pun bebas tidak menggubris (bersikap apatis) terhadap fenomena tersebut. Sebab Para Logis mengetahui bahwa dalam wilayah demokrasi, setiap individu bebas menentukan pilihan hidupnya masing-masing, sehingga dalam konteks ini bebas pula tidak berpihak pada kubu yang telah ada ataupun kubu-kubu apa pun.
Sampai di sini kita bisa melihat bahwa “masyarakat Indonesia pada umumnya” notabene menggunakan pola pikir logical-fallacy, dan muncul dua kubu besar logical-fallacy yakni Para SJW dan Para Awam. Lantas apakah kita memilih menjadi “masyarakat Indonesia pada umumnya” dan berpihak pada salah satu kubu besar tersebut?. Atau kita memilih menjadi salah satu dari Para Logis yang bebas untuk memilih sekaligus menyatakan diri berperspektif memihak kemanusiaan, berperspektif memihak empirisme, ataupun berperspektif ketidakberpihakan?. Saya mengingatkan—seperti yang telah saya urai di muka—bahwa dalam wilayah demokrasi, kita bebas berpola pikir apapun, bebas berpihak ataupun tidak berpihak sekalipun. Keputusan ada di tangan kita masing-masing. Senada dengan yang telah diuraikan oleh Jean Paul Sartre dalam Being and Nothingness (1957) bahwa; Human is condemned to be free!.
Penulis: Mochamad Iqbal M, S.Sn. merupakan Penulis, Kurator, Seniman, Pengajar, Ketua Departemen Seni Rupa Dewan Kesenian Daerah, sekaligus sebagai Sarjana Seni (S-1) Institut Seni Indonesia Surakarta yang kini sedang melanjutkan studi Magister Seni (S-2) Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Kerap menulis esai seputar filsafat, seni, sastra, pengantar kuratorial dalam berbagai pameran multidisipliner, mengorganisir berbagai event kesenian, serta menciptakan berbagai karya seni rupa. Instagram @mchmd.iqbal.m
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan
