Komu, Norris, Kita: Tentang Kebersamaan Panjang dan Pertemuan Teramat Ringkas

 

Barangkali, sama seperti owner dan orang-orang di toko buku Shira Media, saya pun menuliskan “fragmen obituarium” ini dalam lara, perasaan berdarah, marah, sekaligus kejengahan sebagai manusia. Kehilangan Norris adalah bagian dari kehilangan kita—tetapi saya, toh tetap harus melanjutkan hidup bersama Komu, tempat saya merasakan bahwa ada yang sama dari sorot mata seluruh kucing di dunia. Kehidupan adalah kehidupan; dan kehilangan adalah kehilangan—bagiku, kedua-duanya sama-sama menakutkan. 

 

Fragmen I: Komu

Kotagedhe, kisaran Oktober-November 2019. Saya mengingat, itu bulan-bulan pertama menempati Oemah Dahlan—sebuah kos-kosan di gang padat rumah-penduduk perbatasan Bantul dan Kota Yogyakarta. Dari balkon kamar di lantai dua, saya kerap memandang langit. Dari tempat itu, purnama rasanya lebih dekat beberapa jengkal dengan wajah kita. Ada arsiran mega pada langit kekuningan, tipis, dan di sisi-sisi yang lainnya, sisik-sisik ikan dibentuk cakrawala. Dongakan pemancar jaringan, membentuk garis vertikal hitam. Kabel menghubungkan satu atap dengan atap lain yang sama-sama dikenai bayangan—dan di antara itu semua, ada siluet hitam di pucuk rumah yang teramat ganjil.

Demikianlah pertama kali saya menemui Komu—kucing yang kini karib saya panggil sebagai Mr. Boy. Pertemuan pertama dengannya, adalah pertemuan yang kerap saya bayang-bayangkan bagai adegan pelarian Itachi Uchiha, sebelum benar-benar meninggalkan Konoha: keduanya sama-sama berdiri di bawah rembulan sempurna, sebagai sosok yang masing-masing dikenai pertanyaan. Dalam catatan yang lain, saya pernah mengatakan: pada mulanya, saya sedemikian anti pada kucing. Mereka menjengkelkan. Jika tidak menyemprotkan cairan pesing, menggaruk-garuk bagian jok motor, bergarongan satu sama lain, maka pastilah mereka berlaku mengacak-acak sampah.

Tetapi memang, jalan perasaan manusia adalah gerak koin karambol yang terlampau sukar ditebak arah pantulannya: setelah kepergian Tiger, Koppy, dan Jessu lantaran panleu, hanya Komu yang dekil dan liarlah yang tersisa. Saya memutuskan merawatnya, memandikannya, lebih-lebih tatkala suatu hari, saya menemuinya mengalami masalah pencernaan—ia prolaps, dan masih kambuh-kambuhan hingga kini.

Dari puluhan ribu, ratusan, bahkan hingga jutaan, saya pernah merasakan penghabisan lantaran pengobatan Komu. Barangkali, ini kedengaran agak gila, tapi demikianlah realita yang mesti saya hadapi di hadapan makhluk berbulu itu. Teramat, teramat tidak tega jikalau saya harus membiarkan mereka dalam penderitaan—dan karena perasaan inilah, saya akhirnya mengerti kenapa ada orang-orang semacam aktor di belakang layar Martini Cat House, Rumah Kucing Ifan, Kucing Juga (@kucingjuga), atau yang lainnya, mencoba sebisa mungkin menyediakan rumah dan kehidupan layak bagi hewan-hewan yang telantar.

Bahkan, kepada istri, saya pernah melontarkan utopia: saya ingin membangun rumah, yang punya ruang teramat luas, tempat kucing-kucing sakit di seluruh dunia bisa menemukan kesehatan lagi. Korban pemukulan, penyiraman air panas, lindasan roda kendaraan, adalah yang orang-orang pandang lumrah menjadi nasib bagi hewan-hewan domestik, utamanya anjing dan kucing. Kadang-kadang, mereka pun disepadankan dengan “hama”, lantaran ledakan populasi yang tidak terkontrol—maka karena itulah, jalan satu-satunya untuk mengontrol adalah “memusnahkan” dalam arti paling banal. Mengapa orang-orang semakin ke arah terkini, begitu remeh memandang makna nyawa?

Fragmen II: Norris

Di perpustakaan dengan pencahayaan tidak terlampau terang itu, sekaligus toko buku yang dikelola oleh Shira Media, kami mengingat bagaimana bola karet menggelinding ke sana ke mari dan seekor kucing tuxedo mengejarnya sambil sesekali berjungkir balik layaknya atraksi—seekornya lagi bermotif silver tabby, memilih menggelendot di kaki pengunjung liyan. Belakangan, melalui unggahan yang seketika mengaratkan perasaan kami, kami tahu bahwa kucing tuxedo gembul itu adalah Norris. Saya dan istri terdiam, saling berpandangan, seakan-akan sama sekali tidak yakin bahwa kucing yang persis seminggu lalu kami usili, kini telah tiada lagi. Akhir April 2026.

Norris, konon pergi selamanya. Malam-malam, ia menjadi korban penganiayaan orang tidak bertanggung jawab. Pertemuan ringkas—dan itu, adalah pertemuan pertama sekaligus yang terakhir bagi kami. Selamat jalan, Norris sayang. Postingan itu membuat trauma saya bangkit—sebab kepergian Norris yang tiada ditemukan jasadnya, mirip kepergian Koppy yang dibuang ke penampungan sampah di Lapangan Karang.

Fragmen III: Manusia

Saya selalu meyakini, para pelaku tindakan tidak senonoh kepada manusia lain, juga secara sadar kepada makhluk-makhluk di luar spesies manusia, adalah subjek yang pandangan dan kesadarannya membuntu pada fenomena fisikal kehidupan. Penganiayaan Norris, pembuangan Koppy, juga pandangan yang mereduksi hewan sebagai hama, mengarah secara riil kepada gejala “spesiesisme”: bias fatal yang meletakkan kepentingan Homo sapiens jelas-jelas di atas penderitaan spesies lain. Rasa-rasanya, kita akan menemukan bahasa bagi kebuntuan moral manusia ini dalam diskursus spesiesisme yang diajukan oleh Peter Singer dalam teksnya, Animal Liberation (1975).

Singer memijak pada prinsip “utilitarianisme”. Fokusnya pada perluasan prinsip kesetaraan. Dalam kerangka etiknya, tolok ukur untuk menghargai entitas lain sama sekali tak bisa ditentukan oleh tingkat kecerdasan, rasionalitas, atau kapasitas berbahasa. Titik tolak pertimbangan moralnya bertumpu sepenuhnya pada kapasitas makhluk tersebut untuk merasakan sakit, sama-sama bisa menderita (sentiensi). Komu yang menahan perih akibat prolaps, atau Norris yang direnggut nyawanya secara paksa, nyatalah makhluk berkapasitas merasakan sakit yang teramat identik dengan penderitaan fisik manusia.

Ya, manusia yang mengabaikan rasa sakit makhluk lain, murni karena perbedaan spesies, pada dasarnya menggulirkan diskriminasi etis yang berakar pada kesombongan dan keangkuhan biologis. Subjek-subjek yang menganiaya hewan ini, gagal memahami kenyataan bahwa rasa sakit tidak mengenal hierarki taksonomi. Mereka gagal memposisikan diri secara etis dalam jejaring kehidupan. Itulah mengapa mereka membenarkan kekejaman paling “receh” dan “dangkal” demi memuaskan keangkuhan eksistensi sebagai manusia.

Belum selesai di situ. Dalam titik kritis semacam ini, kita bakal bertemu problema lainnya lagi: rupanya, menyelamatkan hewan tidak semudah dan semurah itu. Telah saya katakan, bahwa dari tarif puluhan ribu hingga jutaan rupiah, telah saya rogoh dari saku selama merawat kucing-kucing yang tinggal bersama saya—catat: hanya “merawat” ketika sakit, dan bukan untuk keperluan perawatan kemolekan mereka. Seorang dokter hewan yang berbaik hati memberikan perawatan murah kepada Komu—lantaran saya benar-benar tak beruang sebab masih serabutan—konon sempat diprotes karena dianggap merusak tarif pasar perawatan kucing. Tempat yang lain sepi, dan jadilah si drh. baik ini bulan-bulanan orang seprofesinya. Alamak!

Pelan-pelan saya mencerna realitas bisnis di fase itu. Ada lapis-lapis kapitalisasi—dari kapitalisasi pendidikan, ke kapitalisasi (servis) kesehatan. Memang sukar membayangkan bahwa pendidikan seorang dokter, mau dokter manusia ataupun dokter hewan, tidak menghabiskan bertumpuk-tumpuk pecahan uang berwarna merah muda dengan jumlah nol lima. Menggelontorkan modal, maka untung tak boleh diulur-ulur. Balik modal dulu, baru berpikir kebaikan ini-itu. Jelas, ada banyak kepentingan praktis-finansial yang bergelayutan di sektor ini. Bukankah, dengan mendapati minimnya kejernihan berperikehidupan semacam ini, artinya menghadapi kehilangan (anabul) dan melanjutkan kehidupan sama saja mengerikannya?

Fragmen IV: Pecinta Kucing

Maka mau tak mau, seperti gema “warga bantu warga” yang pernah masif kita simak, “pecinta hewan bantu pecinta hewan” juga mesti turut dilengkingkan dalam kondisi ini. Apatah sebabnya? Saya ingin menyitir lebih dulu cara pandang Jean-Luc Nancy di titik ini. Ia memperkenalkan konsep sentral “komunitas inoperatif” atau dalam bahasa Prancis “la communauté désœuvrée”. Secara historis, wacana filsafat dan politik sering memandang komunitas sebagai “karya” (œuvre) atau proyek yang harus diproduksi dan dicapai. Fasisme, komunisme, ataupun komunitarianisme romantis, misalnya, membayangkan komunitas sebagai proses penyatuan individu-individu ke dalam satu identitas tunggal yang utuh, murni, dan organik (layaknya wacana “bangsa”, “ras”, atau “persaudaraan absolut”).

Nancy menolak pandangan tersebut. Baginya, ketika komunitas berupaya meleburkan individu-individu ke dalam satu tubuh atau esensi yang absolut, hal itu justru potensial berujung pada totaliterisme dan kekerasan, tempat berbagai perbedaan direduksi dan dihapuskan. Bagaimana kaitannya dengan relasi para pecinta kucing?

Yang bisa kita terawang dan perhatikan dari laku orang-orang dalam komunitas pecinta kucing, khususnya jejaring penyelamat hewan telantar dan rumah singgah, ialah sebentuk relasi sosial yang secara persis memanifestasikan gagasan mengenai komunitas inoperatif tadi. Alih-alih terbentuk berdasarkan asas kegunaan, pencapaian target ekonomi, atau upaya membangun identitas kolektif yang hegemonik, perkumpulan semacam ini justru lahir dari persinggungan langsung dengan kerentanan dan kefanaan. Dalam kerangka masyarakat modern yang sangat operatif—di mana segala sesuatu diukur berdasarkan fungsi, utilitas, dan kapasitas produksi—kucing-kucing jalanan, korban penganiayaan fisik, atau penderita petaka medis seperti panleukopenia dan gangguan pencernaan akut layaknya prolaps, sering kali diketepikan sebagai residu kehidupan. Mereka dilekatkan dengan stigma ketidakbergunaan, bahkan lebih jauh dianggap pengganggu tata ruang perkotaan.

Di titik marginal inilah, tindakan merawat dan menyediakan ruang aman bagi hewan-hewan tersebut, seakan-akan jadi interupsi etis terhadap logika “karya” yang totaliter sebagaimana diperkenalkan Nancy—karena ekosistem perawat kucing telantar jarang berupaya memproduksi proyek utopia yang utuh dan selesai. Kebersamaan di antara para relawan dan perawat independen secara terus-menerus terpanggil dan diikat oleh penderitaan serta kematian entitas liyan. Kematian makhluk yang diremehkan—nyawa-nyawa rentan yang berakhir di jalanan, terlindas kendaraan, atau dibuang ke penampungan sampah—menjadi titik fundamental yang menyadarkan manusia perihal finitas atau keterbatasan eksistensi. Ketika seseorang bersedia mengalokasikan waktu, tenaga, dan menguras penghabisan finansial demi memperpanjang napas seekor kucing tanpa secercah pun harapan akan imbal balik pragmatis, relasi yang terbangun lantas bertumpu pada prinsip berbagi (partage).

Manusia dan hewan dalam ruang perawatan yang sunyi sekaligus penuh harapan ini, secara konsisten mempertahankan singularitas masing-masing di garis batas taksonomi spesies yang berbeda, tanpa pernah berpretensi melebur menjadi satu substansi absolut, yang utuh. Mereka hadir, beririsan, dan berbagi ruang eksistensi tepat pada tapal batas kerapuhan biologis. Pertemuan-pertemuan di klinik hewan, pengorbanan waktu di ambang penderitaan makhluk berbulu, hingga lara yang mengaratkan perasaan akibat kehilangan makhluk tak berdosa, menggagalkan hampir seluruh ilusi kesempurnaan dan kejayaan antroposentrisme.

Itulah sebabnya, ruang-ruang kepedulian terhadap hewan domestik yang telantar ini tumbuh dan bernapas sebagai lokus inoperatif yang ideal. Orang-orang ini, menghidupkan spirit “berada-bersama” yang terus-menerus mengafirmasi kehidupan semata-mata demi kehidupan itu sendiri, merawat nyawa justru pada saat nyawa tersebut berada di tubir pengabaian dan kekejaman yang pengap dan gelap. Demikianlah setidaknya.

Yogya-Purwokerto, April-Mei 2026

 

Penulis: Ilham Rabbani, Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dan Magister Sastra, Universitas Gadjah Mada (UGM). Karya-karyanya yang telah diterbitkan dalam bentuk buku adalah kumpulan esai Perihal Sastra & Tangkapan Mata (2021), buku kajian Sastra, Kedaruratan, Pahlawan (2022), buku puisi Mempelajari Silsilah Api (2023), dan buku kajian Tamasya ke Dunia Kappa (2024). Dapat dihubungi via akun: Instagram @_ilhamrabbani; Twitter @IlhamRabbani09; atau surel ilhamrabbani505@gmail.com.

 

 

Check Also

Alergi Sastra Pop & Salepnya

Baru-baru ini muncul tren “date cancelled” pembaca yang membaca karya-karya Tere Liye (TL). Sebelum menyinggung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *