Jalanan masih basah, sebab hujan petang tadi; dan aroma hujan masih terasa saat perjalanan ke Parot Siramami. Di sana, kau hendak datang-menonton pameran keramik Wisnu Purbandaru—yang bertajuk Inconveniently Convenient Life. Sesampai di sana, kau dapati kedai yang tengah tak terlalu ramai; dan sedikit kau duga juga, mungkin, sisa hujan masihlah jadi lembut penahan orang untuk datang, berbincang menyantap makan. Di sana, kau memesan es krim kelapa dan beberapa pangsit goreng: ya—cake yang diingin gadis manis itu habis. Itu kedatanganmu yang kedua ke sana; yang pertama, kau datang saat pameran cat air dan peluncuran buku Emte. Ah, Januari itu, Januari yang didefinisi hujan lembut, goresan cat air halus, juga bibir yang terasa begitu manis… Dan, setelah memesan-membayar, kau masuk mencari posisi: meletakkan jaket jin hitam, nomor, dan botol minum. Ya, kau dan gadis sudah makan berat sebelum genap gelap; dan lebih menikmati santapan ringan penutup akhirnya—

Setelah meletak jaket, nomor, dan botol minum, sambil menanti pesanan, kau lihat-lihat karya yang terpajang, tersaji-terpresentasi. Sejak awal masuk, sepasang matamu langsung saja tercuri pada karya yang menampil sepasang ikan keranjang, menampil dua ekor basket sardens, di sisi kanan pintu ketika masuk. Posisinya yang dekat saklar, tertutupi kecil tali kipas angin dinding yang menempel lantas menjelma seperti pancing, dan berada pula di atas meja kecil sendok-garpu, kecap-sambal, dan lainnya, bagimu, seperti memberi narasi unik pada karya. Dan, sebab berada terpajang di sebuah kedai, meski menu yang ditawar lebih ke menu asia timur-tenggara, kau seperti terbawa pulang yang karib tapi sedikit ganjil. Di dalam kepalamu, ikan keranjang, rumah, dan pulang seperti saling mendefinisi; seperti saling memberi arti. Ah, tulisan dari kapur itu yang kian menjadi…

Dan kau bergeser ke ruang sebelah kiri pintu, sebelah kiri dari sisi kau masuk. Di sana, di antara meja-kursi yang belum genap terisi, atau mungkin baru saja ditinggal pergi, kau terdiam agak lama melihat-pandang seri kecil itu. Presentasi dan penataan demikian, bagimu, terasa nyaman dan pas: seperti koleksi mainan masa kanak. Dan itu kali, kala melihat semua dengan berlama, kau merasa begitu puas; terpukau pula pada bayangan dari dudukan dan karya mungil… Dan, kau mendekat, melihat lebih rinci detail. Kemudian, kau baru menilik ke bawah, menilik judul-judul dari tiap figur. Di ruangan itu pula, kau lihat karya miniatur tabung gas melon 3kg—yang ditata rapi dalam komposisi 9×9: kubus hijau! Dan, lukisan yang ada di samping karya keramik gas melon itu membawamu pada presentasi kursi Joseph Kosuth. Dua medium itu seperti saling berbincang; dan kau dibawa kepada percakapan itu.

Lalu, kau keluar dari ruangan itu; dan masuk ke ruangan seberangnya. Di sudut sebelum ruang yang dituju, kau mendapati dua buah karya itu: tiga buah kepala dengan rambut-rambut yang lucu, rambut yang meleleh… Dan kau baca judul karya itu; lantas mendapati nama dari masing-masing: “Mimi dan Mituno” juga “Minti”. Kontras warna itu, pun yang ada di dalam ruangan sebelumnya, terasa amat lembut, dan penuh nostalgia. Dan, saat mau masuk ke ruangan lain, saat mengamati dengan lebih dekat, dari sisi atas, kau baru sadar, ada sejenis lubang atau bibir vas: Ah, menarik pula bila ada setangkai bunga di sana: menjelma mimpi, menjelma bunga tidur… Sepasang telingamu menangkap musik yang diputar begitu menyatu; dan membawamu pada suatu dramaturgi—


Saat masuk ke ruangan itu, kau sejenak terdiam, dan mengingat warna dinding, sebab kepalamu dihantui tanya: Ah, dicat ulang atau tidak, ya?—agaknya tidak. Ya, bagimu, karya dan dinding ruangan itu terasa begitu menyatu dan tak dipaksa sama sekali. Sepasang matamu, kemudian, tercuri pada karya keramik yang menempel di sisi kanan pintu ruangan itu, sisi kanan ketika masuk. Sepasang matamu, yang dibesarkan pendidikan tinggi berbasis teks, tentulah tercuri ke tulisan di atas karya; dan bertanya-tanya tentang sesuatu—terlebih relasi teks itu dengan karya keramik. Namun, tak lama, kau tersenyum geli; sebab sadar, ada satu telur asin di antara lemon-lemon kuning. Dan, seperti sebelumnya, selain pada cat dinding, kau terpukau pada bayangan dari karya yang menempel-ditempelkan di dinding itu: bayangan telur dan lemon yang hampir sama; dan bayangan dari keranjang yang ada di bawah lemon dan telur asin itu. Dan kau, seperti biasa, betah terkagum pada kenyataan, bahwa itu semua dari keramik, dari tanah liat. Dan karya itu, saat ditimbang dengan gambar yang ada di sampingnya, bagimu, seperti menjelma menjadi sekuens; sebab itu terasa muncul sejenis lakuan aksi gerak cerita sederhana.

Di sisi depan ruang, kau dapati dua gambar yang menarik-menggelitik. Di sisi kiri, kau dapati tembok yang penuh dengan keramik kecil, tapi tak terasa ganjil. Dan, di tengah, komposisi di dalam rak, bagimu, terasa membuat betah dan nyaman memandang. Warna merah jambu dan biru, serta variasi di antara itu, membuatmu yang memandang dilimpahi perasaan tenang, karib, tapi juga suatu jarak yang entah: Apa ini suatu nostalgia? Figur-figur seperti terumbu karang, cangkir, rumah-rumahan, kursi, gelas, pipa, keran dan ikan, juga sisir di rak-rak itu, kembali hadir seperti sekuens, seperti panel komik; dan kepalamu yang dibesarkan perihal narasi-narasi itu: seperti diminta-dibujuk hangat membuat cerita. Ah, keramik terampil membuat kronik…

Dan, saat menilik sekeliling, kau merasa geli sendiri dengan objek keramik dan kata-kata yang dimunculkan. Saat melihat sandal jepit dengan tulisan kapur di bawahnya—yang berbunyi tell me something, girl, are you happy in this modern world?—kau tertarik untutuk mendekat; dan saat mendapati yang tertulis di sana adalah shallow dan bukan swallow, tertawa getir kecillah kau. Demikian pula saat menilik sisi satunya, pasta gigi dan kursi plastik dengan kata-kata yang menggelitik pula di sekitarnya. Betapa piring-piring dan mangkuk yang belum genap terangkat, bagimu, malah membawa narasi dan dramaturgi tersendiri. Lalu, kau keluar dan melihat dua gambar-grafis yang tampil dengan kata menggelitik pula.


Di luar ruangan itu, kau terdiam agak lama menyaksi dua gambar itu, gambar orang-orang yang mudik dan kata-kata yang menggelitik-menarik. Di sisinya, kau dapati karya mix-media yang menjelma instalasi: Pocet Memories. Ada struk dari Parot Siramami, klip kertas, penjepit roti tawar, dan uang 200 rupiah dari keramik. Dan kau, sebagai seorang yang gemar pada bebenda dan arsip, seperti disadarkan lagi, jika struk pembayaran, koin, klip untuk kertas, dan pengunci bungkus roti tawar adalah juga berharga, adalah juga hal yang punya cerita bermakna. Di dalam saku pun ada sejarah, biografi, dan narasi-narasi. Dan kau kembali ingin mengutip sajak pendek itu, sajak Goenawan Mohamad tentang keramik itu, tentang sebuah poci dalam kuatrin itu.


Dan kau kembali ke depan, ke tempat duduk yang tadi dipilih. Di sana, kau baru sadari lebih, bahwa karya keramik dan gambar tentang sisir di belakang tempat duduk yang kau pilih itu tak genap utuh: ada yang patah-hilang. Dan, kau teringat pada nenekmu pun nenek buyutmu, pada sisir model yang demikian itu. Ah, sisir pun berharga pula, meski telah ganjil diguna: Lalu, apa yang berharga pada tanah liat itu? Dan kau duduk, melihat karya yang ada di depanmu: tulisan dari keramik yang tertata dan sebuah figur ikan. Dan, gadis manismu itu duduk di sampingmu, berbincang tentang karya yang kalian pandangi sedari tadi di ruang-ruang itu. Pesananmu dan dia datang. Ia mencicipi, dan berkata itu begitu segar; lalu menyuapimu yang membuat catatan kecil-kecilan tentang itu pameran di gawai. Tidakkah ganjil, Mas, ucapnya yang tadi juga sudah makan berat bersamamu, kita menikmati lembut es krim selepas hujan? Dan, kau mengangguk, sambil membayangkan karya-karya yang kalian pandangi sedari tadi hampirlah serupa dengan seperti memakan lembut es krim setelah reda sebuah hujan—
Bagimu, mendatangi pameran Inconveniently Convenient Life adalah seperti berkunjung ke rumah seorang kawan atau kenalan. Perasaan dari soalan semacam itulah yang melimpahimu. Dan, saat mengingat beberapa pameran di kedai atau kafe yang sempat kau datangi, kau merasa Inconveniently Convenient Life termasuk pameran yang pas. Ia tak merusak dramaturgi kedai, tetapi memanfaatkannya; dan terasa tak dipaksa: bahkan saling menunjang. Orang-orang yang datang dan pergi, yang niat makan lalu sejenak memandang, pun sebaliknya, tak dipaksa untuk satu yang lain. Ya, sekali lagi, bagimu, karya-karya itu terasa lumrah, tapi perlahan memberikan rasa mengusik ganjil yang tak lembut. Komposisi ruang atau situasi piring yang belum sempat diangkat, bagimu, jadi suatu komposisi lain, jadi dialog yang mengasyikan. Dan, bagimu, yang menyenangkan lainnya, bukanlah hanya seri karya keramik itu sebagai benda, sebagai suatu keramik saja, tapi juga bagaimana keramik itu dipresentasi bahkan berinteraksi dengan lainnya. Keramik yang seni dan sehari-hari, yang rapuh dan kuat, yang penuh pertimbangan tapi juga membuka ruang di luar timbangan, terpresentasi dengan tawaran lembut interaksi. Ah, ya, pun sebaliknya: melihat keramik dan menyantap makanan jadi suatu yang saling melengkapi. Ah, keramik memang bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga dialami…
Dan kalian pun keluar, hendak melanjutkan kecil perjalanan. Di luar, sejenak, kau lihat bulan setengah; dan teringat awal tahun. Ia berkata padamu lirih: Ya, barangkali rasa nyamanlah yang membuat kita bisa saling percaya, bahkan di dunia dan negara yang begini rupa. []
(Maret—April, 2026)
Penulis: Polanco S. Achri adalah seorang penyair dan penulis prosa, juga pengulas teater dan seni rupa, yang lahir-bermukim di Yogyakarta. Selain menulis, terkadang ia juga jadi kurator seni, produser film dokumenter, dan sutradara teater. Ia bisa dihubungi di Instagram: polanco_achri.
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan