Ketika Teknologi Menjadi Relief

Catatan setelah melihat pameran seni bertajuk Techno: Primitive

 

Ada sesuatu yang menarik dari Techno: Primitive bahkan sebelum melihat karya-karya yang dipamerkan.

Dua kata tersebut seperti dua pertemuan dari dua ujung waktu. Techno memberi kesan tentang sesuatu pada hari ini yang didaku modern, terus dikembangkan, dan diperbarui. Sementara Primitive mengantarkan kita menuju suatu masa yang lampau, awal mula, bahkan mungkin suatu masa sebelum apa-apa yang hari ini kita kenal sebagai “teknologi”. Primitive, rasanya juga seperti yang dikatakan Squidward dalam episode SB-129 dari musim pertama, bahwa, “sepertinya tata krama belum ditemukan di sini.”

Tapi setelah keliling galeri dan melihat karyanya, aku justru lebih tertarik pada pertanyaan sederhana yang terbesit dalam pikiranku: sebenarnya apa yang dimaksud primitive di sini?

 

Foto: Doc. Chrisna

Menyoal Karya yang Tertangkap Mata

Karya-karya Ajar menggunakan komponen keyboard; alat buat ngomong tanpa ngomong. Jari tinggal tik tik tik, tahu-tahu sudah jadi paragraf panjang, ada salah ketik tiga kata, terus auto-correct ikut campur, dan bikin hubungan makin rumit. Kalau menurut catatan penulis pameran, Rist, Ajar menjelajahi keyboard yang merupakan artefak teknologi hasil peradaban manusia. Keyboard tersebut dieksplorasi menjadi relief. Tapi aku tidak cukup menguasai teknik berkarya untuk membicarakan teknik pengerjaan, sehingga bagian itu bukan sesuatu yang ingin aku persoalkan. Yang menarik bagiku justru perubahan status benda tersebut.

Karya-karya yang ditampilkan memang membawa kesan seperti lanskap bebatuan atau artefak yang ditemukan dari masa lalu. Keyboard yang biasanya kita kenali sebagai benda modern, fungsional, dan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari berubah menjadi permukaan yang kasar, berat, dan diam. Dari jauh bahkan beberapa bagiannya lebih dulu terbaca sebagai batu daripada keyboard, apalagi pada karya yang berjudul “Puing: Hitam”.

Teks pameran sebenarnya sempat menyentuh gagasan yang menyebut teknologi masa kini bisa menjadi artefak masa lalu dan “membekukan lini masa peradaban”. Pada bagian ini aku merasa ingin diajak ngobrol lebih jauh perihal kalau keyboard bisa menjadi artefak, berarti teknologi punya semacam masa kedaluwarsa. 

Namun, setelah kalimat itu, teksnya kembali sibuk menjelaskan bagaimana keyboard dipilih, disusun, dipadukan dengan material lain, dibuat asimetris, diberi warna tertentu, ditambah oksida hijau, pasir, dan sebagainya. Semua informasi itu memang membuatku tahu karyanya dibuat seperti apa. Tapi kemudian aku memikirkan: terus, setelah keyboard berubah jadi relief, sebenarnya kita sedang melihat apa? Sampah teknologi? Fosil peradaban? Atau jangan-jangan kita sedang melihat masa depan yang kebetulan nyasar ke ruang pameran?

Sebagai pembaca, aku punya pertanyaan: setelah aku tahu bagaimana karya ini dibuat, lalu apa yang harus kupikirkan? Bagiku, di situlah perbedaan antara deskripsi dan interpretasi mulai terasa.

 

Foto: Doc. Chrisna

Membaca Primitive dalam Karya

Keyboard yang biasanya membawa kita ke dunia virtual justru diubah menjadi sesuatu yang sangat material: batu. Teknologi yang biasanya sibuk, yang biasanya menghasilkan tulisan dan informasi, sekarang hanya jadi benda diam yang bisa kita lihat dan raba. Dari sini aku jadi memikirkan juga soal hubungan teknologi dengan alam dan apa yang terjadi ketika teknologi sudah kehilangan fungsi.

Keyboard yang tadinya dipakai untuk ngomong tanpa ngomong, kelak jadi objek yang harus dibaca. Yang semula menjadi alat untuk membuat tanda berubah menjadi tanda itu sendiri. Ada semacam pembalikan fungsi di sana.

Aku menemukan beberapa pembahasan mengenai techno-primitivism. Istilah ini kurang lebih merujuk pada kritik terhadap perkembangan teknologi modern dan gagasan untuk melihat kembali kehidupan yang lebih sederhana atau pra-industri. Dalam artikel Özgür Yılmaz, Digital Colonialism, Ecological Crisis and the Limits of Techno-Primitivism, techno-primitivism dibahas sebagai “respons” terhadap keterasingan dan dampak ekologis teknologi modern. Namun, Yılmaz juga mengingatkan bahwa hubungan antara teknologi dan “primitive” tidak sesederhana teknologi versus alam atau modern versus tradisional.

Kemudian pada karya-karya yang ditampilkan dalam ruang pamer, apakah primitive yang dimaksud adalah relief dengan material batu merupakan respons tersebut? Terlalu mudah jika, Ya, jawabnya.

Pembahasan lain menyebutkan, Charles Cramer & Kim Grant dalam Primitivism and Modern Art, menjelaskan bahwa istilah primitive sendiri bukan istilah yang sesederhana kelihatannya. Dalam pembahasan tentang primitivisme dalam seni modern, primitive pernah digunakan untuk menyebut kebudayaan atau karya yang dianggap berada pada tahap perkembangan yang “lebih awal”. Masalahnya, istilah tersebut sejak awal membawa hubungan yang aneh: sesuatu bisa dikagumi karena dianggap lebih dekat dengan alam, lebih sederhana, atau lebih murni, tetapi pada saat yang sama tetap ditempatkan sebagai sesuatu yang “belum berkembang”. Jadi, jika melihat karya Ajar, primitive menjadi bukan hanya tentang bentuk batu, tanah, atau sesuatu yang kelihatan tua. Ada perihal yang lain tentang cara manusia modern melihat sesuatu yang dianggap berada di luar atau sebelum modernitas.

Keyboard sebagai salah satu benda di zaman modern. Ia membantu manusia berbicara, bekerja, mencari informasi, menulis, bahkan marah-marah di internet. Tapi ketika keyboard dicabut dari fungsi aslinya lalu disusun menjadi semacam relief, ia seperti kehilangan statusnya sebagai teknologi. Maka aku melihat primitive bukan sebagai lawan dari teknologi, tetapi sebagai kondisi ketika teknologi kehilangan fungsi modernnya dan kembali terlihat sebagai benda.

Ada sesuatu yang cukup menarik di sini. Delinda Collier, dalam Media Primitivism: Technological Art in Africa, justru mempertanyakan anggapan yang memisahkan teknologi dari sesuatu yang dianggap alamiah, elementer, atau “primitif”. Ia melihat bagaimana media dan teknologi juga selalu punya hubungan dengan material, sejarah, ekstraksi, dan konteks kolonial. Dengan kata lain, teknologi tidak pernah benar-benar melayang begitu saja di udara sebagai sesuatu yang abstrak.

Dalam karya-karya Ajar, jika melihat beberapa judul karya, sepeti Bongkah, Puing, ini membawa kita pada persoalan waktu dan sejarah tersendiri. Bongkah merujuk ke material yang belum kita kenali, sementara puing mengarah pada sisa dari sesuatu yang pernah utuh. Collier bahkan menghubungkan teknologi yang mulai usang karena benda-benda teknologi itu sebenarnya sudah memiliki kemungkinan kematiannya sendiri. 

Hari ini kita masih menggunakan keyboard, tapi karya-karya dalam pameran Techno: Primitive memperlakukannya seolah-olah itu semua sudah terjadi. Di situlah aku melihat primitive bukan sebagai lawan teknologi, tapi cara melihat teknologi dengan jarak waktu tertentu. 

Keyboard dalam karya Ajar, menurutku, bisa dilihat bukan sebagai benda digital yang tiba-tiba berubah menjadi relief, tetapi sebagai benda teknologi yang sedang diperlihatkan materialitasnya. Biasanya kita tidak terlalu memikirkan keyboard sebagai benda. Kita memikirkan apa yang bisa dilakukannya. Keyboard disusun menjadi relief, fungsi itu hilang. Yang tersisa adalah bentuk, tekstur, berat, material, dan jejak penggunaannya. Dan mungkin di situlah “primitive”-nya mulai terasa.

 

Foto: Doc. Chrisna

Cita-cita Keyboard: Semacam Penutup

Barangkali itu yang membuat Techno: Primitive menarik: bukan karena ia berhasil membuat keyboard terlihat seperti relief, tapi karena ia membuat teknologi modern terlihat seperti artefak dari sebuah peradaban yang suatu saat akan terlewat.

Pada akhirnya, aku masih melihat keyboard di karya ini; tombol-tombolnya masih ada, bentuknya masih bisa dikenali. Hanya saja ia sudah tidak bisa melakukan pekerjaan yang biasanya aku minta darinya. Tidak bisa mengetik. Tidak bisa mencari sesuatu. Tidak bisa mengirim pesan. Tidak bisa dipakai buat marah-marah di internet. 

Kita terbiasa menganggap teknologi sebagai sesuatu yang selalu mengarah ke depan. Keyboard datang setelah mesin tik, lalu mungkin suatu hari keyboard juga akan digantikan sesuatu yang lain. Begitu terus. Tapi karya Ajar seperti membalik urutan itu. Keyboard yang seharusnya membawa kita ke masa depan malah dibuat seperti benda dari masa lalu.

 

Bacaan Pendukung

Özgür Yılmaz, “Digital Colonialism, Ecological Crisis and the Limits of Techno-Primitivism,” tripleC: Communication, Capitalism & Critique 23(2), 2025, hlm. 338–359. 

Delinda Collier, “Media Primitivism: Technological Art in Africa,” Duke University Press, 2020. 

Charles Cramer & Kim Grant, “Primitivism and Modern Art,” Smarthistory. 

 

 

Penulis: Imarafsah Mutianingtyas, hidup di Yogyakarta sejak 2015. Buku pertamanya Rumah Baru dan Hal-Hal Baru Lainnya terbit pada September 2023. Saat ini kegiatannya mengerjakan layout, ilustrasi, dan pengembangan publikasi kreatif secara independen.

Check Also

Mendengar Riwayat Vinyl dan Semiotikanya

  Saban kali ada perayaan monumental, maka musisi atau band akan merilis piringan hitam (vinyl). …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *