
Pada (11/7/2026) Komunitas Sastra Jejak Imaji sukses menggelar pertunjukan musikalisasi puisi wayang yang bertajuk “Laras”. Pertunjukan tersebut sebagai bagian dari rangkaian acara “Pertunjukan dan Workshop Musikalisasi Puisi Wayang 2026” yang diselenggarakan selama dua hari.
Pertunjukan yang mempersatukan wayang, sastra, dan musik tersebut menampilkan lima puisi yang dimusikalisasikan. Puisi-puisi tersebut diantaranya, Cupu Manik Hasthagina (S. Arimba), Di Ujung Penantian (Angga T. Sanjaya), Dari Cinta yang Sembunyi (Ardy Suryantoko), Sakuntala (Gunawan Maryanto), dan Sampai Anjalika Menutup Kisahku (Umi Kulsum). Komunitas Sastra Jejak Imaji berkolaborasi dengan Gilang Arya Duta (dalang), Elisha Orcarus Allaso (sinden dan dalang), Juanita Janis (penyanyi), Maheswari Nilot (pembaca puisi), Ahmad Syaiful Hadi (pembaca puisi).
Pertunjukan tersebut dimaksudkan untuk mendekatkan kembali wayang pada generasi muda di tengah arus deras hiburan media sosial dengan cara yang lebih kekinian. Wayang dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan keberadaannya tidak perlu lagi dipedulikan. Menghadirkan unsur musikalisasi puisi dalam rangka menjauhkan “kuno” dari kesan yang sudah berada di benak generasi muda.
Dipilihnya tajuk “Laras” bukan tanpa alasan. Laras menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai lima arti, dua diantaranya yaitu, (1) (tinggi rendah) nada (suara, bunyi musik, dan sebagainya); tala, (2) kesesuaian; kesamaan. Pemilihan “laras” dianggap mewakili unsur-unsur yang ada pada pertunjukan tersebut, yaitu sastra, musik, dan wayang.

Elisha Orcarus Allaso, selaku sinden dan dalang mengatakan secara pribadi dirinya sangat antusias dengan pertunjukan musikalisasi puisi wayang. Sebelum pertunjukan, Elisha mengaku sudah membayangkan bakal seperti apa pertunjukan yang akan berlangsung.
“Menghubungkan tiga hal (sastra, musik, dan wayang) yang berbeda menjadi unik. Wayang menjadi didengarkan penikmat sastra, yang sastra dinikmati oleh penikmat wayang. Keduanya seperti dijembatani oleh musik,” ucapnya.
Tantangan menurutnya terletak pada karakter sebagai seorang sinden yang terbiasa membawakan tembang bahasa Jawa, yang dalam pertunjukan tersebut harus menyanyikan musikalisasi puisi yang berbahasa Indonesia. Apalagi sebagai sinden, terbiasa membutuhkan waktu yang panjang. Dengan waktu yang singkat, mengatur ketukan-ketukan tertentu untuk menyesuaikan dengan perasaan dan emosi musikalisasi puisi yang sudah jadi.
Ahmad Syaiful Hadi, selaku ketua pelaksana dalam sambutannya menyampaikan bahwa proses membuat musikalisasi puisi berlangsung selama tiga bulan. Adapun proses tersebut diantaranya, kurasi puisi, aransemen, hingga rekaman. Tidak lupa, Syaiful berterima kasih kepada sinden, dalang, penyanyi, dan pembaca puisi yang sudah bersedia diajak untuk berkolaborasi, juga panitia dan anggota Komunitas Sastra Jejak Imaji yang telah menyukseskan acara.
Ketua Komunitas Sastra Jejak Imaji, Dhimas Bima Shofyanto menaruh perhatian tersendiri terhadap padatnya acara yang digelar akhir-akhir ini.
“Saya sangat mengapresiasi, dengan agenda akhir-akhir ini, para anggota menjadi sering membahas wacana yang sedang digarap. Selain itu, di tengah kesibukan itu, para anggota masih sempat untuk berkarya,” ucap Dhimas.
Hal itu terbukti, dalam ajang Peksimiprov, Maheswari Nilot dan Ahmad Syaiful Hadi berhasil meraih juara. Maheswari Nilot meraih juara 1 cabang baca puisi, sedangkan Ahmad Syaiful Hadi meraih juara 3 cabang lomba monolog. Jemi Batin Tikal dan Sule Subaweh menerbitkan buku masing-masing berjudul Membakar Buku, Membakar Manusia dan Langkah-langkah Membuat Musikalisasi Puisi (Praktik, Estetika, dan Ruang Sosial).
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan