
Memakamkan Celcius
Aku memakamkan celcius yang meranjak naik di kamar kita.
Seorang memainkan piano di sudut kamar, menangkap bunyi-bunyi
yang lalu—bahkan saat aku dan kau belum lahir.
Pada gundukan tanah di atas makam celcius,
batu nisannya adalah prasasti yang kita museumkan;
kutuk, sumpah, dan janji.
Empaskan Tubuhku Serupa Benih
Jalankan tubuhku serupa roda pedati,
benih padi, ubi, dan labu, bukan roti.
Empaskan tubuhku di tanah basah,
tanah kering atau bukit gersang di tubuhmu.
Aku tak menemukan apa-apa di bentang dadamu.
Hanya tanah retak dan polusi.
Rel-rel kereta api, dari musim benih
hingga musim panen—
setia mengangkut gerbong-gerbong
yang mengulang keberangkatan.
Di Tubuhmu Es Mencair
Tubuhmu sempat mengecil,
di balik gelas berisi es batu; aku melihatnya.
Liat sekali, mencair di bulan Sapardi.
Seperti epigel setelah hujan;
berpayung doa di kelopaknya.
Seperti pohon basah penuh lumut;
tak ada jalan bagi matahari.
Seperti tangkai mawar penuh duri;
tubuhmu pernah tersayat dan luka.
Tubuhmu pulau-pulau hujung,
yang makin kecil.
Berayun penjajah membawakanmu remah timah,
emas, dan janji dolar.
Kematian Sutradara
Arsipkan aku meski tak pernah kau baca,
tumpukkan aku di naskah film dengan aktor yang kau benci.
File-file yang tidak dihiraukan itu adalah manuskrip
dengan tokoh-tokoh yang kabur dari cerita.
Dengan latar yang berlarian ke luar visual,
setelah sutradara mati.
Penulis: Mahesa Putra adalah seorang pengasuh kedai kopi bernama Roemah Tumbuh Kembang. Juga menulis puisi sebagai kerangka berpikir. Aktif berkegiatan dengan komunitas Opus Sastra yang berada di Palembang. Telah menerbitkan dua novel Dunia Dalam Serkap (2025), Mate Taun (2026).
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan