
“Akhir-akhir ini, tiap kali ibuku masak ikan goreng, aku tidak nafsu makan dan dilimpahi curiga. Apakah jangan-jangan ikan ini dalam dagingnya mengandung kandungan logam berat yang berbahaya bagi tubuh?”
Pikiran demikian juga sesekali mampir ke kepalaku ketika menghadapi hidangan ikan atau kerang. Kegelisahan di awal paragraf dikirimkan via pesan WhatsApp oleh kawanku, Pandu. Kami berdua lahir di pulau yang babak belur oleh tambang timah. Jadi, pikiran demikian wajar mampir ke kepala kami.
Kita lupakan soal ikan, sebab kami sedang tidak berselera sekarang. Mari kita bergeser ke alam tempat ikan hidup, yaitu air. Air adalah sumber kehidupan, pandangan klise itu diketahui oleh hampir semua manusia. Bahkan, tanpa mengetahui hal itu pun, makhluk hidup tentu akan mati jika tak ada air. Baik mati karena kehausan atau mati karena tanaman pangan tak produktif karena kekurangan air, yang kemudian memicu bencana krisis pangan dan kelaparan.
Menjelang SMA, kurun 2014, baru dua pekan saja tak hujan, air perigi kami sudah tak bisa disedot mesin. Maka, mau tak mau kami harus menimba dengan katrol. Itu baru permulaan kemarau, selanjutnya air tak tergapai timba. Jika pun tergapai, keruh bukan main. Tak layak pakai untuk mandi, mencuci, apalagi memasak dan minum. Sejak saat itu muncul peluang dan profesi baru: penjual air. Satu jeriken 20 L akan dikenai tarif 5.000 rupiah, satu drum 200 L seharga 50.000 rupiah, sedangkan satu tandon berkapasitas 2000-an L dihargai 200.000 rupiah. Satu rumah tangga dengan anggota keluarga empat orang, dalam sebulan akan menghabiskan dua atau tiga tandon air. Artinya dalam sebulan, pengeluaran untuk air mencapai 600.000 rupiah. Dari mana saya tahu semua itu? Sebab keluarga kami salah satu pembeli air itu.
Kasus demikian menjadi sangat ironi karena kampung kami dilintasi oleh sebuah sungai. Satu kilometer di belakang rumahku juga terdapat sungai kecil, yang sangat jernih. Namun, limpahan air itu, segera sirna, sebab hanya berjarak beberapa kilometer, kampung kami sudah dikepung tambang. Hutan yang dibabat berpengaruh besar terhadap ketersediaan air. Tiadanya pohon, membuat air tak bisa disimpan akar. Lekas menguap. Pencukuran hutan secara banal, baik di Indonesia maupun belahan dunia lain, membuat bumi bagai sebutir kacang dipanggang pemanasan global. Pemanggangan ini mencairkan es abadi di kutub. Mencairnya es, membuat air laut semakin meninggi. Pulau-pulau kecil terancam tenggelam. Pesisir lambat laun terkikis.
Pulau macam Bangka dan Belitung juga terancam air. Pesisirnya makin hari makin digerogoti air laut. Jalur utama dari kabupaten Bangka Selatan ke kota Pangkalpinang atau sebaliknya, melewati kabupaten Bangka Tengah. Terdapat satu jalan memanjang yang indah di tepi pantai, orang-orang menyebut rute ini Ardal, akronim dari Arung Dalam. Rute ini adalah rute yang sering dijadikan peristirahatan. Pemandangan pantai yang indah, pohon-pohon kelapa, pasir putih, adalah perpaduan surgawi. Namun, surga itu hari ke hari dikikis rob. 10 tahun belakangan, air pasang sudah membilas jalan yang hanya berjarak puluhan meter dari pantai. Maka, dibangunlah semacam tembok di laut, untuk meredam laju gelombang pasang. Tembok di tengah laut itu serupa pepatah karena nila setitik rusak susu sebelanga. Tembok seutas, rusak pemandangan laut sehampar.
Efek tambang timah tak hanya merusak lingkungan, tetapi juga manusia yang berdiam di Bangka Belitung. Hal itu dibuktikan oleh tulisan di kompas.com yang tayang 25/07/2016 berjudul Air Mengandung Logam Jadi Pemicu Masalah Gigi di Bangka Belitung. Tulisan tersebut menyatakan bahwa hampir 70% penduduk di Bangka Belitung terindikasi bermasalah dengan kondisi kesehatan gigi. Tiga tahun sebelumnya, 20 September 2013, tulisan bertajuk Gigi Berlubang Orang Babel Tertinggi se-Indonesia tayang di bangkapos.com. Tulisan tersebut menyoroti selain urusan pola makan, gigi berlubang juga disebabkan PH air di Babel mengandung asam tinggi.
Kembali ke kampungku, hingga SMP, di luar musim kemarau, kami tak pernah membeli air minum. Air minum yang kami gunakan berasal dari sungai atau sumur. Namun, semenjak tambang timah makin masif, kualitas air makin buruk. Rasanya tak lagi segar, berwarna keruh atau mirip teh. Semenjak SMP-lah keluargaku & rata-rata warga di kampungku, membeli air minum di depot air isi ulang. Per galon kisaran 8.000 hingga 20.000 rupiah. Rata-rata per rumah tangga menghabiskan 6 galon dalam sebulan, dengan biaya antara 50.000 hingga 120.000 rupiah.
Hingga SMP pula, sungai yang melintasi kampungku tak pernah meluap. Namun sejak SMA, air sungai sudah mulai menjalar ke pemukiman penduduk. Dari Jogja, kudengar kabar dari seorang kawan, kisaran 2023, sungai itu meluap semakin parah. Kampungku hanyalah salah satu gambaran kecil, kampung lain atau wilayah lain di Bangka Belitung juga sudah diancam banjir. Selain buah buruk pertambangan timah, perkebunan sawit juga menyumbang andil petaka ini. Pencukuran hutan untuk lahan sawit membuat lahan kritis, keanekaragaman tumbuhan-hewan hilang. Akumulasi tersebut bisa dipetik ketika musim penghujan tiba. Air tumpah, tak mampu diserap tanah dan akar-akar dengan baik.
Bangka Belitung (Babel) diancam air dari segala sisi; laut, sungai, hingga mengancam kesehatan orang-orang di dalamnya. Kondisi demikian membuat warga Babel terjebak dalam Perang Air. Istilah demikian, dilontarkan oleh Vandana Shiva, seorang feminis dan aktivis lingkungan dari India. Menurut Shiva, air yang merupakan sumber kehidupan harus dijaga dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kebutuhan manusia. Namun, air yang sejatinya disediakan oleh alam semesta gratis, kini telah jadi komoditi rebutan untuk kepentingan ekonomi.
Pada tahun 1995, Wakil Presiden Bank Dunia, Ismail Serageldin, memprediksi perang di masa depan, yang kini sudah mulai nampak. Menurut Serageldin, jika abad 19 perang banyak memperebutkan minyak bumi, maka perang masa depan akan dipercikan oleh air. Enam tahun kemudian, prediksi tersebut mulai mendekati kenyataan. Kelangkaan air diungkapkan media, terjadi di beberapa negara dari benua berbeda; Israel, India, Bolivia, Kanada, Meksiko, Ghana, bahkan Amerika Serikat. Pada 16 April 2001, media ternama New York Times mengangkat kelangkaan air di Texas. Surat kabar itu meramalkan, bahwa, “bagi Texas, kini bukan minyak yang menjadi cairan emas, melainkan air”.
Krisis air bisa memicu perang yang sebenarnya. Percik-percik konflik sudah mulai terjadi, contohnya antara Meksiko dan Amerika Serikat, India dan Pakistan, serta Singapura dan Malaysia. Di wilayah akar rumput, perusahaan-perusahaan air minum menjadikan air sebagai komoditas barang dagangan. Sumber daya yang sejatinya disediakan alam gratis. Aku teringat celetukan seorang kawan, “perusahaan air mineral sejatinya bukan menjual air, tapi kemasan plastik”. Penghijauan lahan bekas tambang? Ah, ajang demikian seringnya cuma jadi upacara seremonial pose pejabat depan kamera dan kemudian tayang di media. Hanya upaya memoles citra bagi pelaku tambang dan para pemangku jabatan. Pesimisme demikian pernah ditayangkan di mongabay.co.id tanggal 1 September 2017 berjudul Reklamasi Berkelanjutan Bekas Tambang Timah, Mungkinkah?
Persentase wilayah yang rusak dengan upaya penghijauan kembali jauh panggang dari api, tak sebanding. Warga Bangka Belitung terimalah nasib getir ini, dari segala sisi diancam air.
Jemi Batin Tikal, bukunya yang telah terbit Yang Tidak Mereka Bicarakan Ketika Mereka Berbicara Tentang Cinta (Puisi, 2023, Litani Literasi) & Membakar Buku, Membakar Manusia (Esai, 2026, Jejak Pustaka). Ia mengelola website ketiketik.com & kedai Kalimat Kopi Kotagede. Saat ini ia sedang mengerjakan buku puisi kedua. Penulis bisa dihubungi via media sosial Instagram/Facebook: @jemibatintikal atau surel batintikalj@gmail.com
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan