Satu Tetes Air Susu Moke & Puisi-Puisi Lainnya

 

Rabu Abu

Abu disalibkan di dahimu.

Dari tempayan di mana

tergeletak seserpih jasad waktu.

Dalam barisan yang tak kau inginkan itu

di antara tubuh-tubuh.

Pada mendung haru biru.

 

Abu serupa tanda

ketika tuan mengizinkanmu

bergabung ke dalam sabat

ke dalam jamuan dinar-dinar berkarat

ke dalam detik-detik yang 

terjebak simpul mati dan jam hanya 

bernapaskan batuk

sekarat.

 

Tapi kamis sudah menadah janji.

Bahwa esok hari malam mestinya berwarna putih.

Sedang kini kau di luar rumah

tak menemukan jalan menuju pintu.

“Abu yang ditebalkan niat

tak diseka oleh ragu”

batinmu gagu.

 

Abu disalibkan di kening 

hingga kau berdiri terpaku.

Dipaku sisa-sisa waktu

sebelum keping logam bertaruh.

Sembari mencium harum paving

selepas hujan membasuh.

Juga pekat tanah Eden di legam kulitmu.

 

(2026)

 

Di Taman Doa

Ganjuran

 

Malam berhenti di pucuk jarum jam

ketika doa-doa dilayarkan.

Ketika aku sejenak terpejam

sementara Candi di muka menatap tajam.

Lampu-lampu menabur cekam.

 

Tiada bangku 

hanya rerumputan menjalar gigil hingga lubuk

dan aku dipagut sepia tertunduk. 

Di sekitar tak ada warna, tapi swara-swara 

dari entah menyematkan peluk.

Dari tengkuk

aku kikuk 

daun cemara 

jatuh dan menepuk.

 

Malam di pucuk jarum jam

dan doa-doa tak tahu terempas ke mana.

Angin jarang kelana

ranting-ranting tak lagi bergeming.

Mengapa rumput tak menguning, 

mengapa aku sebisu hening, mengapa candi di muka jadi asing. 

 

(2026)

 

Satu Tetes Air Susu Moke

Aku jatuh terlelap

ke pangkuanmu, mama.

Pada akar-akar tunggang berambut

rumput beruban lumut.

Saat buah punting

menetes susu putih. Sewaktu 

bilah bambu mengalirkan bahasa mama

ke dalam sumsum-sumsum 

ingatan.

 

Ada pun anak-anak kampung

juga mencintai mama.

Menyiangi rerumput hingga 

hilang segala murung sejumput duajumput.

Sama hal cerita-cerita di jantung

kota Roma. Dengan asi

Lupa mengakar di tanah-tanahnya.

 

Lalu moke perlahan membening sebinar mata langit terik hari.

Dan kueja cinta pada musim yang 

mempertemukan kita.

Dengan lepuh yang menjilati  

punggung-punggung penyuling.

 

Lalu dari tempurung 

beranjak ke segelas sloki.

Di lain pertemuan, kita membikin lingkaran 

dan beribu kata tanpa arah mencapai telinga.

Putaran tak mengenal aba-aba,

cinta yang dikhianati angkuh kota.

 

Dan Susumu mama—

setetes moke itu, kehilangan cipta rasa.

Ketika kota mengasuhku dengan

tangan seorang tua yang menabur bintang-bintang 

pada lautan anggur merah.

Persis nasib Romulus dan Remus

yang telah digoreskan cakar serigala.

 

(2025) 

 

Penulis: Agusta Mario B. Nanga, lahir di Ende Flores-NTT. Kini sedang berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Sastra Indonesia semester 4. Aktif di Bohemian Club, Susastra UNY dan di Taman Baca Anak Ende Merdeka.

 

Check Also

Memakamkan Celcius serupa Benih Es & Puisi-Puisi Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *