Wayang untuk Generasi Alpha

Siapa bilang wayang identik dengan pertunjukan semalam suntuk. Siapa bilang wayang hanya untuk orang tua. Wayang juga bisa relevan dengan generasi muda hari ini, terutama generasi Alpha. Jejak Imaji melalui Festival Lomba Musikalisasi Puisi Wayang membuktikan hal tersebut.

Festival yang terdiri dari lomba dan workshop musikalisasi puisi bertema wayang ini telah sukses dilaksanakan pada 27 sampai 28 Juni 2026. Festival ini diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang usia, dari para remaja, dewasa hingga tua. Sejumlah 15 finalis bersaing menampilkan tafsir puisi bertema wayang yang dipadu dengan nada di atas panggung yang sama. Pada kompetisi tersebut, juara 3 diraih oleh YPC (Yang Penting Cair), juara 2 diraih oleh Wrahameru, juara 1 diraih oleh Notula X Seven, dan juara favorit dimenangkan lagi oleh YPC.

Dari peserta yang terpilih, terdapat satu grup yang mencuri perhatian. Mereka adalah Yang Penting Cair. Bukan. Ini bukan tentang uang setelah proyek selesai. Lebih dari itu. Yang Penting Cair (YPC) adalah sebuah grup yang diisi oleh Javier Narendrayudha Wienarjati, Gregorius Agung Adinata, Keishandra Citta Maharani, Gitari Laksmita Bhanurasmi, dan Vianny Rita Graciella. Lihat, tak ada nama Joko, Bowo, atau Susilo, bukan? Mereka adalah generasi kiwari yang lahir dan tumbuh di tengah laju pesat teknologi informasi.

Mereka masih berseragam biru-putih dari sekolah yang berbeda, yaitu SMP 8 Yogyakarta, SMP Negeri 1 Yogyakarta, dan SMP Kanisius Gayam. Menurut Lisa, orang tua dari salah satu personel, mereka dipertemukan di Taman Budaya Yogyakarta. Mula-mula belum terbentuk entitas YPC, tetapi setelah meraih kemenangan di Prambanan Jazz Festival khusus anak jadi momentum untuk menamai kegiatan bermusik mereka.

YPC bukan sekadar nama. Ia tercetus karena salah satu personel mengikuti sebuah kompetisi di Bali. Salah satu juri kompetisi tersebut adalah John Paul Ivan dari Boomerang. “Saat itu, terjadilah obrolan dan John Paul Ivan sering menyebut yang penting cair, yang penting cair,” tutur Lisa.

Musikalisasi puisi wayang merupakan hal baru bagi YPC. Puisi “Sukrasana” karya Budhi Setyawan dipilih berdasarkan konteks cerita, yaitu relasi kakak-adik antara Sukrasana dengan Sumantri yang relate dengan sehari-hari mereka. Menurut Lisa, selama proses mengikuti lomba musikalisasi puisi ini YPC belajar hal berbeda, mulai dari memilih puisi, menginterpretasi puisi, dan mengaransemennya. “Saya yakin ini bagus untuk YPC ke depannya. Mereka setidaknya selangkah lebih awal dibanding peserta lain (baca: peserta dewasa) untuk belajar ini semua (baca: musikalisasi puisi wayang),” pungkas Lisa.

Barangkali benar adanya bahwa nama adalah doa. YPC berhasil menyabet dua juara sekaligus. Mereka berhak membawa pulang uang sebesar Rp4.000.000. Namun, lebih dari sekadar cair, seperti yang diharapkan oleh Dhimas Bima Sofyanto selaku Ketua Panitia, festival ini dapat mengenalkan dan mendekatkan wayang kepada generasi muda. Baginya, nilai-nilai dalam kisah pewayangan, seperti keberanian, kemanusiaan, ketangguhan hingga ketulusan tidak berhenti di pementasan-pementasan wayang, tetapi terus mengalir dalam denyut nadi kebudayaan kontemporer. (ari)

Check Also

Inilah Jalan Bagi Anak Muda untuk Turut Serta Melestarikan Wayang

. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa wayang telah diakui UNESCO pada 2003 sebagai warisan tak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *