
Sebagaimana karya sastra naturalnya senantiasa berkelindan dengan proses ‘reproduksi’, begitu pula yang dialami karya klasik Homer (725-675 SM) yang berjudul “Odyssey.” Puisi epik dari masa Yunani klasik ini memiliki pengaruh yang luas dalam perkembangan sastra dunia. Ia menjadi cikal bakal DNA bagi banyak karya seni dan sastra dari masa ke masa. Cerita jalan panjang pulangnya raja Itacha ini direproduksi menjadi ilustrasi hiasan guci di Museum Metropolitan, lukisan Ulysses and the Sirens karya Waterhouse, hingga karya-karya media baru berupa film. Keberanian, cinta, intrik, perjuangan, dan macam-macam topik kemanusiaan yang digemari masyarakat menjadi premis yang ditawarkan oleh epos ini. Bahkan konon katanya, semakin banyak bukti berupa jejak perang trojan dan sisa-sisa artefak dari Itacha menunjukkan Odyssey lebih dari sekadar puisi gubahan Homer.
Bagi para penikmat sastra klasik atau peneliti filologi, mungkin “Odyssey” bukanlah sesuatu yang baru. Namun, para penikmat karya populer baru-baru ini mengenal Odysseus lewat film besutan Christopher Nolan (2026) dengan judul “The Odyssey.” Setidak-tidaknya mereka mengenal Odyssey lewat film “Troy” karya Wolfgang Petersen (2004). Kedua film ini dibintangi aktor dan aktris Hollywood kawakan yang sudah akrab di mata para penikmat karya populer. Terutama “The Odyssey” Christopher Nolan yang tidak hanya bertabur bintang blockbuster seperti Matt Damon dan Anne Hathaway, tapi juga bintang masa kini seperti Zendaya, Elliot Page, Tom Holland, Robert Pattinson, hingga rapper ikonik Travis Scott.
Barang tentu setiap interpretasi akan karya sastra selalu memiliki warna baru yang disesuaikan oleh masa. Lalu apa yang berbeda dari film “The Odyssey” karya Christopher Nolan yang lahir pada masa konotatif alias post-modern yang paling baru ini?
Redefinisi Nilai Maskulin dalam Kepahlawanan
Kepahlawanan seringkali diasosiasikan sebagai sesuatu yang gagah nan ajeg. Sehingga seringkali hal ini dikaitkan dengan sosok lelaki perkasa dengan seperangkat senjata. Memenangi peperangan adalah tolak ukur maskulinitas tak peduli timbulnya kerusakan dan noda akan nilai kemanusiaan yang jadi akibatnya. Boleh dikatakan bahwa fokus penonton saat menonton “Troy” (2004) adalah adegan aksi peperangan trojan. Film ini menampilkan betapa gagahnya Achilles, Odysseus, dan Agamemnon bersama pasukannya menaklukan Troya. Picik dan brutal merupakan pemandangan yang akrab akan kengerian nilai maskulinitas tokoh-tokoh protagonist yang dielu-elukan menjadi pahlawan. Sementara itu “The Odyssey” memfokuskan perjalanan panjang sosok Odysseus yang mempengaruhi pengembangan karakternya yang mengalami perubahan secara perlahan.
Di banyak karya interpretasi epos Homer, Odysseus berlagak demikian angkuh saat bertemu dengan Polyphemus hingga ia menyebutkan namanya saat mengalahkan sang cyclops putra Poseidon ini. Sebaliknya, Odysseus versi Christopher Nolan tidak menyebutkan identitasnya dan bersikap congkak. Ia digambarkan sebagai pahlawan yang memimpin pasukannya dengan strategi cerdik untuk terbebas dari perangkap Polyphemus. Sosoknya demikian polos dan bertindak demi keselamatan kolektif bukan validasi keakuan.
Redefinisi sosok pahlawan ini sangat kentara dengan adanya sosok Athena yang senantiasa mengiringi perjalanan Odysseus. Dalam ingatan Odysseus, ternyata sosok Athena yang direpresentasikan oleh aktris Zendaya adalah sosok gadis Troya yang dieksekusi tepat di depan patung Athena yang juga ikut dipenggal pada waktu yang sama. Sosok ini bukan muncul sebagai dewi peperangan yang memberi pujian akan kemenangan Odysseus, namun lebih seperti ingatan traumatis Odysseus yang maskulin akan sosok feminin yang menjadi korban peperangan. Sosok Athena yang tak banyak bicara ini pun selalu muncul di titik krusial seolah menyesali setiap keputusan yang diambil Odysseus.
Taubat dan Penebusan
Babak klimaks dari kisah klasik ini adalah kembalinya Odysseus ke Itacha dan menghabisi para pelamar Penelope. Nolan cukup manusiawi menggambarkan adegan-adegan dalam babak ini jika dibandingkan dengan versi Homer. Keputusan untuk menghabisi Melanthius lebih dari sekadar pemuda yang berusaha mengacau kestabilan istananya dan merayu istrinya, Penelope. Adanya sosok Sinon –yang sebetulnya tidak ada di versi Homer—menjadi alasan yang cukup kuat untuk menjustifikasi tindakan Odysseus. Kecurangan Melanthius akan dirinya diceritakan Sinon yang bersua dengan Odysseus di neraka. Sinon seolah menuntut pembalasan akan jasa heroiknya gugur di medan perang. Sehingga adegan penghabisan Melanthius valid menjadi sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan.
Homer juga menggambarkan adegan penghabisan para pelamar ini dengan sangat brutal. Odysseus tidak berhenti saat para sisa pelamar dan pelayannya yang berkhianat bertekuk lutut. Telemachus pun tidak digambarkan sebagai penerus tahta yang bersih dari darah. Mereka berdua bertarung bersama untuk membantai para pelamar tanpa sisa dan menggantung para pelayan yang berkhianat. Nolan seolah menanamkan nilai kemanusiaan dan hak asasi yang jauh baru kita kenal di abad ini.
Dalam versi Homer, tak ada pandangan bijak Odysseus akan penggulingan dirinya oleh keluarga para pelamar dan rasa bersalah akan pasukannya yang gugur sehingga ia memutuskan untuk menjadi seorang eksil. Nolan seolah menawarkan premis bahwa pemenang perang tak selamanya perlu diglorifikasi. Odysseus memiliki luka dan rasa sesal yang menahun. Aral rintangan yang ia hadapi selama perjalanan pulang memberikan pemahaman bahwa ini adalah proses penebusan dosa Odysseus. Ini bukan tentang tantangan dari satu checkpoint ke checkpoint lainnya. Sweet ending berupa berlayar ke arah matahari bersama istrinya merupakan kulminasi dari sosok Odysseus yang berserah melucuti zirahnya sebagai raja atau pahlawan yang kuat.
Penulis: Windy Shelia Azhar adalah editor dan penulis lepas. Ia lahir dan besar di Bangka, lalu meniti karier di Bali. Tulisannya berupa esai dan cerita pendek berkutat dengan isu gender, lingkungan, dan kebahasaan telah diterbitkan di berbagai medium. Salah satu cerita pendeknya terpilih dalam Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2024.
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan