. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa wayang telah diakui UNESCO pada 2003 sebagai warisan tak benda. wayang dianggap sebagai suatu media strategis untuk menyampaikan pesan dan nilai-nilai tertentu. Sebagai pertunjukkan, wayang bisa dinikmati oleh semua kalangan karena berisikan cerita yang menarik untuk diikuti, kendati mengandung kedalaman makna yang kompleks. Pengakuan dari UNESCO menunjukkan bahwa wayang sudah tidak lagi berada pada …
Read More »ketiketik.com
Peta Arah Pendidikan Kita Hendak ke Mana, sih?
Komu, Norris, Kita: Tentang Kebersamaan Panjang dan Pertemuan Teramat Ringkas
Bagaimana Bunyi Saudade Hutan Bambu – Puisi-Puisi Dimarifa Dy
Alergi Sastra Pop & Salepnya
Baru-baru ini muncul tren “date cancelled” pembaca yang membaca karya-karya Tere Liye (TL). Sebelum menyinggung soal itu, izinkan saya menggali ingatan & menyajikan beberapa persoalan. Pertama, karya-karya TL digolongkan Sastra Indonesia Populer (SIP). Bacaan SIP—bukan hanya karya TL saja—seringkali dijauhi atau diejek oleh pembaca sastra serius/kanon/bertendens. Apa perbedaan SIP & Sastra Indonesia Kanon (SIK)? Saya takkan menjawab & mengulangnya di …
Read More »Menanam adalah Melawan: Punk, Tani, dan Gunungkidul Sebagai Ruang Resistensi
Dugaan Penyimpangan Implementasi Perpres No. 118 Tahun 2025 dalam Penggunaan Anggaran MBG untuk Pembelian Motor Listrik
Cerita sebagai Tuan Rumah: Menimbang Bahasa dalam Pariwisata
Sisa Hujan Kecil, Kenyamanan Ganjil, & Setengah Rembulan yang Gigil
Beberapa Jenis Logical-Fallacy yang Digunakan Para Awam dan Para SJW dalam Kasus Pembacokan di UIN Suska Riau
“Human is condemned to be free!”. —Jean Paul Sartre dalam Being and Nothingness.
Read More »
Ketiketik.com Mengetik dan Menalar Perubahan